Sahabat jadi benci. Itu adalah hal yang biasa terjadi di kalangan remaja pada umumnya.
Namun apa yang terjadi jika suatu persahabatan akhirnya menjadi dendam dan kemudian saling membunuh?
Di salah satu sekolah menengah atas di Kabupaten Sidoarjo, terdapat empat orang siswi yang saling bersahabat. Mereka adalah nona Lili, nona SY, Aalubi, dan Aatali. Keempatnya memiliki sifat yang berbeda - beda. Diantara mereka berempat, Aatali lah yang paling terlihat tomboy sementara nona SY sangat feminin.
Di sisi lain, banyak yang iri dengan persahabatan mereka terutama di kalangan para cewek sekolah. Dan membuat banyak laki - laki merasa ingin menghancurkan eratnya persahabatan mereka, termasuk MN dan ICH.
Mereka berdua dengan sengaja membuat sebuah taruhan tak masuk akal dengan maksud tertentu hingga menjadi awal dari kisah tragis yang menimpa sebagian siswa maupun siswi di MA Darul Ulum Tlasih.
Saat - saat menegangkan dan penuh ancaman itu pun dimulai....
Scene Pertama:
Siang hari sejak tadi pagi hujan deras tak kunjung reda. Di dalam kelas yang terdapat beberapa meja dan kursi yang tertata rapi menjadi keseruan tersendiri bagi siswa - siswi kelas XI MIPA 1 karena salah satu guru yang seharusnya mengajar di jam terakhir tak kunjung datang ke kelas mereka. Ada seorang siswi yang asyik membaca novelnya. Dan beberapa siswa lainnya terlihat asyik berbincang hingga tertawa cekikikan.
"Persahabatan mereka kok sangat erat. Ingin rasanya melihat persahabatan mereka jadi putus, tapi gimana caranya ya?" pikir MN sambil melihat nona Lili dan kawan - kawan dari kejauhan.
"Woy!" (Menepuk bahu MN). "Ngelamun sendiri, ikutan dong. Memangnya ada apa, bro?" tanya ICH.
(Menoleh kearah ICH). "Gila! Bikin kaget aja kamu ICH. Coba deh lihat mereka berempat!" kata MN sambil menunjuk nona Lili dan kawan - kawan dari kejauhan.
"Kenapa? Kamu naksir ya sama mereka berempat?" tanya ICH.
"Kayaknya sih gitu. Tapi pengen ngeliat mereka bubaran dulu. " sahut MN.
"Kamu curi aja dompetnya nona Ata si galak itu. Terus habis itu dompetnya kamu taruh di tasnya si nona Lili atau si nona Altāf. Nona Ata pasti bakal menuduh mereka berdua. " usul ICH.
"Terus, Shifa nya mau diapain?" kata MN sambil berteriak.
"Sssttt!" (Membekap mulut MN). "Yang tadi itu bohongan. Jangan dianggap serius, bro. Oke!" kata ICH.
"Oke deh. " kata MN.
MN dan ICH pun melakukan tos.
Terlihat Aatali masuk ke dalam kelas dengan tertawa cekikikan.
"Ahahahahaha, nona Altāf. Coba deh lihat model jam tangan baru ku. Keren kan?" (Memamerkan jam tangannya kepada nona Altāf).
"Idih. Apanya yang keren. Jelek tau. " (Melihat jam tangan nona Ata).
"Alaaahh. Bilang aja kamu iri, nona Altāf. " (Menarik kerudung nona Altāf).
"Ah, ah. Iya - iya bagus ah. "
"Eh, aku ke koperasi dulu ya. " kata nona Lili (menoleh kearah nona SY). "Shif, temenin aku dong!"
"Tunggu!" kata nona SY (seraya menuju ke mejanya dan mengambil buku).
"Sekalian temenin aku ke perpus yuk balikin buku ini."
Sementara berjalan menuju pintu kelas, tiba-tiba terlihat seorang siswi sedang buru - buru menuju kelas dan tanpa sengaja menabrak nona Lili dan nona SY hingga buku - buku yang dibawa nona SY ikut terlempar.
"Aw! Kakiku!" kata nona Lili seraya merintih.
"Buku - buku pinjamanku, aduh!" kata nona SY memungut buku - bukunya yang berantakan di lantai.
"Sorry ya nona Lia, nona Shifa. " kata nona Nia membantu nona Lili berdiri. "Soalnya aku tadi lagi buru - buru. Gak sengaja kok. Sorry ya. " kata nona Nia dengan ekspresi memelas.
