Menjelang liburan akhir semester, Aalubi dan nona SI, Aatali, DS, ICH, dan MN berlibur di sebuah villa milik salah satu dari mereka yang ada di kota Batu. Sesampainya di villa mereka melihat darah berceceran di lantai teras Villa.
"ICH, ini kok ada darah. Ini darah siapa? (sambil mengamati darah tersebut). " tanya MN.
"I... i... itu... itu darah hewan kali, soalnya pamanku paling suka berburu," sahut ICH terbata
- bata.
"Tapi kenapa nggak dipel? Kan kotor!" sahut Aatali.
"Mu... mungkin mau berburu hewan yang lain kali, " sahut ICH gugup.
"Tapi kenapa darah itu kok mirip kayak darahnya manusia ya?" tanya DS.
"Me... memang begitu kan, da... darah manusia kan hampir sama dengan darah hewan. Hhmmm, kita masuk aja dulu yuk. Kalian pasti capek kan.. " sahut ICH.
Keenam sahabat itu pun langsung masuk kedalam villa. Memilih kamar untuk beristirahat.
MALAM PERTAMA
(Kamar DS dan MN). DS dan MN tidur satu kamar.
"Aduuuhh, kebelet buang air kecil nih, " kata DS seraya beranjak dari kamarnya kemudian lari menuju ke toilet.
(Kamar nona SI, Aalubi, Aatali). Sejak tadi nona SI berusaha untuk tidur tapi tidak bisa tidur. Dia pun asyik membaca novel. Sementara Aalubi dan Aatali sudah tidur nyenyak dari tadi.
Sseettttt... Ssseeettttt.
"Suara apaan sih itu? Kayak suara pisau diasah, " kata nona SI ketakutan sambil menutup novel yang ia baca.
Sseettttt, Ssseeetttt. (Suara aneh itu terdengar kembali).
"Nona Altāf,, nona Ata.. bangunn..!!" kata nona SI sambil menggoyangkan tubuh Aatali dan Aalubi.
Perlahan, Aalubi dan Aatali pun terbangun. Padahal sebenarnya mereka berdua masih ngantuk berat.
"Apaan sih nona Sinta, ini kan masih tengah malam. Kita ini ngantuk banget lho, nona. Ngapain sih ngebangunin aku?" tanya Aalubi dan Aatali.
"Ssttt, aku dengar suara aneh nih." kata nona SI.
Mereka terdiam. Dan, Sseeettttt, suara aneh itu masih terdengar dengan sangat jelas.
"Suara apaan sih ini?" tanya Aatali.
"Ssttt, mangkanya jangan berisik." kata nona SI.
Sseeettttt, lama - kelamaan suara itu menghilang.
"Sudah ah gak usah dipikirin, mungkin itu cuma kerjaan tukang kebun di villa ini. Udah ah kita lanjut tidur aja.." kata Aalubi.
Mereka pun kembali merebahkan badannya di kasur. Tapi tiba - tiba................................
"SIAAPAA KAAAUUU?? " terdengar suara bentakan DS dari arah dapur.
Mereka semua pun sontak kaget dan terbangun lagi.
"Itu suara si DS kan?" tanya Aalubi.
"APA YANG KAU LAKUKAN?" suara DS tampak gugup..
"TIIDAAAAAAKKKKK." Suara terakhir DS membuat mereka bertiga merinding.
Beberapa detik kemudian suara itu tidak terdengar lagi.
"Kenapa si DS?" tanya Aatali.
"Kita liat yuk." kata nona SI.
Mereka bertiga pun bergegas menuju ke dapur. Lalu mereka mengamati lantai dapur, dan mereka tidak mendapati seseorang pun disana, kecuali darah.
"Darah! Ini darah siapa?" tanya Aatali.
"Nggak tau. Lebih baik kita kembali ke kamar, perasaanku tidak enak." kata Aalubi.
===SIANG HARI (HARI KEDUA)=== DI RUANG TAMU.
"DS! DS! " teriak MN.
"MN, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya nona SI.
"Aku sedang mencari DS, semenjak tadi dia menghilang." kata MN.
