Sabrina, seorang gadis yang tinggal bersama ibunya, ibu Karmila di sebuah perumahan elit di tengah kota Surabaya. Sabrina menjalin persahabatan dengan Eva dan Nurhasanah. Namun, suatu hari terjadi sesuatu yang menyebabkan persahabatan mereka terpisah dan bahkan putus karena kematian Sabrina. Yang merupakan perpisahan terberat yang dihadapi oleh Eva dan Nurhasanah.
Amanat:
Persahabatan yang terjadi dan dilakukan dengan hati yang tulus maka akan menghasilkan sahabat sejati yang hadirnya di dalam hati takkan pernah tergantikan. Karena mencari satu sahabat sejati lebih susah daripada mencari 1000 musuh.
PERSAHABATAN YANG BERAKHIR PERPISAHAN.
Sabrina, Eva, dan Nurhasanah saling bersahabat. Tapi, Nurhasanah lebih dekat pada Sabrina karena mereka telah bersahabat sejak kecil. Sedangkan Eva baru bersahabat dengan Sabrina dan Nurhasanah tiga tahun yang lalu, yaitu pada saat mereka kelas 2 SMP.
Hari itu Sabrina tidak masuk sekolah.
"Eh Sabrina kemana ya kok dia nggak masuk sekolah?" tanya Nurhasanah.
"Aku nggak tau, nggak biasanya dia nggak masuk sekolah. Jangan
- jangan dia kenapa - napa lagi. " kata Eva.
"Gimana kalau sepulang sekolah nanti kita jenguk Sabrina di rumahnya?" usul Nurhasanah.
"Tapi kan nanti pulang sekolah kita ada ekskul PMR. Jadi kita nanti pulangnya jam setengah empat, " sahut Eva.
"Oh iya, bagaimana kalau sepulang ekskul saja kita ke rumah Sabrina. " kata Nurhasanah.
"Ok sip. " kata Eva.
Sepulang sekolah, mereka pun mengikuti ekskul PMR sampai jam setengah empat dan ekskul pun selesai. Mereka pun bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil motor mereka supaya mereka lekas pulang. Namun, di tengah perjalanan, mereka melihat sesosok gadis sedang berdiri di pinggir lapangan.
"Dia siapa?" tanya Eva.
"Anak pindahan kali, " kata Nurhasanah.
"Kalau dia anak pindahan ngapain dia ada di sekolah jam segini? Ini kan sudah jam
pulang. " tanya Eva.
"Tau deh. Kita samperin yuk, " kata Nurhasanah.
Tiba - tiba handphone Eva berdering.
"Nurhasanah sorry ya aku gak bisa ikut kamu jengukin Sabrina. Soalnya mamaku nge chat aku via WA, katanya dia mau ke bandara jemput nenekku yang datang dari luar kota. Jadinya aku disuruh nungguin adikku di rumah. Sorry ya. Sampaikan salamku kepada Sabrina. Aku pergi dulu ya. Assalamu alaikum, " kata Eva seraya pergi meninggalkan Nurhasanah sendirian.
"Iya nggak papa. Waalaikum
salam, " kata Nurhasanah menjawab dari kejauhan.
Kemudian Nurhasanah menghampiri gadis tersebut, yang sedang berdiri di pinggir lapangan. Untuk menjawab rasa penasaran nya.
"Kok dia mirip Sabrina ya?" pikir Nurhasanah.
"Sabrina!!" teriak Nurhasanah memanggil gadis tersebut, yang ternyata memang dia adalah Sabrina.
"Nurhasanah?" (Sabrina membalikkan badan, lalu menghampiri Nurhasanah).
"Tadi kenapa kamu nggak masuk sekolah. Kamu ngapain disini?" tanya Nurhasanah.
"Aku mau kasih tau sesuatu ke kamu. " kata Sabrina sambil menggenggam secarik kertas.
"Kasih tau apa?" tanya Nurhasanah penasaran.
"Sebelum itu, aku mau ngucapin terima kasih sama kamu. Karena kamu sudah mau jadi sahabatku, baik sama aku, dan pengertian sama aku. Aku nggak tau apa yang harus kulakukan buat ngebales kebaikanmu di sisa - sisa waktuku ini. " kata Sabrina sambil menangis.
"Sisa - sisa waktu? Maksudnya? Kamu mau kemana Sabrina?" tanya Nurhasanah bingung.
"Kamu tau kan kalau kepalaku itu sering sakit?" kata Sabrina.
"Iya. Terus memangnya kenapa?" cecar Nurhasanah.
"Karena sudah nggak tahan sakitnya, akhirnya kemarin lusa aku mutusin untuk pergi ke dokter. Dan saat itu juga dokter menyuruhku untuk rontgen di bagian kepala. Dan baru tadi pagi aku ambil hasil rontgen nya, " terang Sabrina.
"Terus, gimana hasil rontgen nya?" cecar Nurhasanah.
Sabrina tidak menjawab. Langsung saja Nurhasanah mengambil kertas yang dari tadi digenggam Sabrina.