"Iya nggak papa. "
kata nona Lili sambil memegang kakinya yang sakit.
Aalubi dan Aatali yang melihat kejadian itu dari kejauhan pun menghampiri mereka. Tanpa sadar nona Nia telah mendapat tamparan bertubi
- tubi dari Aatali dan Aalubi.
"Woy! Kalau jalan liat - liat dong!" teriak Aatali ke nona Nia.
"Perempuan sial! Ngapain sih kamu disini!" kata Aalubi seraya menampar pipi nona Nia.
"Udah pergi kamu sana! Lain kali kalau jalan nggak usah buru - buru deh. "
"Tapi..." belum sempat nona Nia melanjutkan kata
- katanya tanpa ia sadari tangan Aatali menampar pipi kirinya.
"Bacot!" bentak Aatali sambil menampar pipi sebelah kiri nona Nia.
Akhirnya air mata yang tertahankan sejak tadi kini tak mampu dibendung lagi keluar dari mata nona Nia. Dia berusaha mencari celah dari kesalahpahaman teman - temannya dengan mengatakan yang sejujurnya namun tak bisa dipercaya oleh Aalubi dan Aatali.
Kemudian kejadian tersebut mampu dihentikan setelah nona An'imah datang.
"Aku tadi itu buru
- buru ke kelas itupun karena ada suatu hal yang ingin kusampaikan pada kalian. Tapi aku gak bermaksud menabrak nona Lili dan Nona Shifa. " terang nona Nia seraya menangis sambil memegangi pipinya yang memar.
"Oh jadi kamu masih berani ngelak ya?" kata Aalubi menarik tangan nona Nia dengan kasar secara membabi buta.
"Sini kamu!" kata Aatali menarik tangan nona Nia juga.
"Cukup! Udah dong ah!" kata nona Lili dan nona SY mencoba melerai pertengkaran di antara mereka bertiga.
Dan nona An'imah dengan tampang misteriusnya telah berdiri di ujung pintu tanpa mereka sadari. Semua mata tertuju kepadanya.
"Lepas!" teriak nona An'imah.
"Tolong aku, nona An'imah!" kata nona Nia berusaha melepaskan diri.
"Diam!!" kata Aalubi dan Aatali.
"Lepas! Lepaskan dia nona Ata, nona Altāf!"
"A... aa... apa?" sahut Aalubi terbata - bata.
"Masih belum dengar? Lepaskan dia!"
Mereka berdua pun melepaskan nona Nia dan menjauh dari keramaian sesaat menuju arah luar kelas. Di saat yang bersamaan bel berbunyi panjang.
Scene Kedua:
Keesokan harinya, pada saat bel istirahat berbunyi, semua siswa maupun siswi diwajibkan mengikuti rapat konsulat di aula sekolah. Dimana pada saat itu sedang terjadi perdebatan sengit antara nona Lili, nona SY, Aatali, dan Aalubi. Yang bermula dari sebuah surat kiriman seseorang yang berada di dalam tas nona Lili.
"Males deh ikutan rapat. Ke warung sebelah aja yuk!" ajak Aatali.
"Ayo!" kata Aalubi, nona Lili, dan nona SY seraya beranjak keluar dari kelas.
"Ayo kita ke ke warung sebelah juga, nona An'imah!" ajak nona Nia. Dan, MN sibuk menulis sesuatu. Lalu, saat kelas sudah kosong tinggal MN seorang diri, MN pun memasukkan sepucuk surat ke dalam tas nona Lili dengan tertanda tangan ICH.
Mereka pun beranjak pergi dari kelas. Tidak lama mereka berjalan, Aatali merasa ada sesuatu yang tertinggal.
"Tunggu! Kaca ku ketinggalan. Aduh kerudungku!" kata Aatali memegang kerudungnya yang agak berantakan.
"Butuh sisir?" tanya Aalubi.
"Kalau butuh kaca ambil aja di
tasku. " kata nona Lili.
Aatali pun kembali ke kelas buat mengambil kaca di tasnya nona Lili.
Sedangkan nona SY, nona Lili, dan Aalubi langsung ke warung sebelah.
Aatali membongkar seluruh isi tas nona Lili tapi tidak menemukan kaca dan malah menemukan sepucuk surat. Aatali kemudian membaca surat itu.
Dear nona Lia,
Aku sayang kamu.
Kiriman you,
Ttd: ICH. (Tanda tangannya ICH dipalsukan sama MN tapi tanda tangannya sama persis dengan tanda tangan ICH yang asli).
"Apaan sih ini?" tanya Aatali.
