Nama Tokoh:
1. Aalubi
2. Nona SI
3. Nona SY
4. Nona An'imah
5. Nona Rezza
6. Nona Nia
7. Nona Lili (berperan sebagai dr. Lili)
8. Yeti.
Jalan ceritanya berawal di suatu sore yang indah. Seorang gadis remaja berpakaian rapi berjalan menuju rumah seseorang. Ia berjalan menuju rumah temannya.
Sesampainya ia dirumah temannya, ia mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, "Assalamualaikum nona Sinta, nona Sinta. Bukain pintu". Tapi temannya tidak kunjung membukakannya pintu. Ia pun mulai menggerutu karena kesal tidak dibukakan pintu. "Dasar nona Sinta dia pasti tidak mendengarku. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya nona SI pun membukakannya pintu dan memeluk Aalubi secara tiba-tiba. "Eh nona Altāf. Kamu ini lama amat sich. Kita udah nunggu kamu dari tadi loh," kata nona SI pura-pura kesal. " Oh sorry ya nona. Biasalah. Jalanan dari rumahku ke rumahmu itu macet banget kalau sore." kata Aalubi membela diri. An'imah memasang muka cemberut melihat kelakuan mereka berdua seraya berkata, "eh kalian ini kok ngobrol berdua sih aku kok nggak diajak?" Aalubi kemudian menyapa An'imah. "Eh nona An'imah. Kamu ternyata udah dateng duluan ya. Selalu ontime datengnya kalau udah janjian sama temen. Salut aku," kata Aalubi. An'imah berkata dengan menyindir Aalubi,"iya, pastinya dong nona. Ya kan nona Sinta? Gak kayak kamu mesti telat melulu kalau janjian sama kita." "Udah-udah gak usah dibahas lagi. Yuk kita ngobrolnya di dalam aja dech. " kata nona SI memecah suasana.
Di sebuah kantor, ada tiga orang yang sedang bekerja. Salah satu dari mereka yaitu nona Nia tampak sedang berjalan terburu-buru sambil membawa banyak buku tebal. Ternyata tanpa sengaja ia menyenggol salah seorang temannya sampai terjungkal hingga bahunya pun jadi memar.
"Aduh maaf ya Shif, jadi berantakan nich. Sorry ya," kata nona Nia memelas. "Iya gapapa kok. Tapi sorry ya aku gabisa bantu. Aku mau keluar dulu soalnya ada yang harus kukerjakan," kata nona SY seraya berlalu pergi begitu saja. Yeti yang menyaksikan kejadian tersebut dari kejauhan kemudian menghampiri nona Nia. "Sini-sini aku bantu nona. Kamu gapapa kan? Lagian buat apa sih kamu ngebawa buku-buku sebanyak itu. Orang kamu baca bukunya cuma kadang-kadang ajah kan kalau sempat," ujar Yeti membercandai nona Nia seraya membantu nona Nia membereskan buku-buku yang dibawanya yang berserakan di lantai. Habis kejadian itu, mereka pun kembali ke bangkunya masing-masing.
Di ruang tamu sebuah rumah, terlihat dua orang remaja putri sedang berbincang-bincang santai. "Eh, kira- kira gimana ya kabarnya ICH sekarang?" tanya nona SI iseng. "Ehm. Kalau kabar dia sekarang sich aku nggak tau, ya. Memangnya aku siapanya dia?" Aalubi bertanya balik ke nona SI karena dia agak kesal ditanya mengenai kabar ICH. "Alaah nona Altāf, kamu jangan pura-pura nggak tau, ya. Orang kamunya aja suka kok sama dia. Tuh jerawatmu buanyaaakk, gede- gede lagi." Sindir nona SI. "Eh kamu jangan sembarangan ya, nona. Atau jangan-jangan kamu ya yang suka sama ICH. " kata Aalubi sinis. Nona SI pun menyentuh jerawatnya Aalubi karena rasa penasarannya. Aalubi pun bilang sakit ke nona SI saat jerawatnya disentuh sama nona SI. "Eh nona Sinta, jangan sentuh jerawat ku. Sakit tau," rintih Aalubi. Ternyata jerawatnya Aalubi pecah saat disentuh nona SI, makanya Aalubi pun merasa pipinya kesakitan. Nona SI pun meminta maaf kepada Aalubi karena sudah menyentuh jerawatnya. Nona SI pun menyuruh Aalubi pulang untuk mengobati bekas jerawatnya supaya tidak infeksi.
