Pengalaman horor penelitian di desa gaib
Tokoh:
1. DS
2. ICH
3. MN
4. Nona SY
5. Elok
6. Nona Altaf.
Tokoh pendukung:
1. Pak Tarmo
2. Simbah
3. Kakaknya Elok
4. Red Lady (sosok penari, tapi dia hantu/siluman ular).
Tahun 2021 akhir, semua siswa-siswi angkatan 2019 sudah hampir merampungkan semua persyaratan untuk kelulusan tahun depan. Hanya kurang satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa diluluskan sama pihak sekolah, yaitu mengadakan projek penelitian di tempat-tempat yang banyak pohon-pohon besarnya. Biasanya dilakukan di sebuah desa, sambil membantu atau membuat sesuatu yang bermanfaat untuk desa tersebut.
Dari semua wajah antusias itu, di sekolah, ada satu orang tampak menyendiri.
Altaf, begitu anak-anak lain memanggilnya. Ia tampak gugup, menyepi, menyendiri. Sampai panggilan telepon itu membuyarkan lamunannya.
"Aku sudah dapat tempat buat penelitiannya. " katanya di ujung telepon.
"Dimana?"
"Di kota X, di desa xxx . Banyak objek yang bisa diteliti, tak jamin, tempatnya cocok buat penelitian kita. "
Saat itu juga, Altaf mengajukan proposal kepada bu Ulya untuk meminta persetujuan bahwa penelitian sekelompok siswa tersebut akan dilakukan di desa xxx.
Semua persyaratan sudah terpenuhi, kecuali kelengkapan anggota yang harus melibatkan dua jurusan yang berbeda. Dan jumlah anggotanya juga ditentukan minimal harus 6 orang.
"Tenang, " kata Elok. Orang yang tempo hari memberi kabar ke Altaf kalau dia sudah mendapatkan tempat untuk penelitian mereka, yang ia observasi bersama kakaknya.
Benar saja, tak Berapa lama muncul ICH dengan nona SY. Si SY dan ICH bilang, kelengkapan anggota 6 orang sudah disetujui sama Bu Ulya.
"Siapa aja yang gabung, nona SY?" tanya Elok.
"DS sama MN nona Elok," jawab SY.
Lega sudah. Batin Altaf.
Surat keputusan untuk mengadakan penelitian sudah disetujui semuanya, terdiri dari penelitian kelompok dan individu, untuk tugas kelulusan yang kurang lebih dilaksanakan selama 6 minggu.
Hanya tinggal menunggu, sebelum pembekalan untuk keberangkatan.
Jauh-jauh hari sebelum malam pembekalan, Altaf berpamitan ke orangtuanya tentang penelitian yang harus ia tempuh. Ketika orang tua Altaf bertanya di mana tempat penelitiannya, saat Altaf memberitahu orangtua nya kalau tempat penelitiannya ada di desa terpencil, terlihat raut tidak suka dari wajah ibunya.
"Nggak ada tempat lain apa, kenapa harus di kota X?" tanya ibunya. "Di daerah xxx sana isinya hutan semua, nggak pantas ditinggali sama manusia. " wajah ibunya menegang.
Namun setelah Altaf menjelaskan, bahwa sebelumnya sudah dilakukan observasi, wajah ibunya melunak.
"Perasaan ibu nggak enak, nak. Apa nggak bisa cari tempat lain, jangan di daerah terpencil yang kayak gitu. Apalagi katamu tempat itu jarang didatangi orang. "
"Nggak bisa bu, soalnya ini udah jadi keputusan dari Bu Ulya sama teman-teman sekelompokku. "
Akhirnya meski berat, akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan Altaf pergi.
Hari pembekalan, sebelum keberangkatan.
Altaf, Elok, SY, dan ICH, matanya melihat ke sekeliling tampak khawatir, 2 orang temannya yang seharusnya ikut dalam kelompok mereka belum juga kelihatan batang hidungnya. Sampai menjelang siang, akhirnya DS dan MN pun muncul.
Setelah berbasa-basi rencana penelitian dan proker-proker lainnya A sampai Z selesai, akhirnya mereka berenam pun berangkat.
"Naik apa kita nanti ke sana nya guys?" tanya MN.
"Naik elf MN." jawab SY.
"Sampai desa nya ta SY naik elf nya?" tanya MN lagi.
"Nggak MN, nanti kita berhenti dulu di rest area yang ada di sekitaran situ. Terus nanti ada warga desa yang jemput kita pakai sepeda motor," jawab SY.
Mendengar itu, Altaf bertanya ke Elok, "Elok, memangnya mobil nggak bisa masuk ke situ ta?"
"Nggak bisa, soalnya daerah situ nggak punya akses jalan buat mobil masuk. Jalannya kecil, cuma muat dilewati satu sepeda motor. Tapi tenang, nggak terlalu jauh kok dari jalan raya, palingan dari jalan raya sampai ke desanya sana 45 menitan. "
Di sinilah cerita itu dimulai.
Sesuai yang dikatakan SY, mobil berhenti di rest area sekitaran desa xxx. Menempuh sekitaran 3 jam dari kota mereka. Nggak terasa hari sudah mulai petang, cahaya gelap, belum lagi area dekat hutan dan di sana tiba-tiba hujan gerimis, lengkap sudah.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, terlihat dari jauh, cahaya mendekat. Elok dan SY melambaikan tangan ke Altaf, DS, dan MN. Kata mereka, orang desa yang menjemput sudah datang. Terlihat 6 orang lelaki paruh baya dengan 6 sepeda motor jadul.
"Anjir, kesananya sepeda motor an to." kata MN spontan. Ucapan yang dianggap biasa di kota mereka, ditanggapi dengan ekspresi sinis oleh orang-orang desa tersebut. Seakan ucapan tersebut adalah ucapan yang tidak sopan. Mereka memandang ke arah MN.
Entah kenapa, hanya Altaf seorang yang memperhatikan hal sedetail itu. Apapun itu, semoga bukan hal yang buruk.