Scene 3: Di warung sebelah dan di kelas:
"Eh, nona Ata kok lama banget ya?" tanya Aalubi.
"Gatau deh. Kamu susulin gih Nona Altāf. " kata nona SY.
"Yaudah deh aku susul dia!" kata Aalubi seraya pergi meninggalkan mereka berdua.
Di kelas:
Aalubi merebut sepucuk surat yang lagi dibaca oleh Aatali. Dia pun membaca sekilas surat itu, dan di saat yang bersamaan nona Lili dan nona SY datang.
"Dear nona Lia. Aku sayang kamu. Kiriman you. Ttd: ICH. Ooo... oo... oo... oo... o, jadi ini yang dibilang sahabat?" kata Aalubi membaca surat itu dihadapan nona Lili dan nona SY sambil bertepuk tangan.
"Surat untuk siapa? Sorry nona Altāf, barangkali surat itu bukan buat aku. " sahut nona Lili bingung sambil melongo.
"Lagak! Main belakang ya? Kamu tau nggak yang suka sama ICH itu bukan kamu aja. Nona Altāf lebih dulu suka sama dia dibanding kamu!" kata Aatali mendorong pundak Lili dengan kasar.
"Sudah - sudah persahabatan macam apa ini? Lagi - lagi ICH. Apa nggak ada lelaki yang lain apa?" kata nona SY mencoba melerai pertengkaran di antara mereka.
"What? Si blo'on ini udah mulai kurang ajar nih nona Ata!"
kata Aalubi membentak nona SY.
"Kamu jahat!" kata nona Lili menampar Aalubi sampai jatuh ke lantai.
"Aaaahhh!" rintih Aalubi seraya memegang pipinya.
"Ih, udah mulai kurang ajar deh!"
kata Aatali sambil mendorong nona Lili dan nona SY secara bersamaan hingga mereka berdua tersungkur jatuh ke lantai.
"Dasar wanita sok cantik! Kamu jahat! Aku muak dengan gaya sok lugu kamu!" kata Aalubi seraya bangkit dari lantai, lalu menjambak kerudung SY dan memaksanya untuk berdiri.
"Aaahhh, jangan nona Altāf. Aahh, sakit!" rintih nona SY seraya berusaha melepaskan jambakannya Aalubi namun tak bisa. Dan Aalubi masih terus menjambak nona SY sambil ngomel, "Aku udah muak dengan gaya sok lugumu itu. Aku tau kalau kamu itu suka sama ICH dan kamu diam-diam sering merhatiin dia! Wanita sial!"
"Nona Altāāāf!" rintih SY.
"Kamu gila ya! Mau ngebunuh, hah? Lepasin!" kata nona Lili memukul tangan Aalubi untuk menolong nona SY. Tiba - tiba Aatali menjambak rambut nona Lili hingga ia jatuh tersungkur ke belakang. Lalu berkata, "Persahabatan ini udah hancur! Urusan kita belum selesai! Dasar cewek sial!"
Nona Lili pun membela diri dengan berusaha mencakar wajah Aatali hingga mengenai pelipisnya Aatali, dan pelipisnya Aatali pun berdarah. Aatali pun melepaskan jambakannya dan merintih kesakitan memegang pelipisnya dan mendapati darah di pelipisnya. Ia pun berkata, "Aw. Sakit! Sialan kau nona Lia! Ah, darah! Mataku! Ah!"
Nona Lili pun berlari ke meja guru dan mau melemparkan vas bunga yang ada di meja guru ke kepalanya Aalubi dan berkata: "Kamu yang sial!"
"Awas, nona Altāf!" teriak Aatali.
Aalubi pun membalikkan badannya. Tapi sayang, kepalanya terkena lemparan vas bunga hingga ia pun merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya. Aalubi pun minum obat nyeri kepala yang ia punya terus ngomel: "Ah, kepalaku! Sialan kamu, nona Lia!"
Nona Lili pun berusaha menolong nona SY yang pingsan karena bibirnya telah berdarah akibat tamparan bertubi
- tubi dari Aalubi.
"Shif, sadar Shifa! Ayo kita pergi dari sini!"
Nona SY pun terbangun dari pingsannya. Tap.. tapi dia terkejut melihat sosok Aatali yang berdiri di atas meja sambil membawa pot bunga dengan tatapan penuh amarah. "E..L...Li...Li... Lia.. di...di belakangmu, Li! Awaaass Li!" kata nona SY berteriak. Nona Lili pun kaget dan menoleh kearah Aatali. Lalu....