"Ya, mungkin dia lagi lari pagi keliling villa sama si ICH." sahut Aatali.
ICH pun masuk kedalam villa dengan sekujuran tubuh bercucuran keringat. Dan sebagian bajunya dipenuhi tinta merah, seperti darah.
"ICH, kamu darimana?" cecar MN.
"Ehm. A... aku... aku dari hutan," sahut ICH gugup.
"Buat apa kamu ke hutan?" tanya Aatali.
"Be... berburu. A.. aku duluan ya, soalnya aku mau mandi. " sahut ICH.
MALAM KEDUA...
Tengah malam, MN keluar kamar menuju dapur. Ia haus, dan ingin segera minum. Saat sedang minum, tiba -
tiba (Swiingggg) seperti ada orang lewat di belakangnya. Dengan segera ia menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapapun.
"Nggak ada siapa
- siapa tuh, " sahut MN heran.
Ia pun kembali menghadap ke depan, dan tiba
- tiba (jleebb) gelas yang dipegangnya terjatuh dan sesuatu menusuk perutnya. Darah segar pun kembali mengalir dan membanjiri lantai dapur.... Dan (bruuuukkkk) MN pun kehilangan keseimbangan dan terkapar di lantai. Orang tersebut tersenyum miring.
Nona SI pun keluar kamar akan menuju ke toilet dan tiba - tiba..........
"Aaaaaaaaaaaaaa........................."
teriak nona SI saat melihat tubuh MN terbaring tak bernyawa.
"MN! MN! Bangun MN! Sebenarnya apa sih yang terjadi?" kata nona SI sambil menggoyangkan tubuh MN. Berharap MN masih hidup tapi itu semua sia - sia.
===SIANG HARI==
Semua remaja itu pun panik begitu tau kedua temannya meninggal dengan tragis.
"Aku mau pulang!!"
teriak nona SI.
"Nona Sinta, janganlah pulang. Tetaplah disini bersama kami. " sahut ICH.
"Tapi ICH, villa ini tidak aman." kata nona SI gugup.
"Sama, aku juga mau pulang. Villa ini aneh," kata Aalubi.
"Tapi liburannya kan masih lama." sahut ICH.
"Tapi villa ini tidak aman lagi ICH. Buktinya dua orang teman kita sudah meninggal gara - gara di villa ini, " kata Aatali kesal.
"Iya, pokoknya aku besok akan
pulang!" kata nona SI.
"Aku juga!!" teriak Aalubi dan Aatali.
"Ba... baiklah. Besok aku akan mengantarkanmu pulang, " sahut ICH.
MALAM KETIGA:
Ketiga gadis remaja itu pun membereskan barang - barangnya, berharap besok bisa pulang cepat. Tapi tiba
- tiba......
"Yaaa, mati lampu." teriak Aalubi.
"Baiklah, aku cari lilin dulu ya. Kamu juga ikut nyari ya," sahut Aatali.
Aatali pun meraba - raba lemari, dan ia pun mendapatkan sebuah senter. Dan KLIK, belum sempat ia mencari lilin, lampu pun menyala kembali.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa........." teriak Aalubi.
Aatali pun kaget mendengar teriakan Aalubi dan langsung menghampiri Aalubi. Saat masuk kamar, mereka berdua (Aalubi dan Aatali) kaget karena melihat nona SI sudah terbaring tidak bernyawa dan memegang pisau yang menancap di perutnya. Dan ada juga bekas cekikan dilehernya.
"Hah! Lagi?" sahut Aatali. "Siapa pelakunya?" tanya Aatali heran.
"Aku juga nggak tau nona Ata. Soalnya aku nggak bisa ngeliat muka nya. Karena tadi kan gelap, " sahut Aalubi.
"Kita pasti lagi diteror, " kata Aatali.
"Apaaa, teror. Ini terlalu berbahaya, nona Ata. Kita harus segera pulang. Semakin lama kita disini, kita pasti akan terbunuh juga. " sahut Aalubi.
"Oiya kemana ICH? Kenapa setiap saat kejadian gini dia selalu saja menghilang!" gerutu Aatali.