Di tengah gerimis, jalanan berlumpur, pohon besar di kiri-kanan jalan, mereka tempuh dengan suara motor seperti sudah mau ngadat saja. Ditambah dengan medan jalan yang yang tidak rata dan naik turun, membuat Altaf berpikir kembali.
Sudah hampir sejam lebih, tapi motor masih berjalan lebih jauh ke dalam hutan.
Khawatir bahwa yang dimaksud Elok, setengah jam lewat 15 menit adalah setengah hari, Altaf mulai berharap semua ini cepat selesai.
Di tengah perjalanan, tidak ada satupun dari pengendara motor itu yang mengajaknya bicara, aneh. Apakah semua warga di sini pendiam semua, pikirnya.
Malam semakin gelap, dan hutan semakin sunyi sepi. Namun kata orang, dimana sunyi dan sepi ditemui, disana ada rahasia yang dijaga rapat-rapat.
Kini, Altaf pun merenung, dia berpikir. Apakah dia siap menghabiskan waktu 6 minggu di sebuah desa, di tengah hutan belantara pula. Jauh dari keramaian.
Ketika suara motor memecah suara rintik gerimis, dari jauh sayup-sayup terdengar sebuah suara.
Suara familiar, dengan tabuhan kendang dan gong, diikuti suara kenong, kompyang, membaur menjadi alunan suara gamelan.
"Apa ada yang lagi mengadakan hajatan di sini ya?" tanya Altaf dalam hati.
Dan ketika sayup-sayup suara itu perlahan menghilang, terlihat gapura kayu yang menyambut mereka.
Sampailah mereka di desa xxx, tempat mereka mengadakan penelitian selama 6 minggu kedepan.
"Permisi," kata lelaki itu sebelum meninggalkan Altaf dengan sepeda motornya.
"Kesinio guys!" teriak Elok dari kejauhan. Disampingnya berdiri seorang lelaki paruh baya berpakaian batik khas ketimuran, wajahnya tenang dan berkumis tebal. Ia berdiri seolah sudah menunggu sedari tadi.
"Kenalin, ini Pak Tarmo. Lurahnya desa ini, temennya kakakku. Pak, Ini loh teman-teman saya dari kota S yang mau penelitian disini." kata Elok seraya memperkenalkan Pak Tarmo ke teman-temannya.
Pak Tarmo pun memperkenalkan dirinya, disitu dia menceritakan sejarah desa nya. Dan di saat Pak Tarmo bercerita, Altaf pun bertanya.
"Pak, desa nya kok sepelosok ini."
Sambil tertawa sumringah, Pak Tarmo menjawab... "pelosok gimana maksudnya mbak, orang tadi dari jalan raya cuma setengah jam aja kok."
Tatapan bingung Altaf, disambut tatapan bertanya oleh teman-teman lainnya. Seolah-olah pertanyaannya membingungkan.
"Alaahh, mungkin itu cuma halusinasi anda saja, mbak. Mungkin mbak berhalusinasi karena mbak capek... jadi kalau gitu mari saya antarkan kalian semua ke penginapan kalian. Biar kalian bisa istirahat."
Di tengah kebingungan itu, Elok menegur Altaf.
"Maksudmu itu apa sih, Taf. Tanya kayak gitu ke Pak Tarmo, bikin aku malu aja."
Di situ Altaf menyadari, ada yang salah.
Tempat penginapan untuk anak laki-laki adalah rumah gubuk yang dulu pernah dipakai untuk posyandu, tapi sudah diubah sedemikian rupa, meski beralaskan tanah. Tapi di sana sudah ada ranjang tidur beralaskan tikar.
Sedangkan tempat penginapan untuk anak perempuan adalah rumah milik salah satu warga.
Di dalam kamar, Altaf pun bertanya, maksud ucapannya kepada Pak Tarmo. Karena bila dirasakan oleh Altaf sendiri, itu lebih dari satu jam. Elok membantah bahwa lama perjalanan tidak sampai se- lama itu. Anehnya, nona SY memilih tidak ikut berdebat.
Dia hanya diam.
"Gini, kamu dengar tidak, tadi pas di jalan di tengah hutan tadi ada suara orang memainkan gamelan?"
"Ya palingan ada orang lagi hajatan, apalagi?"
Berbeda dengan Elok, SY menatap Altaf dengan ngeri.
Sembari berkata lirih, SY yang harusnya paling ceria di antara mereka berkata,
"Gak ada desa lain disini. Jadi nggak mungkin ada acara di sini. Mendiang nenekku dulu pernah bilang, katanya kalau ada suara gamelan yang nggak ada wujudnya, itu biasanya pertanda buruk."
Mendengar itu, Elok langsung tersulut emosi, dan dia menuduh SY bicara yang tidak-tidak.
"SY, kamu jangan ngomong sembarangan. Kamu itu ikut observasi di kampung ini sama aku, belum sehari kamu udah ngomong hal-hal yang gak masuk akal gini."
Elok pergi, meninggalkan Altaf dengan SY.
Saat itu, SY mengatakannya.
"Taf, aku tadi juga dengar loh suara gamelan. Malah aku juga lihat ada penarinya di jalan tadi."
"Astagfirullah." kata Altaf tak percaya.
SY menatap nanar Altaf. Air matanya sudah seperti memaksa keluar. Altaf memeluk dan mencoba menenangkannya. Benar kata ibunya tempo hari.
"Air selalu mengalir ke timur. Yang bermakna, timur adalah tempat dikumpulkannya sesuatu, antara yang buruk dan yang paling buruk. Dan kini ia harus tinggal di hutan paling timur.
Cerita tentang Altaf dan SY tentang suara gamelan tadi baru awalnya saja. Ibarat kopi masih sampai di rasa yang paling manis, belum sampai di rasa yang paling pahit.
Altaf memang percaya terhadap hal-hal yang berbau gaib. Karena itu ada di dalam ajaran agamanya. Namun baru kali ini dia merasakan langsung, walau hanya sekedar suara. Berbeda dengan nona SY, temannya, ia mengaku melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat.
Mungkin nona SY lebih sensitif.