"Apa? Ini nggak mungkin! Saudari Sabrina Putri. H. , mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Kamu bohong kan Sabrina?" kata Nurhasanah.
"Kamu bisa lihat sendiri kan kalau itu bukan rekayasa. Ini memang alur hidupku. Sebentar lagi hidupku akan berakhir aku akan ninggalin kamu untuk selama -lamanya. " jelas Sabrina.
" Nggak, aku nggak akan biarin kamu pergi. Kita pasti akan bersama terus kok. Ayo kita pulang!" kata Nurhasanah seraya menggandeng tangan Sabrina.
Saat hendak keluar dari gerbang sekolah, tiba - tiba Sabrina pingsan dan jatuh di pundak Nurhasanah. Nurhasanah segera menopang tubuh Sabrina yang pingsan. Dia pun panik lalu menelpon ambulans. Sabrina pun dilarikan ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Sabrina pun langsung ditangani oleh dokter Dila. Sambil menunggu Sabrina ditangani dokter, Nurhasanah pun menelpon Bu Karmila agar datang ke rumah sakit menengok keadaan anaknya.
"Assalamualaikum Bu Karmila, ini Nurhasanah. Ibu bisa tidak bu datang ke rumah sakit Muji Rahayu. Ini Sabrina pingsan. " kata Nurhasanah dengan tatapan kosong.
Setengah jam kemudian Bu Karmila pun tiba di rumah sakit Muji Rahayu. Dan tepat saat Bu Karmila datang, dokter selesai menangani Sabrina. Tapi wajahnya terlihat tidak bahagia.
"Dokter, bagaimana keadaan Sabrina?" tanya Bu Karmila.
"Maaf Bu, ananda Sabrina sudah tidak bisa ditolong lagi. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Bu. Tapi kami bukanlah Tuhan yang dapat mengubah jalan hidup seseorang. Maaf Bu, kondisi Sabrina sudah sangat kritis. Sel kanker tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Maafkan kami ya Bu atas kabar duka ini. " kata dokter Dila berempati.
"Maksud dokter Sabrina sudah meninggal?" tanya Bu Karmila dengan ekspresi sedih.
"Kami sudah berusaha Bu. " kata dokter Dila. Lalu dokter Dila pun pergi meninggalkan Bu Karmila yang sedang menangis meratapi kepergian Sabrina.
"Sabrina! Sabrina! Ini nggak mungkin!" teriak Bu Karmila.
Nurhasanah pun menghampiri Ibu Karmila yang sedang menangis meratapi kepergian Sabrina.
"Ibu yang sabar ya. Aku yakin dibalik ini semua ada hikmah yang dapat dipetik. " kata Nurhasanah menyabarkan Bu Karmila.
"Terima kasih ya, karena kamu sudah menghiasi hari - harinya Sabrina dengan persahabatan yang kalian jalin, " kata Bu Karmila dengan meneteskan airmata.
"Sudah Bu jangan menangis. Saya sendiri juga sedih atas kepergian Sabrina. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua itu tidak bisa terulang kembali. Lagipula, kematian seseorang kan tidak boleh diratapi. " kata Nurhasanah.
"Iya, kamu benar. Semoga Sabrina tenang di alam sana. " kata Bu Karmila mencoba menghibur diri.
"Aamiin. " sahut Nurhasanah.
Keesokan harinya, jenazah Sabrina pun dimakamkan di pemakaman yang berada tepat di depan sekolah Nurhasanah.
Eva pun lari tergopoh - gopoh menghampiri Nurhasanah.
"Aku udah dengar dari teman - teman kalau Sabrina meninggal karena kanker otak. " kata Eva.
"Iya. Hari ini dia akan dimakamkan. " kata Nurhasanah.
"Ayo cepetan kita harus ke sana. " kata Eva seraya menarik tangan Nurhasanah.
"Iya... iya, " sahut Nurhasanah.
Sesampainya di pemakaman, mereka berdua pun menghampiri Bu Karmila yang terus menangisi Sabrina.
"Sabrina, kenapa sih kamu kok cepet banget tinggalin aku? Aku nggak mau pisah sama kamu. " kata Nurhasanah sambil meneteskan air mata.
" Sudahlah Nurhasanah, kamu harus ikhlas. Kita harus ngerelain kepergian Sabrina. Mungkin ini udah takdir Tuhan. kasihan Sabrina loh kalau kita terus meratapi dia seperti ini. " kata Eva mencoba menenangkan Nurhasanah.
"Sabrina, kok secepat ini sih kamu tinggalin aku?" (Menangis sambil memandangi batu nisan Sabrina). "Asal kamu tau Sabrina, di hatiku itu nggak ada sahabat sebaik kamu. kamu itu sahabat sejati yang setia menemaniku disaat suka maupun duka. Kuharap kamu nggak akan ngelupain aku karena aku pun nggak akan bisa ngelupain kamu sampai kapanpun juga. Semoga kamu tenang dialam sana. Selamat jalan sobat, " kata Nurhasanah seraya beranjak pergi meninggalkan rumah abadi milik sahabatnya.