Sambil bercermin, Aalubi menyentuh luka bekas jerawatnya. "Eyaampuunn, sakit banget nie lukanya." seraya menahan sakit. Semenit kemudian ia merasakan pusing yang luar biasa lalu jatuh ke lantai dan pingsan. Sesaat kemudian nona An'imah pun muncul. Ia kaget melihat Aalubi pingsan dan menggoyang-goyangkan tubuh Aalubi seraya berkata, "nona Altāf... nona Altāf... Kamu kenapa nona?" Akhirnya nona An'imah pun menelpon ambulans dan Aalubi dibawa ke rumah sakit.
Keesokan harinya, saat sedang sibuk mengerjakan sesuatu tiba-tiba nona Nia menerima telpon secara mendadak di kantornya. Ia pun menerima telpon tersebut dan bertanya, "Iya halo, selamat siang. Benar ini Satreskrim Balai Kota. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Tapi pada saat itu jaringan telepon sedang lowbat sehingga suaranya hanya terdengar terbata-bata. Nona Yeti pun menerima telpon. "Maaf, apakah anda bisa mengulang pembicaraan anda?" sahut Yeti. "Apa? Kasus pembunuhan? Dimana kejadiannya?" tanya Yeti. Ternyata si penelpon adalah nona An'imah. "Kasus pembunuhan! Ada kasus pembunuhan!" teriak nona Yeti.
"Dasar payah! Nanti pasti heboh lagi!" Gerutu nona SY.
Setelah menerima telepon tersebut, ketiga orang itu pun bergegas menuju TKP yakni di rumahnya Aalubi.
Setibanya di sana, nona Nia pun memotret tempat tersebut. Di sana dia tidak menemukan apa-apa terkait pembunuhan. Yeti menganggap bahwa kematian Aalubi bukan karena dibunuh, sebab tidak ada jejak-jejak apapun yang terkait dengan pembunuhan. Tapi nona Nia ngotot dan yakin banget kalau kematian Aalubi itu disebabkan karena dibunuh. Akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk menuju ke rumah sakit karena hasil otopsi sudah keluar. Juga untuk lebih memastikan mengenai kematian Aalubi yang sebenarnya.
Setibanya di rumah sakit, mereka pun langsung menuju ruang otopsi. Di sana ia sudah disambut oleh dr. Lili dan asistennya. Nona Nia pun langsung nanggap nona Lili karena sudah lama tak berjumpa. "Halo nona Lia, lama tak jumpa, " kata nona Nia. "Bagaimana kabarmu nona?" tanya nona Nia. "Aku baik-baik saja kok nona. " jawab nona Lili. Nona SY melihat nona Rezza yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. "Nona Lia, itu siapa?" tanya nona SY seraya menunjuk nona Rezza. "Ohw, itu asistenku." kata Lili. "Za, Rezza! Kesinilah!" teriak Lili seraya memanggil Nona Rezza. "Ini lho, kawan lamamu dateng." kata Lili. Nona Rezza pun menghampiri nona Nia, nona SY, dan nona Yeti. "Hai. Aku nona Rezza. Teman lamamu. Masih ingat kan?" tanya Rezza kepada SY, nona Nia, dan Yeti.
"Oh tentu. Aku masih mengingatmu karena kamu adalah siswi paling cantik ketika di SMP dulu. " kata nona Nia.
"Apakah kamu merindukanku, nona?" tanya nona Nia dan Yeti.
"Oh tentu. Aku sangat merindukan kalian bertiga." kata nona Rezza.
"Sudah-sudah jangan ngobrol mulu. Nanti dr. Lia terganggu. Lagian, kalian ini sebenarnya mau reunian apa mau kerja sih." kata nona SY.
"Eh iya, maafkan kami ya, dr. Lili. Maaf kalau kami mengganggu ketenangan mu," kata Yeti dan nona Nia.
"Oh no problem kalau soal itu. Malahan aku cukup senang karena kapan lagi kita bisa bertemu kalau tidak sekarang. Karena setelah kuhitung-hitung sudah lebih dari 7 tahun kita tidak bertemu. Lagipula reunian kita ini kan ada kaitannya sama pekerjaan juga."kata dr. Lili memecah suasana.
"Kami kemari hendak menanyakan bagaimana hasil otopsi nya. Karena kudengar hasil otopsi nya sudah keluar." kata nona Nia, Yeti, dan SY. Yeti pun memperhatikan mayat Aalubi sambil merinding. Dan nona Nia terus saja memotretnya.
"Sejauh ini aku tidak menemukan hal mencurigakan pada mayat korban seperti bekas luka ataupun cekikan. Dan sempat ku lakukan MRI scan untuk memeriksa seluruh organ dalam tubuhnya, tapi ternyata setelah kulihat organ tubuhnya normal-normal saja. Tidak kutemukan suatu penyakit yang menyebabkan korban meninggal dunia secara
mendadak. " kata dr. Lili.
