Clara, Nova, dan Debby adalah tiga orang sahabat yang baik. Mereka sudah bersahabat sejak lama, mulai saat duduk di jenjang TK sampai sekarang mereka sudah SMA.
Di suatu pagi yang cerah mereka bertiga duduk-duduk di depan kelas sambil berbincang-bincang santai dan disambi dengan membaca novel.
Debby: "Kamu lagi baca buku apa itu Ra, kok kelihatannya serius banget?"
Clara: "Ini lho, Deb. Aku lagi baca novel, judulnya pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. "
Debby: "Wah, bagus banget tuh novelnya. Aku boleh pinjem nggak?"
Clara: "Iya nggak papa. Nih boleh dibaca kok. "
Nova: "Aku juga pinjem Ra. "
Debby: "Lho, Nova ini gimana sih. Kan aku duluan yang pinjem. Antre dong!"
Clara: "Sudah- sudah nggak usah ribut. Nih aku kasih novelnya, dibaca berdua
ya. "
Nova: "Iiihhh, Debby itu dari dulu selalu begitu. Kesel deee. " (ekspresi masam).
Setelah Clara selesai membaca novelnya, Clara pun memberikan novelnya kepada Debby dan Nova untuk dibaca. Tapi tiba-tiba mereka melihat Bu Titik berjalan menuju kelas mereka. Nova dan Debby pun kesal karena mereka harus masuk kelas padahal belum tuntas baca novelnya. Tapi mau nggak mau sebagai murid yang baik akhirnya mereka bertiga pun menyudahi membaca novel dan masuk ke dalam kelas.
Nova: "Yach, belum selesai baca novel eh Bu Titik malah datang ke sini. "
Debby: "Iya ya. Ini nanggung lho kalau nggak dituntaskan Soalnya kurang beberapa lembar lagi. "
Clara: "Sstt, sudah-sudah jangan berisik. Lihat tuh Bu Titik mau masuk ke kelas kita. Nanti aja kalian lanjutin baca novel ini di rumah. " (melihat dari kejauhan).
Mereka pun mengikuti pelajaran di kelas. Sudah tidak terasa, waktu telah menunjukkan pukul setengah dua siang. Mereka pun mengemasi barang-barangnya dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelum menuju tempat parkir motor, mereka sempat berbincang-bincang sebentar.
Nova: "Ra, novelnya tak bawa pulang dulu ya. Kamu nggak keberatan kan? Soalnya aku belum puas nih baca novelnya. "
Clara: "Iya, bawa aja Nov. Aku nggak keberatan kok. Tuntasin aja dulu rasa penasaranmu sama novel itu. "
Debby: "Tapi besok harus dibawa lho, Nov. Jangan sampe ketinggalan. Soalnya aku juga belum puas nih baca novelnya. "
Nova: "Ok, Deb. Tapi kamu jangan lupa ngingetin aku via WA ya besok pagi. Siapa tau aku lemot karena keriuhan pagi terus ntar lupa lagi dech. "
Debby: "Oh, dasar Nova si pelupa. Ok Nov besok pagi sekitar jam 5- an kamu tak WA ya. Awas kalau kamu nggak buka WA ku. "
Nova: "Iiihh, Debby itu mesti ngledekin aku terus deh. "
Debby: "Iya sorry deh. Sorry ya. Yasudah ayo cabut gih dari
sini. "
Nova: "Iya, ayo. Oh iya Ra, kamu mau nebeng siapa nih? Nebeng aku atau Debby?"
Clara: "Aku nebeng Debby aja ya, Nov. Soalnya kan rumahnya Debby searah sama rumahku. Kamu nggak keberatan kan Deb kalau aku nebeng kamu?"
Debby: "Ya enggaklah. Kita kan sahabatan. Ayo naik!"
Mereka bertiga pun pulang. Nova nyetir motor sendirian sedangkan Debby membonceng Clara. Tapi selama perjalanan Debby merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri Clara, karena dia terlihat lebih banyak diam tak seceria biasanya.
Debby: "Ra, kamu kenapa? Kok hari ini tak perhatiin dari tadi pagi kamu nggak banyak ngoceh. Nggak kayak biasanya?"
Clara: "Nggak ada apa-apa kok Deb."
Debby: "Kamu serius, Ra? Kalau memang kamu ada masalah, yasudah ayo cerita aja sama aku, nggak usah sungkan. Kita kan sahabatannya udah lama banget."
Clara: "Ya, Deb. Sebenarnya aku lagi ada masalah yang sangat pelik akhir-akhir ini. Aku lagi bermasalah dengan kesehatanku, Deb. Soalnya belakangan ini aku sering sakit-sakitan padahal dulu juaraaang banget. Terus untuk mastiin kenapa aku kok sering sakit-sakitan belakangan ini, akhirnya kemarin aku meriksain diri ke dokter. Dan akhirnya dokter memvonis ku terkena gagal ginjal di bagian ginjal yang sebelah kiri. Dan itu harus dioperasi sebelum tambah parah sakitnya. Tapi masalahnya gini, Deb. Dari mana aku bisa dapetin dana sebanyak itu untuk biaya operasi? Dan siapakah yang mau mendonorkan salah satu ginjalnya buat aku?"