"Astaga! Nona Ata! Apa - apaan ini! Hentikan! Ini sekolah, nona! Hentikan!" tapi dengan cepat pot bunga itu mengenai mukanya Lili hingga mukanya Lili pun berlumuran darah. Lalu Aatali menarik baju Lili hingga berdiri tepat dihadapannya.
"Ahahahaha. Ini kamu, nona Lia? Ahahahaha!"
Tiba - tiba nona SY bangkit dan membentangkan tangannya di hadapan Aatali yang mencoba membunuh nona Lili. Tapi apa daya, ia pun terhempas kemudian tersungkur pingsan di sudut lantai.
(Nona SY membentangkan tangannya dihadapan Aatali untuk membela nona Lili). "Jangan, nona Ata! Kita kan sahabatan. Kasihan nona Lia," kata nona SY dengan ekspresi lesu.
Aatali pun menampar nona SY sekuat - kuatnya hingga ia pun ikut terjatuh namun nona SY pingsan. "Awas, blo'on!"
Aalubi pun menghampiri nona Lili yang masih berdiri membelakanginya.
"Rasakan ini wanita sialan!" kata Aalubi sambil membenturkan kepala nona Lili ke tembok sebanyak 10 kali. "Ahahahaha. " Aalubi ketawa cekikikan saat melihat nona Lili sekarat dengan tubuh berlumuran darah.
"A... aw... Sakiiiitttt nona Altāf. " kata
- kata terakhir nona Lili sebelum ia akhirnya tewas bersimbah darah.
"Nona Altāāāāf!"
teriak Aatali.
Nona SY pun seketika sadar dari pingsannya, tapi kemudian ia menangis karena syok melihat Lili tewas dengan tragis. "Astaga! Nona Altāf! Apa yang kamu lakukan?"
"Diam kamu! Apa kamu mau ku bunuh juga! Bersihin tuh lukamu. " bentak Aalubi seraya menoleh kearah nona SY.
"U'..u'...udah no...na...Al...tāf! Be...beresin ma...yat...nya!" kata Aatali terbata - bata.
Tubuh nona Lili yang awalnya ingin dibuang ke sungai akhirnya dibatalkan, karena mereka ketakutan sama siswa lain dan guru - guru kalau mereka sedang membawa mayat. Mereka lebih memilih menyembunyikan tubuh nona Lili di gudang sekolah yang agak jauh dari kelas mereka. Dan mereka tidak lupa juga membersihkan darah - darah yang berceceran di lantai kelas sehingga tidak menimbulkan suatu kecurigaan. Namun sejak saat itu, hubungan antara Aatali, Aalubi, dan nona SY menjadi tidak baik.
Scene 4: Gudang Sekolah.
hingga suatu hari tanpa sengaja nona Nia melewati gudang sekolah, dan ia pun langsung mencium bau busuk bangkai dari dalam gudang sekolah. lalu ia pun memasuki gudang dan menemukan mayat perempuan yaitu nona Lili. langsung saja nona Nia menelpon pihak kepolisian untuk melaporkan kejadian tersebut.
"Hallo, selamat siang apakah ini dengan Kepolisian?"
"Ya, benar. Ada yang bisa kami bantu?"
" Saya mau melapor bahwa di sekolah kami telah terjadi pembunuhan polisi. "
Scene 5: Di Sekolah.
Polisi pun langsung mendatangi TKP. Saat polisi sedang menangani kasus tersebut, tiba - tiba nona An'imah datang. Nona An'imah menjelaskan kepada pihak polisi mengenai kejadian yang ia lihat pada saat itu. Pihak polisi mengikuti nona An'imah untuk menunjukkan dimana nona Altāf berada pada saat itu.
"Maaf permisi, pak. Saya tau kejadian yang sebenarnya seperti apa, karena waktu itu saya sempat melihat dengan mata kepala saya sendiri pada saat kejadian pembunuhan itu berlangsung. Waktu itu saya lihat nona Lia dan teman - temannya berantem. Kemudian ia dibenturkan ke tembok sama nona Altāf, lalu kemudian dia meninggal. "
"Terimakasih atas informasinya. Mari antarkan saya ke tempat kejadian."
"Mari. " kata nona An'imah.
Scene 6: Di kelas.
"Ini dia pelakunya pak. Nona Altāf pak namanya." kata nona An'imah menunjuk Aalubi dari kejauhan.
"Apakah anda dengan saudari Altāf?"
"Iya pak. "
"Anda kami tangkap. "
"Kenapa?"
"Lebih jelasnya, kita bicarakan saja di kantor polisi. "
THE END...