"Oke terima kasih dr. Lia. Kami permisi dulu. Jika ada sesuatu yang lain yang kau temukan tolong hubungi kami ya. Assalamu alaikum. " kata nona Nia, SY, dan Yeti seraya beranjak dari kursi ruangan tersebut. "Daaaahhh. " mereka bertiga pun melambaikan tangan kearah dr. Lia lalu meninggalkan ruangan.
Setelah meninggalkan Rumah Sakit, mereka bertiga pun merundingkan masalah tersebut. "Ini enaknya gimana nih? Apa yang harus kita lakukan?" tanya nona Nia.
"Sebaiknya kita segera menghubungi kerabat terdekat korban. Nona Yeti, aku minta tolong ke kamu. Tolong cari info mengenai siapa saja orang yang paling dekat dengan korban. " usul nona SY.
"Aku sudah mencari info tentang kerabat terdekat korban. Namanya Sinta Ayu Almutammimah. Dia tinggal di Perumahan Pakal Residence Blok DX nomor 6. Lebih baik kita ke sana dan kita wawancarai dia. " kata Yeti.
Nona SY, Yeti, dan nona Nia akhirnya mendatangi rumah nona SI.
Setibanya disana, mereka mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Nona SI pun menjawab salam dari mereka dan membukakan pintu.
"Apakah ini benar dengan saudari Sinta?" tanya nona SY.
"Ya benar, dengan saya sendiri. Kalau boleh tau, anda semua ini siapa ya?" kata nona SI.
"Kami bertiga dari Satreskrim Balai Kota." jawab mereka seraya menunjukkan kartu identitasnya. Tapi Yeti kebingungan mencari kartu identitasnya, dia lupa menaruh kartunya di mana.
"Eh, kartuku ada di mana ya? Aku lupa nih. " tanya Yeti.
"Jangan kuatir nona, ini kartumu ada di aku. Soalnya tadi sempat jatuh tapi kamu nggak tau makanya aku simpan aja kartunya biar nggak hilang " kata nona Nia seraya menenangkan Yeti yang kebingungan.
"Oh gitu. Yasudah masuk dulu aja. Anda duduk dulu. Aku akan mengambilkan minum untuk kalian semua," kata nona SI.
"Iya. Terima kasih." kata mereka bertiga kemudian mereka duduk di kursi.
"Kalau boleh tau ada perlu apa ya anda semua datang kemari?" tanya nona SI.
"Kami ingin mewawancarai anda mengenai kematian teman anda, saudari Altāf. " jawab SY dengan meyakinkan.
"Apa? Altāf meninggal? Tapi saya kok nggak tau, ya. Nggak ada berita apa apa tuh tentang si Altāf. " kata nona SI kaget.
"Lho, anda ini bagaimana sih? Kan anda itu teman terdekatnya. Kok anda malah nggak tau kalau teman anda meninggal dunia. " tanya nona SY heran.
"Nggak. Ini nggak mungkin. Ini pasti bohong! Nggak mungkin! Nona Altāf! " teriak nona SI.
"Kalau anda nggak percaya silahkan anda datangi rumahnya. Mayatnya sengaja belum kami kuburkan agar kamu bisa melihatnya." kata nona Yeti.
"Sudah jangan berkata yang tidak-tidak. Lebih baik anda pergi saja sekarang!!" kata nona SI kesal.
"Oke. Kami akan pergi, kami permisi dulu. Tapi kami memberimu peringatan. Kamu harus hati-hati karena kamu bisa saja tertuduh sebagai terdakwa atas kasus ini." kata nona Yeti, nona Nia, dan nona SY. Mereka pun berlalu pergi meninggalkan rumah nona SI.
Karena hasil otopsi sudah diketahui oleh tim Satreskrim Balai Kota, mayat Aalubi pun dikuburkan karena bau busuknya sudah sangat parah.
Tiba-tiba saja nona SI merasakan gatal di sekujur tubuhnya. "Ini kenapa ya. Badanku kok gatal semua? Perasaan aku barusan mandi deh tadi" pikir nona SI sambil menggaruk badannya.
"Yeti, apakah kamu sudah menemukan data tentang kerabat korban yang lain?" tanya nona SY.
" Oh sudah kok nona Shifa. Yang satunya lagi namanya An'imah Maulida Ahadyah. Dia tinggal di Jalan Raya Banjar Sugihan no. 148. " kata nona Yeti. "Ayo kita datangi rumahnya." kata nona Nia.
Tiba dirumah An'imah, Mereka pun mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Semenit kemudian An'imah menjawab salam mereka dan membukakan pintu. Mereka pun menunjukkan kartu identitas dan menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Oh. Kalau begitu mari silakan masuk. Anda bisa duduk dulu, saya akan mengambilkan anda minum." kata nona An'imah seraya mempersilahkan nona SY, Yeti, dan nona Nia untuk duduk di kursi.