Memang, sejak awal, SY yang paling berbeda di antara yang lain. Hanya dia seorang yang berhijab. Dibandingkan dengan Elok dan dirinya sendiri, nona SY yang terlihat paling religius. Karena setau Altaf, SY adalah alumni SMP berbasis boarding school ternama di kota "Y".
Terlepas dari itu semua, pengalaman penelitian ini tidak akan pernah dilupakan oleh semua rombongan ini.
"Nona SY." kata Altaf masih menenangkan SY.
"SY, bisa nggak cerita ini jangan sampai terdengar sama anak-anak, apalagi kalau terdengar sampai ke warga desa. Nggak enak tau'
. Soalnya kita kan tamu di sini. Positif thinking aja, Insya Allah semuanya baik-baik saja, selama kita menjaga sopan santun dan menaati aturan di sini, nggak akan terjadi apa-apa."
Keesokan harinya, semua rombongan sudah berkumpul. Sesuai janji Pak Tarmo kemarin, anak-anak akan mengelilingi desa, untuk melihat tempat-tempat yang menjadi objek penelitian/proker mereka. Sekaligus meminta saran kepada Pak Tarmo untuk proker/penelitian individu yang akan dikerjakan oleh masing-masing anak.
"Gini ini meskipun saya tinggal di sini saya juga pernah sekolah loh dek. Bahkan sampai ke tingkat sarjana." kata Pak Tarmo.
Mendengar itu, MN menimpali. "Itu loh guys, dengerin bapak nya. Biarpun orang desa tapi nggak lupa mengenyam pendidikan
formal."
MN melanjutkan, "dulu pak Tarmo sekolah di mana? Sekolah dan kuliah dimana?"
"Di kota F." jawabnya.
"Oh gitu, terus dulu kuliahnya jurusan apa? Perhutanan kah."
"Nggak. Pertanian." jawabnya lagi.
"Loh kok pertanian? Bukannya di sini nggak ada sawah ya. Gimana sih pak." timpal MN.
"Lah, kalau lulusan pertanian nggak harus kerja di sawah to. Kan kalau lulusan dari jurusan apa aja mau jadi apa kan ya terserah kita, tergantung niatnya, pengen jadi apa."
Jawaban Pak Tarmo sontak membuat tawa semua anak pecah. Altaf melirik nona SY, ia terlihat ceria, melupakan sejenak kejadian semalam.
Sampailah mereka di pemberhentian pertama, sebuah pemakaman desa. Aneh.
Itu yang pertama kali Altaf pikirkan, atau mungkin semua rombongan, karena di makam itu semua batu nisannya tertutupi oleh kain hitam.
Dan pemakaman itu juga dikelilingi oleh pohon beringin. Di setiap pohon beringin, di sampingnya ada sebuah batu besar. Dan di setiap batu besar itu, didepannya diletakkan sesajen.
SY yang tadi ikut tertawa, tiba-tiba menjadi diam. Ia menundukkan kepalanya, seolah tak mau melihat sesuatu. Pagi itu tiba-tiba terasa gelap bagi Altaf.
"Maaf pak, ini kenapa ya?"
Belum selesai Altaf bicara, tiba-tiba Pak Tarmo memotongnya.
"Saya tau, pasti ada yang mau kamu katakan dek. Kamu pasti tanya kenapa semua batu nisan ini ditutupi kain hitam, yakan."
Altaf mengangguk. Rombongan menatap Pak Tarmo dengan serius, kecuali DS dan MN. Samar-samar terdengar mereka tertawa kecil.
"Ini tuh namanya Sangkarso, kepercayaan warga sini. Biar tau, ini loh pemakaman. " terang Pak Tarmo yang jawabannya sama sekali tak membuat serombongan anak merasa puas. Sampai-sampai DS dan MN walaupun pelan tapi sengaja menyindir, tapi Pak Tarmo bisa mengetahuinya.
"Sebodoh-bodohnya orang, pasti bisa lah bedain makam sama lapangan bola pak."
Pak Tarmo yang awalnya tersenyum penuh candaan, tiba-tiba diam dan raut wajahnya berubah tak tertebak.
"Semoga kalian paham ya mengenai apa yang saya bicarakan."
Kalimat Pak Tarmo seperti penekanan yang mengancam. Setidaknya itu yang Altaf rasakan. Sontak, ICH langsung merespon dengan meminta maaf. Namun DS dan MN memilih diam setelah melihat respon Pak Tarmo.
"Sudah Pak, mungkin bisa lanjut ke tempat berikutnya. "
Tempat berikutnya adalah sinden (kolam, tempat air keluar dari tanah) Pak Tarmo mengatakan bahwa tempat ini menjadi tempat penelitian dan proker paling menjanjikan, karena air di sini bisa diteliti, sebab air ini sangat berbeda dari air di tempat-tempat lain pada umumnya. Selain itu, tak jauh dari sana, ada sungai. Pak Tarmo inginnya sungai dan tempat itu dihubungkan, jadi semacam jalur air.
Tanpa terasa, hari sudah siang.
Elok dan Altaf sudah memetakan semua tempat yang ditunjukkan Pak Tarmo. Memberinya warna merah sampai biru, dari yang paling utama sampai yang paling akhir dikerjakan.
Namun tetap saja, selama perjalanan, Altaf banyak sekali menemui keganjilan. Keganjilan yang paling mencolok adalah, tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali, dia melihat banyak sesajen yang diletakkan di atas tampah, lengkap dengan bunga dan makanan yang diletakkan disana. Ditambah aroma kemenyan, membuat Altaf tidak tenang.
Setiap mau bertanya, hati kecilnya selalu mengatakan bahwa itu bukanlah hal yang bagus.
SY, setelah dari sinden, ia meminta izin kepada teman-temannya untuk pulang ke penginapan dengan alasan nggak enak badan. Dengan sukarela ICH ikut menemani SY pulang ke penginapan. Sehingga observasi hanya diikuti 4 orang saja.
Kemudian, sampailah di titik paling menakutkan.
'Palace Ghost Red Lady'. Itu nama tempatnya. Kalau kata Pak Tarmo, ini adalah batas dimana anak-anak dilarang keras melintasi sebuah jalan setapak yang dibuat serampangan, di kiri kanan dibentangkan kain merah lengkap dengan janur kuning, layaknya sebuah pernikahan.