Debby: "Masyaallah, Ra. Aku turut prihatin dengan penyakit yang kamu derita. Ku harap kamu bisa tabah, sabar, semangat ihtiar, dan juga tawakkal berdoa sama Allah dalam menghadapi penyakit ini. Aku yakin dibalik semua ini pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Kalau kamu butuh uang, itu aku ada celengan 20 juta. Silakan diambil aja kalau kamu memang perlu. "
Clara: "Terima kasih, Deb. Dengan kamu memberiku semangat aja itu udah lebih dari cukup. Aku nggak mau nyusahin kamu, jadi lebih baik kamu simpan aja uang celenganmu itu untuk keperluan lain. Dan terima kasih juga karena kamu sudah mengantarkanku dengan selamat sampai di rumah. Kamu memang my best friend ku. "
Debby: "Nggak nyusahin kok, Ra. Justru aku malah senang kalau aku bisa ngebantuin kamu. Oiya, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya. Assalamu alaikum. Daaahh." (Melambaikan tangan kearah Clara).
Clara: "Wa alaikum salam. Daaahh. " (turut melambaikan tangan). "Ya, hati-hati di jalan. "
Setibanya dirumah, Debby langsung menelpon Nova dan memberitahukannya bahwa Clara mengidap penyakit gagal ginjal. Nova langsung kaget dan lemas ketika mengetahui sahabatnya menderita penyakit seperti itu.
Besok paginya, tanpa diketahui Clara, Debby dan Nova beserta persatuan anak OSIS meminta donasi kepada seluruh siswa dan guru disekolahnya. Bahkan mereka berdua rela turun ke jalanan untuk meminta sumbangan kepada seluruh warga kota untuk biaya operasi Clara. Setelah seminggu berturut - turut mereka mengumpulkan sumbangan dari semua warga, akhirnya terkumpullah dana yang cukup. Lalu mereka pun mendatangi rumah Clara untuk menyerahkan dana yang mereka kumpulkan.
Dirumah Clara:
Debby&Nova:
"Assalamualaikum, Clara! Clara!" (mengetuk pintu). "Ini kita, Ra. Debby sama Nova. "
Clara: "Wa alaikum salam. "(Membukakan pintu). "Eh Debby sama Nova. Ayo masuk. Beidewei, tumben nih kalian datang kesini?"
Nova: "Kita tuh datang kesini mau nengokin kamu. Aku kangen sama kamu, Ra. Beidewei, gimana kabarmu sekarang, Ra?"
Clara: "Ya, seperti yang kamu lihat sekarang ini lah, Nov. Aku lagi sakit. "
Debby: "Maksud kedatangan kita kemari sebenarnya mau ngasih uang ini ke kamu, Ra. Soalnya kita pengen kamu lekas dioperasi ginjalnya biar bisa sehat kayak dulu lagi. " (Menyerahkan amplop coklat tersegel berisi uang).
Clara: "Masyaallah, terima kasih banyak, sobat. Aku terharu. Sungguh mulia hati kalian. Aku nggak tau harus ngomong apa sama kalian. Terimakasih banyak, sobat. Semoga amal baik kalian diterima oleh Allah, dan mendapatkan pahala yang setimpal. Aamiin..."
Debby&Nova:
"Aamiin. Iya sama-sama. "
Akhirnya, Clara dan orangtuanya beserta Debby dan Nova ditemani papa mereka berdua bergegas menuju rumah sakit untuk mengoperasi ginjal Clara. Namun, saat tiba di rumah sakit ternyata timbul masalah lain. Setelah dicek sama dokter, ternyata ginjal kedua orangtua Clara tidak cocok dengan ginjal Clara. Sehingga kedua sahabatnya berinisiatif untuk mengecek ginjal mereka, apakah ginjal mereka cocok dengan ginjal Clara. Dokterpun mengeceknya, dan ternyata ginjal Nova cocok dengan ginjal Clara. Akhirnya Nova dan papanya setuju bahwa Nova harus mendonorkan ginjal kiri nya kepada Clara. Operasi pun dilakukan untuk menanam ginjal Nova ke tubuh Clara. Nova dan Clara pun dibawa ke ruang operasi. Semuanya yang berada diluar ruang operasi pun terus memanjatkan doa agar operasinya lancar. Beberapa jam kemudian operasi pun selesai, dan dokter pun keluar dan mengatakan bahwa operasinya berhasil. Clara dan orangtuanya pun lega dan bahagia mendengarnya. Akhirnya Clara berhasil sembuh dari penyakitnya berkat bantuan sahabat dan teman-temannya itu. Persahabatan mereka pun semskin erat dan kekal abadi hingga mereka tua.
THE END...