Kemudian nona Nia dkk. pun mulai mewawancarai An'imah.
"Kami mau tanya, kalau tidak salah anda ya yang pertama kali menemukan saudari Altāf dalam keadaan meninggal. Dan anda juga yang menelpon kami waktu itu. " tanya nona SY dan nona Nia.
"Iya benar. " jawab nona An'imah.
"Kalau begitu bisa anda ceritakan apa yang terjadi sebelum saudari Altāf meninggal?" pinta nona SY, nona Nia, dan Yeti.
"Jadi begini, mbak. Saya ini sudah lama berteman dengan saudari Altāf. Dua hari sebelum ia meninggal saya sempat meminjam flashdisk miliknya untuk mengerjakan tugas kuliah. Pada saat kejadian, sebenarnya saya mendatangi saudari Altāf karena ingin mengembalikan flashdisk miliknya. Tapi pada saat itu saya melihat nona Altāf berlari-lari seperti merasakan sesuatu yang entah kenapa ia sembunyikan. Lalu, karena takut terjadi sesuatu, saya pun menghampirinya untuk memastikan keadaan dirinya. Tapi setelah saya dekati ternyata dia sudah pingsan. Saya pun panik lalu saya menelpon ambulans untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi, setibanya di rumah sakit, dia meninggal," ratap An'imah.
"Terimakasih atas informasi anda, kami permisi dulu. Tapi sebelum kami beranjak pergi dari sini, kami memperingatkanmu. Kamu harus berhati-hati sebab kamu juga bisa saja tertuduh sebagai tersangka atas kasus ini." kata nona SY dkk. Lalu mereka pun berlalu pergi.
Nona SY, nona Nia dan Yeti pun kembali ke kantor mereka. Mereka masih saja memperbincangkan masalah tersebut.
"Menurut kalian berdua, diantara dua orang tersebut siapa yang paling mungkin menjadi pembunuh nona Altāf?" tanya nona Nia kepada kedua temannya.
"Entahlah, aku tidak tau. Aku belum bisa menebaknya dengan tepat." jawab nona Yeti.
"Kalau menurutmu gimana, Shif?" kata nona Nia mengalihkan perhatian nona SY dari koran yang dibacanya. "Entahlah"...
kata SY
"Kalau menurutku pelakunya pasti si Sinta. Masa' iya dia nggak tau kalau teman terdekatnya meninggal dunia. Itu pasti bohong! Karena dia tidak mau diakui sebagai pembunuh. Dan yang pasti, motifnya itu karena dia iri melihat nona Altāf punya pacar sedangkan dia tidak kunjung punya pacar hingga saat ini. " jelas nona Nia.
"Ah, kamu itu kebanyakan mengkhayal. Memang kamu tau dari mana?" sindir nona SY.
"Lihat aja nih foto mereka berempat. Ini ada sosok laki-laki yang berpose menggandeng nona Altāf disebelahnya. Ku asumsikan dia ini pacarnya si Altāf soalnya sosok ini dekat banget sama Altāf. Dan lelaki ini juga sangat dekat dengan kawan Altāf. Terus disebelah kanannya ini sepertinya nona An'imah. Yang di tengah-tengah Itu Nona Altāf sama pacarnya. Terus yang paling kiri itu nona Sinta. Coba lihat wajah nona Sinta, dari senyumnya sepertinya dia terlihat tidak senang. Lalu coba lihat An'imah, dari wajahnya dia terlihat sangat santai. " kata nona Nia seraya menunjukkan sebuah foto.
"Hey! Dapet dari mana kamu foto itu, kok nggak bilang-bilang sih sama kita!!" cecar Yeti dan SY.
"Dari nona An'imah! Aku melihatnya di meja pajangan rumah An'imah! Tadi sebelum pulang aku memintanya dari An'imah untuk mempermudah kita mencari petunjuk mengenai kasus ini. Barangkali dari foto ini kita bisa dapat petunjuk." kata nona Nia.
"Tapi kamu jangan bicara sembarangan, nona Nia. Kamu jangan asal nuduh, nona. Barangkali bukan Sinta pelakunya. " kata Yeti sambil membuka bukunya.
Nona SY jengah melihat nona Yeti dan nona Nia karena dari tadi mereka berdua cuma ngobrol-ngobrol gak jelas.
"Sudah-sudah jangan ngobrol mulu sama baca buku gak jelas. Mendingan kalian berdua selidikin aja kasus ini, aku mau keluar dulu!!" Kata SY seraya berlalu pergi.
"Tunggu Shifa, ini kan lagi jam kerja kamu mau ke mana?" tanya Yeti dan nona Nia.