"Kenapa kami dilarang keras melintasi sini pak?" tanya Elok penasaran.
Pak Tarmo diam lama, seperti sudah menyiapkan jawabannya tapi ia enggan mengatakannya.
"Itu adalah hutan belantara, nggak ada apa-apanya. Hanya buat pertimbangan aja, takutnya kalau kalian nekat masuk sini, terus kalau misalkan kalian tersesat, hilang, gimana? Nanti kami bakalan susah mencarinya. Sudah, nurut aja sama aturan. Ini juga demi keamanan kalian. Tau kan maksud saya?"
"Iya pak, kami mengerti. " jawab Altaf dkk.
Sekali lagi, bagi Altaf, itu bukan jawaban yang sebenarnya. Namun, perasaan merinding melihat jalan setapak itu memang nyata.
Observasi berakhir ketika Pak Tarmo mengantar rombongan kembali ke rumah beliau. Hingga akhirnya, DS dan MN bertanya dimana letak kamar mandi. Karena di tempat mereka menginap tidak ada kamar mandi.
Rupanya, setiap rumah di desa ini tidak ada satupun yang punya kamar mandi. Alasan tidak adanya kamar mandi ialah karena sulitnya akses air.
Tapi Pak Tarmo menjelaskan, di sebelah utara sinden, samping sungai, disana ada sebuah bilik dengan kendi besar berisi air. Tempat itu bisa digunakan untuk mandi dan buang air kecil/buang air besar. Ada lubang bata berukuran 15×15cm tempat untuk buang air kecil dan buang air besar.
Tidak berhenti sampai disitu, Pak Tarmo mengatakan, kendi itu akan selalu terisi penuh. Terutama untuk keperluan mandi dan buang air anak perempuan. Sedangkan anak laki-laki bisa mengisi air di kendi dengan menimba air di sungai.
Semua anak nampak paham, meski DS dan MN tampak keberatan. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
Sekembalinya ke penginapan, Altaf melihat nona SY tengah tertidur. Hari itu diakhiri dengan rapat dengan semua anak, lalu kembali ke kamar untuk mengerjakan laporan.
Sore menjelang malam, nona SY terbangun. Lalu Altaf memintanya untuk menemani dirinya ke bilik kamar mandi yang di samping sinden. Awalnya nona SY menolak, tapi Altaf memaksanya. Akhirnya SY mau, dengan catatan dia duluan yang masuk kamar mandi. Altaf pun setuju dan mereka berdua pun pergi.
Altaf nggak berpikir aneh-aneh, tapi selama di perjalanan, ia melihat rata-rata semua rumah warga sama, semua rumah tepan (tembok depan) kiri kanan terbuat dari gedek alias bambu yang dianyam. Langit sudah merah, setelah menempuh jarak yang lumayan, akhirnya tibalah mereka di sinden. Mereka pun langsung menuju ke bilik kamar mandi samping sinden.
Bangunan sinden itu menyerupai candi kecil, bedanya, kolamnya berbentuk segiempat dengan air yang jernih tapi berlumut. Setelah mencari-cari, akhirnya kamar mandi itu pun ketemu. Bilik kamar mandi itu berada tepat di samping pohon asem yang sangat besar, rindang, tapi mengerikan.
Sempat ragu, tapi Altaf bilang lanjut.
Rupanya benar, ada kendi besar di dalam bilik itu.
Air di dalam kendi pun masih terisi penuh. SY pun masuk dan Altaf nungguin di depan bilik. Matanya tidak bisa lepas dari bangunan sinden itu, yang entah kenapa seolah menarik perhatiannya. Disampingnya, ada sesajen itu.
Dari dalam bilik, terdengar suara air bilasan dari nona SY. Setelah mencoba mengalihkan perhatian dari sinden, Altaf baru sadar, di dekat tempatnya berdiri tercium bau kemenyan. Di telusurilah wewangian itu. Benar saja, di samping pohon asem itu pun ada sesajennya.
Yang lebih parah, bara dari kemenyan baru saja dibakar.
Antara takut dan kaget, Altaf langsung kembali ke pintu bilik. Dan dari dalam bilik sudah tidak terdengar suara bilasan.
"Nonaaa SY... nonaaa SY, buka pintunyaaa. " teriak Altaf sembari menggedor pintu bilik. Anehnya, hening, tidak ada jawaban dari dalam.
Masih terus berusaha memanggil, terdengar sayup-sayup suara lirih, lirih sekali... sampai-sampai Altaf harus menempelkan telinganya di pintu bilik.
Suara orang sedang berkidung. Kidungnya sendiri merupakan lagu jawa, suaranya sangat lembut... lembut sekali seperti seorang biduan.
"SY... SY, buka pintunya SY." spontan Altaf menggedor pintu nya dengan keras, dan ketika pintu terbuka, Altaf menatap SY dengan muka panik.
"Kenapa sih, Taf?" tanya SY.
Ekspresi ganjil Altaf membuat nona SY kebingungan. Terlebih mimik mukanya mencuri pandang bak dalam bilik.
"Cepetan, ayo mandi o, Taf. Gantian aku yang jaga di depan. Ini handuk sama baju ganti mu. Oiya, ini kreseknya. Cepetan, ntar keburu maghrib" kata SY sembari menerapkan handuk, baju dan tas kresek ke Altaf.
Kaget, Altaf ragu, melihat samping bilik ada sesajen... dia bingung, Apakah harus menceritakan soal ini ke SY. Dengan ragu, Altaf pun masuk bilik kamar mandi. Ia menggantungkan handuk dan kreseknya di paku yang ada di dinding bilik. Kemudian dia mencopot bajunya.
Di dalam bilik sangat lembab, kayu di bagian dalamnya sudah berlumut, di depannya ada kendi besar. Setengah airnya sudah terpakai... meraih gayung yang terbuat dari batok kelapa, dengan gagang terbuat dari kayu jati yang diikat dengan sulur. Perlahan-lahan dia mulai membasahi bagian tubuhnya dengan air. Masih terbayang di benaknya nyanyian lagu jawa tadi. Anto mencuri pandang, ia tidak sendiri.