==SIANG HARI==
Aalubi dan Aatali pun bergegas menyeret koper mereka keluar dari villa. Tapi saat tiba didepan pintu, ICH menahan mereka.
"Eits. Kalian mau kemana. Tolong jangan pergi dulu," kata ICH.
"Kenapa? Villa ini terlalu berbahaya. Kita mau pulang saja. Kita khawatir akan bernasib sama seperti ketiga teman kita, kalau kita tidak segera pulang. " sahut Aatali dan Aalubi serempak berbicara kepada ICH.
"Kalian pulangnya besok aja ya. Please. Aku mohon. Semalam aja deh kalian disini. Aku janji besok aku akan mengantarkan kalian pulang, " kata ICH.
"Aku heran denganmu ICH, kenapa kamu sangat memaksa kami untuk tetap tinggal di sini. Atau jangan - jangan............"
sahut Aalubi.
"Iya. Karena besok aku ulang tahun. Aku pengen banget merayakannya disini bersama kalian. Memangnya kalian nggak pengen apa ngerayain ulang tahun sahabat kalian sendiri?" tanya ICH.
"Baiklah, kami akan menginap disini lagi. Tapi ingat, hanya satu malam. Setelah itu kami akan pulang," kata Aalubi dan Aatali kesal.
Dan ICH pun tersenyum.
MALAM
KEEMPAT......
Aatali sedang duduk santai di ruang tamu sambil membaca novel. Tetapi... sesaat kemudian tiba - tiba terdengar suara derap langkah seperti ada orang yang berjalan ke arahnya. Aatali pun membalikkan badannya dan ia pun melihat kalau ICH lah yang sedang berjalan mendekatinya.
"ICH, apa yang kamu lakukan?" tanya Aatali.
ICH tidak menjawab. Dia malah mengeluarkan pisau dari saku celana nya.
"I... ICH... ka ... kamu kena ... pa. Memang... nya ad... ada apa?" sahut Aatali gugup.
"Aku benci kalian, karena kalian nggak pernah mengerti perasaanku sebagai seorang sahabat dan selalu merendahkan harga diriku. Aku selalu berbuat baik sama kalian, tapi kenyataannya kalian selalu mengejekku. " sahut ICH kejam.
"Ja... jadi kamu yang selama ini telah membunuh mereka semua?" tanya Aatali gugup.
"Iya, memang akulah pembunuhnya. Dan aku melakukan semua itu karena dendam. " kata ICH sambil mengacungkan pisau yang ia pegang kearah Aatali.
"I... ICH, aku mewakili mereka semua untuk meminta maaf kepadamu. Dan aku mohon ICH. Hentikan semua ini. Please, aku mohon. Karena semua ini tidak akan ada artinya kalau kamu tetap melakukannya. " kata Aatali panik.
"Tapi itu sudah terlambat, nona Ata!" kata ICH seraya menusuk perut Aatali.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... nonaaaaaaaaaaa Altāāāāāāāāāāāf. Toooooolooooonnnnggg akuuuuu, nonaaaaaaaaa. " teriak Aatali kesakitan. Sesaat kemudian (jleebb) Aatali pun kehilangan keseimbangan dan kemudian jatuh kelantai. Ia terkulai lemas tak berdaya dengan berlumuran darah di sekujur tubuhnya.
"ICH, apa - apaan ini? Apa yang kamu lakukan pada nona Ata?" tanya Aalubi.
"BALAS DENDAM nona Altāf, Aku muak dengan sikap kalian yang selalu mengejek dan mengolok
- olok ku. Dan inilah yang harus kalian terima. " kata ICH dengan tatapan kejam ke Aalubi.
"Tapi kan waktu itu kita semua udah minta maaf sama kamu. Dan kamu sendiri juga yang bilang kalau kamu sudah maafin
kita, " sahut Aalubi heran.
"Percuma nona Altāf, meskipun Aku sudah memaafkan kalian tapi luka batinku tidak akan sepenuhnya hilang. Hanya dengan kata maaf kalian tidak bisa membayarnya. Cara satu - satunya adalah ini, kamu harus mati!!" kata ICH tersenyum jahat seraya mengacungkan pisau kearah Aalubi.