"Ah! Itu bukan masalah yang penting, ini bukan urusan kalian! Udah aku mau pergi dulu!" jawab SY seraya keluar ruangan.
Melihat kelakuan SY seperti itu nona Nia pun kesal dan ngoceh sendiri, "dasar nona Shifa!! Dari dulu kok loe gak berubah-berubah. Selalu aja mementingkan kepentingan diri sendiri. Beugh! Takdirku kok konyol banget sih. Gue kenapa dikasih temen yang annoying kayak loe!!"
" Sudahlah nona Nia, loe nggak boleh berbicara seperti itu. Bagaimanapun dia itu kan teman kita juga. Udahlah, kita harus ngertiin dia. Emang dia sukanya kayak gitu, terus kita bisa berbuat apa?" kata Yeti menyabarkan nona Nia yang masih kesal dengan kelakuan nona SY.
Dan tepat keesokan harinya, tim penyelidik di Satreskrim Balai Kota tiba-tiba mendapat berita bahwa nona SI juga meninggal secara mendadak. Tim penyelidik pun segera mendatangi dr. Lili untuk meminta laporan mengenai kematian Nona SI.
"Sama seperti nona Altāf, aku juga tidak menemukan hal mencurigakan pada nona Sinta. Tidak ada keganjilan apapun pada diri Sinta, seperti bekas luka ataupun bekas cekikan di tubuhnya. Dan, setelah kulakukan pemeriksaan dalam melalui MRI scan, tidak kutemukan suatu penyakit yang membuat korban Sinta meninggal dunia. Semua organ tubuhnya normal. "
papar nona Lili.
"Baiklah nona Lili. Kami pamit dulu. Terimakasih atas laporanmu." kata nona Nia dan Yeti secara bersamaan.
Setelah itu, tim penyelidik mendatangi An'imah untuk mengunjunginya.
" Saya tidak menyangka, kedua teman saya meninggal dalam waktu yang berdekatan, dan mereka berdua mati secara mendadak. " kata An'imah seraya menangis sedih. "Saya memohon kepada anda tim penyelidik untuk segera menemukan siapa pelaku pembunuhan teman saya," kata An'imah memelas.
"Kamu yang tabah dan ikhlas ya, nona An'imah. Kamu doakan saja mereka agar mereka tenang di alam sana. Untuk masalah penyelidikan siapa pelaku pembunuhan ini, kau tenang saja nona. Itu sudah menjadi tugas kami. Kami akan melakukan apa saja agar pelakunya bisa tertangkap, " kata nona Nia dan Yeti seraya menenangkan An'imah yang masih syok akan kematian kedua temannya.
Tim penyelidik kembali ke kantor dan memperbincangkan kasus tersebut untuk yang kesekian kali.
"Ugh! Kasus ini rumit sekali! Aku yakin banget kalau Sinta itu pelakunya lalu dia bunuh diri agar tidak diketahui bahwa dia adalah pembunuhnya," keluh nona Nia seraya tetap mempertahankan pendapatnya bahwa Aalubi itu mati dibunuh, yang pelakunya adalah nona SI. Lalu nona SI bunuh diri agar tidak diketahui bahwa dia adalah pelaku pembunuhan Aalubi.
"Enggaklah! Nona Lia kan sudah bilang kalau pada tubuh korban tidak ditemukan keganjilan apapun, dan tidak ada masalah pada organ tubuhnya. Lagipula pemeriksaan itu kan sudah dibuktikan dengan scan MRI. Tidak mungkin pemeriksaan dengan scan MRI ada kesalahan. Mungkin kasus ini tidak ada pembunuhnya, " sanggah Yeti.
"Ah, kamu ini ada-ada saja deh Yeti. Pasti ada laahh pembunuhnya, " kata nona Nia.
"Entahlah!" kata Yeti sambil menulis sesuatu di diary nya.
"Sudah-sudah cukup!! Nggak usah diperdebatkan lagi! Udah, aku mau keluar dulu!!" kata SY sembari meninggalkan ruangan.
Selama beberapa hari, tim penyelidik terus menyelidiki kematian Aalubi dan nona SI. Tetapi, mereka tidak kunjung menemukan pelaku pembunuhannya.
Di suatu malam, saat hari sudah hampir tengah malam, nona SY datang ke kantor dan melihat Yeti serta nona Nia hanya bersantai-santai saja di kantor. SY pun marah - marah.
"Hey! Apa-apaan sih kalian ini! Kenapa kalian tidak bekerja, hah!!" katanya sambil membentak nona Nia dan Yeti.
"Kami sudah bekerja dengan baik kok nona Shifa. Kami cuma ingin beristirahat. Soalnya ini udah tengah malam," sanggah Yeti dan nona Nia.