Suasananya seperti ada sosok yang mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sosok itu seperti wanita dengan wajah nan cantik jelita, masalahnya, Altaf tidak tau siapa pemilik wajah tersebut.
Ia berdiri didepan kendi. Mulai mengguyur air ke badannya, ia merasakan dingin air yang membasuh badannya.
Sunyi, sepi, SY tidak bersuara di luar bilik. Memberi sensasi kesendirian yang membuat bulu kuduk merinding.
Dia keramas. Setiap dia membasahi kepalanya, dia memejamkan mata. Setiap matanya terpejam dia selalu terbayang wanita cantik itu. Tersenyum memandangi dirinya.
Altaf membatin, "siapa pemilik wajah cantik itu."
Kemudian kidung itu terdengar lagi. Altaf berbalik, mengamati suaranya, dari luar bilik . Tempat SY berdiri sendirian. Apakah SY yang sedang berkidung.
Pertanyaan itu menancap keras di pikiran Altaf.
Usai sudah acara mandi di sore itu, Altaf dan SY memutuskan untuk kembali ke penginapan mereka. Di perjalanan pulang, ia mencuri pandang pada nona SY. Matanya mengawasi, seakan tidak percaya, kemudian ia pun bertanya pada nona SY.
"Nona SY, Kamu bisa nyanyi lagu jawa ya?"
SY mengamati Altaf, ia hanya diam tak menjawab pertanyaan Altaf. Kemudian ia pergi meninggalkan Altaf. Seperti dia membawa rahasianya sendiri, tanpa mau menceritakannya kepada Altaf.
Listrik di desa ini pakai genset, jadi ketika Jam 9 malam, lampu utama dimatikan dan diganti dengan lampu petromak. SY Sudah terlelap tidur, hanya tinggal Altaf dan Elok yang menyelesaikan progres untuk penelitian/proker besok pagi.
Altaf masih teringat kejadian sore tadi. Tapi, melihat respon Elok yang seperti itu waktu dia cerita mengenai keganjilan-keganjilan yang dia alami, akhirnya membuat Altaf mengurungkan niatnya untuk menceritakan unek-uneknya kepada Elok. Dia takut Elok marah-marah sama dia seperti tempo hari, yang waktu dia tanya ke Pak Tarmo kok di jalan rasanya lama banget. Dia takut nanti kalau Elok menceramahi nya ditengah malam, takutnya mengganggu pemilik rumah dan juga nona SY.
Ditengah keheningan mereka mengerjakan progres, Elok mengatakan sesuatu pada Altaf.
"Tadi siang, pas aku sama ICH ngecek progres buat proker/penelitian, pas muteri desa... ingat nggak sama Palace Ghost Red Lady? Nah, ICH tuh tadi ngajak aku ke situ. Katanya dia kepo sama tempat itu. Ternyata, nggak jauh dari tempat itu, ada rumah sanggar."
Altaf terdiam agak lama, memproses kalimat Elok.
"Loh, bukannya kamu sudah ngerti ya kalau kita semua nggak boleh ke sana. Terus kamu kok masih ngeyel buat kesana?" tanya Altaf.
"Loh, bukan aku!" sanggah Elok. "ICH yang ngajak. Tadi soalnya dia bilang ke aku kalau dia lihat sosok perempuan cantik. Ya cantik ala-ala putri kerajaan gitu. Sosoknya cantik pakai kemben merah, terus dia pakai selendang merah, udah gitu dia itu nari sambil berkidung lagu jawa. Terus dia nari ditontonin banyak orang, diiringi alunan gamelan. Karena kepo, dia ngajak aku buat ngejar perempuan itu... sama orang-orang yang berkerumun itu, tapi setelah dikejar sosoknya ngilang."
"Sudah tau dilarang ke sana, terus kok kamu ngotot tetap ke sana?" tanya Altaf lagi.
"Haduh, kamu itu gimana sih, Taf. Ya kan aku ngejar ICH. Nanti kalau misalnya dia hilang gimana? Kan kita semua yang repot. Masa' itu anak dibiarin aja." jawab Elok.
Perdebatan mereka berhenti sampai disana, namun perasaan itu.
Altaf merasa perasaannya semakin tidak enak. Sejak menginjak desa ini, semuanya terasa seperti kacau balau.
Karena malam semakin larut, Altaf pun beranjak pergi ke kamar. Di sana ia melihat SY sudah tertidur lelap. Elok pun menyusul kemudian, berharap malam ini segera berlalu.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki. Saat Altaf melihat apa yang terjadi, ia melihat bayangan nona SY melangkah keluar.
Ragu, apakah mau membangunkan Elok. Altaf pun beranjak dari tempatnya tidur, berjalan, mengejar nona SY.
Rumah sudah gelap gulita, tampaknya sang pemilik rumah sudah terlelap di kamarnya. Pintu rumah sudah terbuka lebar. Dengan perlahan, Altaf melangkah kesana.
Malam itu sangat gelap, lebih gelap dari perkiraan Altaf. Bayangan pohon tampak lebih besar dari biasanya, dan sayup-sayup terdengar suara binatang malam, sangat sunyi, sangat sepi... kesana kemari dilihatnya keberadaan SY. Altaf terpaku melihat SY di depannya.
SY berdiri di tanah lapang depan rumah. Dia menari dengan sangat anggun, tanpa alas kaki. SY berlenggak-lenggok layaknya penari profesional.
Altaf, termangu mematung melihat temannya seperti itu. Ragu, Altaf mendekatinya. Tak pernah terpikirkan olehnya, SY bisa menari seperti ini.
"Nona SY. " teriak Altaf. Tapi sosok SY seperti tidak mendengarnya, ia terus saja berlenggak-lenggok. Seraya beberapa kali menatap Altaf dengan ngeri. Sorot matanya tajam kearah Altaf. Melihat nona SY seperti itu. bulu kuduk Altaf seketika merinding.