"Tapi dengan membunuh kami semua itu juga nggak ada
artinya, " sahut
Aalubi.
ICH tetap tidak peduli dengan ucapan Aalubi. Ia mulai mendekati Aalubi dan menghujamkan pisau yang berlumuran darah Aatali ke punggung Aalubi. Aalubi pun seketika langsung terkulai lemas. Sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya Aalubi sempat berkata, "Kami minta maaf ICH. " hanya itu saja kata - kata yang terucap dari mulut Aalubi sebelum ia akhirnya tewas. "Sudah terlambat, nona. Maafkan aku nona Altāf, aku terpaksa harus melakukan ini semua supaya mimpi buruk di saat kalian menyakitiku itu tidak membayang
- bayangi kehidupanku lagi. " kata ICH meneteskan air mata setelah menusuk Aalubi.
Tapi dia kemudian tersenyum lagi.
"Bagiku ini sangat berarti, jika orang
- orang yang mengejekku mati dengan tanganku sendiri. HAHAHAHAHAHAHAHA! " kata ICH tertawa terbahak
- bahak.
"ICH, APA YANG KAMU LAKUKAN!!" teriak DS.
"Suara siapa itu?" sahut ICH kaget. Ia pun menoleh ke sumber suara dan mendapati DS sedang berdiri membelakanginya.
"D ... DS ... Ka... Kamu... Kamu masih hidup?" tanya ICH gugup.
"I.. Iya. A... Aku masih hidup, " kata DS.
"Tap... Tapi, bagaimana bisa?" tanya ICH.
"Iya. Waktu kamu selesai menusukku, kamu kan membuangku di hutan dengan keadaan badanku yang berlumuran darah. Waktu itu kamu mengira bahwa aku sudah mati makanya kamu membuangku ke hutan. Tapi aku belum mati, aku berhasil ditolong dan diselamatkan oleh seorang warga yang tinggal di sekitar sana. Mereka menolong dan menyembuhkan semua luka yang ada di sekujur tubuhku. Aku janji pada diriku sendiri, kalau aku sudah sembuh nanti aku akan membalaskan rasa sakit hatiku kepada orang yang telah membunuh teman - temanku. Aku tidak pernah menyangka kalau ICH yang agamis dan baik ternyata mampu menjadi seorang pembunuh yang sangat sadis. Awalnya aku tidak pernah percaya kalau kamu bisa setega ini, membunuh sahabat sendiri hanya karena diolok - olok. Tapi itulah kenyataannya dan siapapun kamu, sekarang aku harus membunuhmu, " tegas DS.
"Sebelum kamu membunuhku, aku lah yang akan membunuhmu terlebih dahulu. " kata ICH sinis.
Dan, tiba - tiba ICH menusuk DS di bagian perut secara membabi buta. Lalu DS juga mengeluarkan pisaunya dan membalas menyerang ICH dengan menusuk ICH dibagian kepala. Dan mereka berdua pun saling serang dengan menusuk semua bagian tubuh mereka, mulai dari kepala sampai kaki.
DS dan ICH pun berhadapan menetralkan pernapasan mereka.
"Tidak kusangka ternyata orang agamis dan polos sepertimu bisa menjadi seorang pembunuh yang sangat sadis," kata DS.
"Mangkanya jangan coba
- coba merendahkan orang sepertiku," sahut ICH.
DS dan ICH kembali saling serang. Leher DS jadi sasarannya ICH, dan begitu juga sebaliknya. Leher ICH juga jadi kena tusuk pisaunya DS. Dan mereka berdua yang terkena pisau sama - sama memegang pisau yang menancap di perutnya.
"Hhhmmm, aku senang karena aku bisa membalaskan dendamku kepada orang - orang yang telah menyakitiku. " kata ICH sambil menahan rasa sakit.
"Hhhmmm, aku juga senang karena aku bisa membalaskan dendamku kepada orang yang telah membunuh teman - temanku. " kata DS seraya menahan rasa sakit.
Dan akhirnya mereka sama
- sama terjatuh dan sama - sama tak bernyawa.
THE END......