"Kalian ini! Masa' iya ada kasus yang serumit ini kalian cuma santai-santai doang kayak gini! Dasar tolol! Oiya, dan kamu nona Nia!! Perbaiki dong cara kerjamu. Tuh kerjaanmu amburadul semua," bentak SY ke nona Nia dan Yeti.
Yeti yang syok melihat pertengkaran diantara mereka pun mencoba melerai sembari berdiri, "nona Shifa!! Cukup!! Hentikan perlakuan loe kepada kami!! Kami sudah muak dengan perlakuan loe yang seperti itu kepada kami!! Loe bilang apa?? Kami gak becus dengan pekerjaan kami!! Eh, loe tau gak sih kalau kami itu lembur sampai beberapa malam hanya karena menyelesaikan kasus yang serumit ini!! Sedangkan loe sendiri kemana selama ini, hah?? Loe tuh bisanya cuma jalan-jalan ngluyur nggak jelas!!" bentak Yeti sambil memukul meja dengan penggaris kayu.
"Eh! Loe jangan sembarangan ya! Gue tuh kerja,
Yeti!!" kata SY kesal.
"Eh! Kenapa sih loe itu selalu egois! Sukanya mementingkan kepentingan diri sendiri! Bisanya cuma nyuruh- nyuruh doang!"
"GUE JUGA KERJAAA, YETIII!!!" kata SY menggerutu kepada Yeti.
"Apa kerjaanmu? Cuma keluyuran nggak jelas! Sebaiknya orang egois sepertimu mati saja!" keluh Yeti.
Habis berdebat berdua, nona Yeti dan nona SY meninggalkan kantor. Dan, nona Nia pun sendirian di kantor.
"Hey! Hey! Ini jadinya gimana nih! Gue harus memihak siapa nih? Diantara mereka berdua siapa ya yang salah?" gerutu nona Nia. Karena sudah tengah malam, ia pun memutuskan untuk pulang saja.
Keesokan harinya, di kantor, nona Yeti dan nona SY tak saling sapa satu sama lain. Mereka masih saja bertengkar. Dan, nona Nia pun jadi kebingungan untuk menyatukan mereka berdua.
Nona SY beranjak pergi dari ruangannya dan pergi ke taman dekat rumahnya. Ia duduk di kursi taman sambil memainkan handphonenya. Ia berpikir, "apakah aku harus meminta maaf pada Yeti? Kemarin aku telah bersikap kasar padanya. Ah, tidak! Dia yang salah, soalnya dia duluan yang marah kepadaku. "
Tetapi tiba- tiba dia merasakan tangannya perih dan gatal. Saat melihat tangannya, ternyata ada seekor lebah sedang hinggap di tangannya.
Keesokan harinya, nona Nia terheran- heran melihat nona SY datang terlambat biasanya dia yang paling duluan datang ke kantor.
"Eh! Yeti, coba deh lihat nona Shifa! Tumben-tumbenan sih dia datang terlambat biasanya kan dia duluan yang datang, " kata nona Nia heran.
"Ah, biarin aja! itu bukan urusanku! Aku sudah nggak peduli sama si egois itu!" kata Yeti kesal.
"Lho, kamu kok gitu sih nona Yeti? Dia kan temen kita juga." kata nona Nia menyabarkan Yeti.
"Biarin aja! Toh, tanpa bantuan kita dia juga sudah bisa kok memecahkan kasus tersebut seorang diri! Begitupun dengan aku. Aku juga bisa kok memecahkan kasus tersebut seorang diri tanpa bantuan dia. Nih, aku sudah tau mengenai kejadian yang sebenarnya," jawab Yeti.
"Benarkah?" tanya nona Nia. "Tolong dong, ceritakan padaku apa yang kamu ketahui. Please Yeti." pinta nona Nia.
"Jadi, sebenarnya yang menyebabkan mereka meninggal adalah jerawat Medicuss Pritus Vendus, jerawat yang dapat menyebabkan kematian. Aku tau mengenai hal tersebut karena aku sempat melihat foto nona Altāf yang masih hidup, dia punya jerawat yang besar. Tapi saat dia meninggal, jerawat itu menghilang.
Padahal foto itu diambil sehari sebelum kematian nona Altāf. Jadi kesimpulannya jerawat itulah pembunuhnya. Jerawat itu mengandung virus Vendus xxx05 , salah satu virus penyebab kematian yang paling berbahaya nomor satu di dunia. " papar Yeti.
"Kalau begitu kita harus memberitahukan ini pada nona Shifa," kata Yeti.
"Ah gausah deh. Biar dia yang cari tau sendiri!" kata Yeti dengan ekspresi masam.
"By the way, kira-kira dari mana ya asal virus itu?" tanya nona Nia penasaran.