Dari jauh, sayup-sayup suara kendang terdengar lagi. Membuat ketakutan Altaf semakin bertambah. Diiringi dengan suara gamelan, campur aduk dengan tarian SY yang seperti mengikuti alunan itu.
Kaki semakin ingin lari dan melangkah masuk ke dalam rumah. SY semakin menggila, ia menari dengan senyuman ganjil di bibirnya. Altaf pun memaksa temannya itu untuk menghentikan tariannya, ia meminta temannya untuk berhenti bersikap aneh.
Dan saat itulah, wajah SY berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Sorot matanya tajam, dengan mata nyaris hitam semua. Altaf menjerit sejadi-jadinya.
Kali berikutnya, seseorang memegang Altaf kuat sekali. Menggoyangkan sembari memanggil namanya.
MN.
Altaf melihat MN yang menatapnya dengan tatapan bingung plus takut.
"Malam-malam ngapain di sini, anj**g! Nari-nari gak jelas seorang diri."
Jeritan Altaf rupanya membangunkan semua orang, termasuk pemilik rumah. Altaf melihat semua orang sorot matanya memandanginya, tak terkecuali SY yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Ada apa sih nak?" Kalimat itulah yang pertama kali Altaf dengar. Si pemilik rumah tampak khawatir, namun Altaf lebih tertuju kepada SY. Ia juga memandang dirinya, mereka sama-sama termangu memandang satu sama lain.
Kejadian itu diakhiri dengan cerita MN.
MN menceritakan semuanya, awalnya ia hanya ingin duduk-duduk santai di teras posyandu sambil ngopi dan baca koran. Kemudian ia tidak sengaja melihat seseorang sendirian, menari-nari di tanah lapang. Karena penasaran ia pun mendekatinya. Sampai MN baru sadar kalau yang menari itu adalah Altaf.
Semua yang mendengarkan cerita MN hanya bisa menatap nanar, tidak ada yang berkomentar. Si pemilik rumah akhirnya menyuruh mereka semua bubar dan masuk ke dalam rumah, karena hari semakin larut.
Si pemilik rumah berjanji akan menceritakan semua ini kepada Pak Tarmo.
Namun, ada satu hal yang sengaja tidak diceritakan oleh MN. Nanti, ia akan menjelaskan semuanya.
Namun, malam itu benar-benar malam yang gila. Malam itu seakan menjadi pembuka rangkaian kejadian yang mereka hadapi di sela-sela penelitian mereka, ke dalam situasi yang paling serius.
Semua orang sudah berkumpul memenuhi panggilan Pak Tarmo. Beliau bertanya tentang kronologi kejadian. Elok mengaku tidak tau, Altaf mengatakan bahwa ia sedang mengejar SY yang keluar rumah. Namun, SY mengatakan kalau ia hanya pergi ke dapur untuk minum.
Semua penjelasan itu tidak membantu sama sekali. Tapi, tampak dari raut wajah Pak Tarmo, ia seperti tertarik pada Altaf yang menari. Padahal ia tau latar belakangnya Altaf yang dari pengakuannya, ia mengaku tidak pernah belajar menari sebelumnya.
Hari itu, Pak Tarmo meminta Altaf, Elok, dan MN menemaninya.
SY pergi. Dia masih harus mengerjakan penelitian/proker individualnya.
Berbekal motor jadul yang mengantar mereka tempo hari untuk masuk ke desa ini, Pak Tarmo mengajak mereka bertiga ke rumah seseorang. MN membonceng Altaf, Elok berboncengan dengan Pak Tarmo. Jalur yang mereka tempuh hampir sama dengan jalur yang tempo hari. Anehnya, kali ini, Altaf merasakan sendiri... untuk sampai ke jalan raya tidak sampai sejam, bahkan kurang dari 30 menit. Berbeda dengan waktu dimana orang-orang desa menjemput mereka berenam, di situ ia merasakan waktu yang mereka tempuh sangat lama. Lebih dari sejam.
Rumah yang Pak Tarmo datangi, rupanya rumah seseorang. Melintasi jalan besar, kemudian masuk lagi ke jalan setapak buatan. Rumahnya bagus. Malah bisa dibilang, rumah itu yang paling bagus dibandingkan rumah orang-orang desa. Hanya saja, rumah itu berdiri di tengah sisi hutan belantara yang lain.
Rumah itu berpagar batu bata merah, banyak bambu kuning. Rumah itu terlihat sangat tua, namun masih enak dipandang mata.
Di depan rumah ada orang tua, kakek-kakek. Sudah sepuh. Berdiri, seolah sudah tau kedatangan mereka berempat.
Tidak ada yang tau nama kakek itu, tapi Pak Tarmo memanggil beliau nya dengan sebutan 'simbah'. Setelah Pak Tarmo menceritakan semuanya, wajah kakek itu tampak biasa saja. Seolah ia tidak tertarik dengan cerita Pak Tarmo yang membuat anak-anak masih tak habis pikir.
Sesekali anak-anak melihat kalau sang kakek sesekali menatap Altaf seperti mencuri pandang pada Altaf. Namun, itu ya hanya sekedar mencuri pandang saja, tidak lebih.
Dengan suara serak, sang kakek masuk ke dalam rumah. Ia kembali ke teras rumah dengan 5 gelas kopi. Dan ia mempersilahkan anak-anak untuk mencicipi kopinya.
Melihat kopi itu, anak-anak bengong. Tapi, Altaf mengatakan ia enggan meminumnya, karena Altaf tidak suka minum kopi. Tapi, kakek itu memaksa semua anak untuk meminum kopinya, dengan alasan tidak baik menolak pemberian tuan rumah. Tapi senyuman ganjil kakek itu, membuat Altaf segan. Dan akhirnya Altaf pun terpaksa mencicipi kopi itu, meski hanya satu teguk saja. Kopinya terasa manis, tercium aroma melati. Altaf yang awalnya hanya coba-coba, tanpa sadar kopi itu sudah ia habiskan. Gelasnya sudah kosong.