"Ehm, entahlah. Aku masih belum tau. Ntar aku cari tau lagi deh. "
Tiba-tiba handphone nona Nia berdering.
"Halo. Iya saya Nia. " nona Nia pun mengangkat telpon.
"Apa? Shifa meninggal!"
Yeti yang penasaran langsung menanyakan kepada nona Nia ada apa sebenarnya kok telponnya dia berdering secara mendadak.
"Shifa meninggal, Yeti!" kata nona Nia sambil menangis.
Akhirnya Yeti dan nona Nia datang ke rumah nona SY. Seusai pemakaman nona SY, nona Lili mendatangi nona Yeti dan nona Nia.
"Ada sesuatu hal yang penting yang harus ku sampaikan pada kalian, " kata nona Lili membuka pembicaraan.
"Memangnya kenapa, nona. Apa yang mau kau sampaikan kepada kami?" tanya Yeti dan nona Nia.
"Apakah kalian tau Nona Shifa meninggal karena apa?" tanya nona Lili.
"Tidak, kami belum mengetahuinya, nona. Coba jelaskan apa yang kamu ketahui. Please!" kata Yeti.
"Dia meninggal karena terkena sengatan lebah. Dia alergi sengatan lebah, " kata nona Lili.
"Alergi sengatan lebah? Apakah ada orang yang meninggal karena sengatan lebah?" tanya nona Nia penasaran.
"Begini, nona Nia. Bagi sebagian orang, satu sengatan lebah saja bisa membunuhnya. Namun, hanya orang yang alergi sengatan lebah saja yang bisa terbunuh karena sengatan lebah. " papar nona Lili.
"Lalu bagaimana kejadiannya sehingga ia bisa meninggal?" tanya Yeti.
"Aku tidak tau persis bagaimana kejadiannya, nona. Namun, sewaktu aku hendak mengunjungi rumahnya, kulihat ia sudah tergeletak tak sadarkan diri di rumahnya. Lalu, saat ku periksa denyut nadinya ternyata sudah tidak berdenyut lagi. Sehingga dapat ku pastikan bahwa ia sudah meninggal. Dan, aku juga melihat ada bekas luka sengatan lebah. Jadi ku simpulkan penyebab kematiannya nona Shifa adalah karena sengatan lebah," kata nona Lili.
"Oh begitu, ya." kata Yeti dan nona Nia.
"Oh iya ada satu hal lagi yang mau ku sampaikan," kata nona Lili yang mau menyelesaikan kasus tersebut berdasarkan pandangannya.
"Aku menemukan ini di rumah nona Shifa," kata Lili sambil menyerahkan sebuah toples plastik kepada nona Nia dan Yeti.
"Apa isinya?" tanya Yeti dan nona Nia.
"Begini nona, aku sudah menemukan asal muasal dari virus Medicus Pritus Vendus itu. " kata nona Lili.
"Hah? Bagaimana kau bisa tau nona?" kata nona Nia kepada Lili.
"Baiklah, akan kuceritakan! " kata nona Lili. "Jadi, penyebab kematian nona Althaf Nabilah yang pada awalnya diduga akibat pembunuhan, tapi ternyata itu salah. Ternyata jawaban yang benar mengenai penyebab kematian nona Altāf adalah karena jerawat Medicus Pritus Vendus itu. Nona Shifa mengetahui soal itu karena tanpa sengaja ia melihat buku catatan Yeti yang bertuliskan mengenai pembunuhan nona Altāf dan jerawat medicuss. Kalau kulihat dari tanggal pencatatannya sepertinya Yeti menulis itu dua hari setelah kematian nona Altāf. Dan nona Shifa juga membaca catatan Yeti mengenai kematian nona Sinta yang ternyata juga disebabkan oleh jerawat medicuss pula. Nona Sinta tertular jerawat medicuss itu dari nona Altāf, karena dia pernah menyentuh jerawat tersebut secara langsung menggunakan tangannya. Setelah itu dia merasakan gatal yang luar biasa di sekujur tubuhnya dan kemudian meninggal, " kata Lili.
"Tunggu!" potong nona Nia. "Bukankah kau tadi bilang kalau nona Yeti itu menemukan penyebab kematian nona Altāf dua hari setelah hari kematiannya. Tapi, kenapa Yeti baru memberitahuku tadi pagi?" tanya nona Nia.
"Nona Lili benar, nona Nia. Sebenarnya sudah lama aku mengetahui penyebab kematian nona Altāf tapi aku tidak bisa langsung memberitahukannya pada kalian saat itu, karena aku masih ragu- ragu. Aku takut pernyataanku ini tidak benar. " kata Yeti.