Tak hanya Altaf, semua orang disuruh mencicipi kopi buatan sang kakek. Alasannya tidak sopan menolak pemberian tuan rumah. Karena segan dengan si kakek, akhirnya semua anak pun mencicipi kopinya.
Tiba-tiba, Elok dan MN kaget sampai-sampai mereka berdua harus menyemburkan kopinya. Mereka berdua kompak memperlihatkan wajah bingung, karena rasa kopinya tidak hanya pahit... tapi sangat pahit sampai-sampai tidak ditolerir oleh kerongkongannya. Anehnya, Pak Tarmo meminum kopi itu biasa saja.
"Begini." kata sang kakek. Beliau berbicara dengan Bahasa Jawa yang lembut sekali, sampai-sampai anak-anak tidak dapat memahami ucapannya. Ada kata 'penari' dan 'penunggu' , tapi yang lainnya tidak dapat dicerna. Ia menunjuk Altaf tepat di depan mukanya, ia memperlihatkan muka serius.
Pak Tarmo memperhatikan dengan seksama, lalu berpamitan pulang.
Sebelum mereka semua pulang, kakek itu memberikan kunir tepat di dahi Altaf. Katanya, untuk menjaga Altaf saja.
Kunjungan itu tidak diketahui sama sekali tujuannya. Tapi selama di perjalanan, Pak Tarmo cerita tentang kopi.
Kopi yang dihidangkan oleh 'simbah' tadi adalah kopi hitam yang diracik khusus untuk memanggil lelembut, setan dan sejenisnya... bukan kopi untuk manusia. Sehingga jika ada orang yang mencoba kopi itu untuk pertama kalinya, orang itu pasti memuntahkannya. Tapi bagi bangsa lelembut, kopi itu manis sekali rasanya.
Semua anak memandang Altaf.
Namun Pak Tarmo segera mengatakan hal lain, ia berkata. "Maaf nak, di belakangmu ada yang mengikuti kamu."
Selain mengatakan hal itu, Pak Tarmo juga mengatakan bahwa Altaf tidak perlu takut, ia tidak akan serta merta diapa-apakan, hanya diikuti saja. Oleh karena itu, Altaf tidak boleh dibiarkan sendirian. Harus selalu ada yang menemani. Oleh karena itu, Pak Tarmo punya gagasan.
Mulai malam ini, dirinya dan mereka berenam akan tinggal di satu rumah. Hanya disekat bambu anyam saja. Pak Tarmo hanya meminta satu hal, Jangan melanggar etika dan norma yang ada di sini.
Pak Tarmo juga meminta agar pertemuan ini jangan diceritakan ke siapapun, termasuk SY, DS, dan ICH.
Tempat tinggal mereka yang baru tepat ada di ujung, cukup besar, bekas keluarga yang merantau. Ini sekaligus jawaban mengapa jarang sekali ditemui anak-anak seumuran mereka di desa ini, karena kebanyakan anak-anak disini yang sudah akil balig pasti akan pergi merantau.
Di belakang rumah ada batu kali cukup besar, dengan beberapa pohon pisang... dan dikelilingi daun tunas.
DS awalnya tidak setuju mereka pindah, karena atmosfer rumahnya yang memang tidak enak dan bisa terlihat dari luar. Namun, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena ini perintah dari Pak Tarmo.
Setelah kejadian itu, Elok sedikit menghindari Altaf.
Altaf paham akan hal itu, tapi MN sebaliknya. MN memberi semangat pada Altaf agar ia tidak mencerna mentah-mentah pesan orang tua itu.
Di sini, MN menceritakan kejadian yang tidak ia ceritakan di malam kejadian itu.
"Taf, ICH gak papa ta?" tanya MN.
"Aku nggak tau, MN. Lah kamu kan temennya, masa' dia kemana kamu nggak tau?" tanya Altaf bingung.
"ICH itu tiap tengah malam keluar, nggak tau entah kemana, Taf. Nggak tau ngerjakan penelitian/prokernya atau gimana, tapi dia balik-balik itu mesti pas udah pagi. Tapi kalau misalnya dia ngerjakan penelitian/prokernya kok harus tengah malam?"
"Aku nggak paham, MN. " keluh Altaf.
"Terus ya, Taf. Udah gitu aku sering dengar dia ngomong sendirian di dalam kamar. "
"Ya nggak mungkin lah, MN. Aku ngerti betul ICH itu gimana. Dia itu gak mungkin ngomong kalau nggak ada yang ngajak ngomong. Kalau nggak ada yang ngajak ngomong itu dia biasanya baca novel atau main game."
"Sumpah, Taf. Aku nggak bohong. Terus aku juga sering dengar dia ketawa-ketawa sendiri, gila kali."
"ICH itu anak baik dan agamis MN, jadi nggak mungkin dia ngelakuin yang aneh-aneh."
"Yasudah, kalau kamu masih nggak percaya, tanya o DS. Malam sebelum kejadian itu, ICH sebenarnya ada di kejadian, dia cuma ngeliatin kamu dari jendela. Paham kamu sekarang, memang gila tuh anak."
Altaf bengong lama, memproses kalimat MN. MN langsung pergi meninggalkan Altaf dengan raut muka kesal.
Malam semua anak sudah berkumpul. SY ada di kamar, ia lagi salat.
Altaf di ruang tengah sendirian, sedangkan Elok, MN, dan DS ngobrol di teras rumah. ICH, ada pertemuan dengan Pak Tarmo.
Sebelum, terdengar lagi suara kidung. Suaranya terdengar dari arah dapur.
Untuk mencapai dapur, Altaf harus melewati kamar. Di sana, ia melihat SY sedang bersujud. Semakin lama, suaranya terdengar dengan sangat jelas.
Dapur di rumah ini hanya ditutupi tirai. Saat Altaf membuka tirai, dirinya melihat nona SY tengah meneguk air dari teko... lengkap dengan mukenanya.
Altaf mematung, diam lama. Sampai SY yang tengah minum pun melihat Altaf. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Ada apa sih, Taf?"
Altaf masih diam. SY pun menghampiri Altaf. Sontak Altaf pun langsung lari ke kamar. Saat dirinya masuk kamar, dia tidak melihat SY disana.