"Kamu jangan berpikir seperti itu Yeti, kamu adalah orang yang jenius. Hipotesismu tentang jerawat medicuss itu benar. Kami beruntung memiliki kawan yang jenius seperti dirimu. Kalau tidak ada kamu, mustahil kasus ini bisa terpecahkan. Nona Shifa pun mengakui kalau kau adalah orang yang jenius." jelas Lili.
"Lalu bagaimana dengan cerita yang selanjutnya?" tanya nona Nia penasaran.
"Lalu setelah nona Shifa membaca semua catatan itu, dia tidak menemukan catatan mengenai asal muasal virus tersebut. Jadi dia memutuskan untuk mencari tau sendiri mengenai asal muasal virus jerawat itu agar tidak memberatkan kalian," kata nona Lili menjelaskan. "Kemudian dia mendatangiku dan menceritakan semuanya," lanjut Lili. "Mangkanya dia sering keluar masuk kantor karena dia sering mengunjungi rumah nona Altāf untuk menyelidiki sesuatu," ujar Lili. "Tapi setelah tiga hari berturut- turut dia mendatangi rumah nona Altāf dia menemukan ada sesuatu yang janggal, " kata Lili.
"Memangnya apa yang janggal, nona Lia?" tanya nona Nia.
"Dia menemukan beberapa ekor nyamuk di rumah kost nona Altāf. Tapi nyamuk yang dia temukan sangat berbeda dengan nyamuk pada umumnya. Karena nyamuk itu berukuran sedikit lebih besar dari nyamuk pada umumnya, terus udah gitu kepalanya berwarna hitam dan punggungnya berwarna putih. Nona Shifa pun menangkap nyamuk tersebut dan menganalisisnya bersamaku. Setelah empat hari, barulah aku dan Shifa tau hasil analisis nyamuk tersebut, kalau ternyata virus Vendus xxx05 itu berasal dari nyamuk itu," terang nona Lili.
"Berasal dari nyamuk, terus?" cecar nona Nia.
"Benar, nyamuk itu mengandung virus vendus xxx 05 yang sangat berbahaya bahkan bisa menyebabkan kematian. Setelah kami teliti, ternyata nyamuk itu menularkan virus xxx 05 tersebut ke manusia melalui gigitan. Lama-kelamaan bekas gigitannya membengkak seperti jerawat lalu kemudian pecah dan bahkan bisa menular saat disentuh oleh orang lain. Selain itu, virus ini bereaksi di dalam tubuh dengan sangat lamban tapi ganas. Dia menyerang bagian kulit lalu merambat sampai ke jantung dan saraf otak hingga menyebabkan kematian, " terang nona Lili.
"Oh jadi begitu ceritanya. Terima kasih atas penjelasanmu nona Lia, " kata Yeti dan nona Nia.
Setelah itu Yeti dan nona Nia pun kembali ke kantor untuk melaporkan kasus tersebut kepada semua orang yang ada di kantor.
"Baru kali ini aku menemui kasus yang sangat rumit seperti ini. Ini sangat sulit dimengerti," kata Yeti senang.
"Sudahlah nona Yeti, ini semua kan sudah berlalu. Sekarang aku mau mengetik laporan untuk kasus ini dulu," kata nona Nia sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
Mengetik laporan dari kasus yang sudah dipecahkan adalah tugas nona Nia. Ia adalah juru ketik di kantor mereka. Saat lagi sibuk-sibuknya tiba-tiba An'imah datang ke kantor mereka seraya memberi salam. Yeti dan nona Nia pun menyambutnya dengan baik. An'imah mengucapkan terima kasih kepada nona Nia dan Yeti karena sudah dapat memecahkan kasus tersebut dengan baik. Dia bilang terima kasih karena sudah mendapat penjelasan dari nona Lili mengenai kematian kedua temannya dan seluk-beluk dari virus xxx05 yang mematikan itu. Yeti masih belum bisa memahami semua urutan peristiwa yang terjadi pada saat itu. Nona Nia pun menenangkan Yeti. Yeti menyesal telah tersulut emosi dan berburuk sangka kepada nona SY, kalau nona SY itu keluar masuk kantor untuk menyelidiki kasus tersebut bukan untuk keluyuran nggak jelas. Dan nona Nia cuma bisa menghibur Yeti. Mereka bersyukur akhirnya laporan kasus tersebut sudah diselesaikan.
Dari kejadian tersebut mereka dapat mengambil pelajaran, yaitu jangan melihat seseorang hanya sekilas. Terus jangan juga gampang mengambil kesimpulan dari suatu permasalahan, yang kita sendiri nggak tau duduk perkaranya. Dan satu lagi, bahwasannya kematian itu bisa datang kapan saja. Tugas kita hanyalah melakukan yang terbaik yang kita bisa selama kita masih hidup.
THE END....