"Ada apa sih ini sebenarnya?" tanya SY yang sekarang berada di samping Altaf. Dia melihat Altaf ketakutan. Bahunya terasa dingin. Tangannya masih gemetaran, sampai semua anak melihatnya kemudian menghampiri Altaf dan SY.
"Ada apa sih ini kok ramai sekali?" tegur Elok.
"Nggak tau, anak ini tuh dari tadi ditanyain nggak jawab-jawab." sahut SY.
"Kamu kenapa sih, Taf. Kok kamu gemetaran gini?" tanya DS.
SY cuma diam, melototin Altaf.
"SY, ambilkan minum gitu loh, kok malah diam aja sih!" tegur DS.
ST kembali dengan teko yang dia pakai minum tadi. Lalu memberikannya ke Altaf. Altaf pun langsung meneguk air dari teko tersebut. Lalu tiba-tiba Altaf diam lagi, membuat semua anak bingung.
Tangan kirinya masih memegang teko itu, tangan kanannya terangkat... lalu Altaf memasukkan jarinya ke mulutnya, disana ia berusaha mengambil sesuatu. Ada dua sampai tiga helai rambut yang panjang sekali, benar-benar rambut. Hitam, panjang, dan benar-benar keluar dari mulut Altaf. Semua yang menyaksikannya beringsut mundur, kaget.
Setelah berhasil menarik rambut- rambut itu keluar dari mulutnya, Altaf pun memeriksa teko itu untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Begitu teko dibuka, terlihat segumpal rambut, benar-benar rambut bercampur air di dalamnya.
SY yang melihatnya langsung bereaksi, "tadi aku ya juga minum dari teko itu, aku nggak ngerasain apa-apa. Aku nggak ngerti kalau di dalam teko itu ada begituan."
Altaf muntah sejadi-jadinya, dalam keadaan tegang itu, DS nyeletuk.
"Taf, kamu diincar ya. Katanya mamaku kalau tiba-tiba muncul rambut dan nggak tau dari mana asalnya, biasanya itu kalau nggak di santet ya diincar setan."
SY kemudian bertanya, "Taf, apa penari itu masih ngikutin kamu? Soalnya dari kemarin aku nggak ngelihat ada penari Itu di belakangmu."
Berhari-hari setelah pengakuan SY itu, Altaf semakin was-was. Ia pun jatuh sakit selama 3 hari. Dan selama itu juga, Altaf hanya terbaring di atas tikar kamar. SY tidak melanjutkan lagi ceritanya, karena SY merasa bersalah telah mengatakannya. Seharusnya ia menahan cerita itu.
Selama Altaf terbaring sakit, ia seringkali ditinggalkan sendirian di rumah itu. Dan selama tinggal di rumah itu, ada satu kejadian yang takkan pernah Altaf lupakan.
Semuanya dimulai ketika ia hanya berbaring di atas tikar kamar seorang diri. Elok dan SY pamit mengerjakan penelitian mereka. Semua anak laki-laki juga mengerjakan penelitian mereka masing-masing. Seharusnya, tidak ada satupun orang di rumah itu kecuali dirinya. Namun, siang itu, terdengar suara sesuatu yang dipukuli. Hal itu menimbulkan rasa penasaran, suaranya seperti benturan antara lempengan yang keras. Awalnya, Altaf membiarkannya.
Namun, semakin lama, Altaf tak tahan dan akhirnya memeriksanya.
Suara itu terdengar ada di belakang rumah, tepat di samping dapur. Altaf pun menghampiri tempat itu. Saat ia sampai di pintu dapur yang terbuat dari kayu, di sela-sela pintu Altaf mengintip.
Alangkah bingungny Altaf ketika melihat di antara pohon pisang, ada seorang bapak-bapak, usianya berkisar antara 50-an, berpakaian hitam layaknya orang yang akan berkebun. Ia berdiri di antara pohon pisang. Matanya dampak mengawasi rumah yang menjadi tempat penginapan Altaf selama penelitian.
Lama sekali, bapak itu berdiri mengawasi penginapan Altaf. Gerak-geriknya sangat mencurigakan. Bapak itu seperti ingin masuk ke dalam rumah, namun dia tampak ragu-ragu.
Ketakutan, tiba-tiba menghantui pikiran Altaf. Kemudian, selang beberapa menit, bapak itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
Rasa lega, Altaf pun berniat kembali ke dalam kamar. Disana, ia melihat DS baru saja masuk rumah. Mereka berpapasan. Bodohnya, Altaf tidak menceritakan kejadian tadi ke DS dan anak lain, karena besoknya kejadian itu terulang kembali.
Diawali suara keras yang sama, Altaf kembali mengintip. Kali ini, bapak itu lebih berani. Ia melihat kesana kemari, mendekati penginapan dan beberapa kali berusaha mengintip, dari gerak-geriknya, tampaknya bapak itu berniat buruk. Masalahnya, apa yang ingin dia cari di sini.
Memikirkan hal itu, tiba-tiba Altaf tersadar. Ia hanya di rumah ini sendirian, seorang perempuan, sendirian di dalam rumah. Dan seorang pria asing mendekati rumah itu. Apalagi kalau bukan.
Sesaat, ketika bapak itu berdiri di depan pintu dapur, suara keras itu tiba-tiba mengejutkannya.
Suara keras itu rupanya berasal dari batu kali, batu yang ada di belakang dapur. Keras sekali suaranya, sampai-sampai dia lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Altaf menyaksikannya sendiri, ada yang melempar batu cukup besar, tepat di batu kali. Tepat di belakang rumah, sehingga si bapak panik dan kemudian pergi. Altaf pun juga pergi.
Altaf pun mengadukannya kepada Pak Tarmo. Pak Tarmo kaget mendengar ceritanya, kemudian mencari si bapak. Dan ketemulah bapak itu, rupanya ia adalah salah seorang warga desa sini. Pak Tarmo lalu menegur bapak itu untuk tidak melakukan hal itu lagi. Pak Tarmo bertanya pada bapak itu mengapa ia mengawasi rumah anak-anak yang lagi penelitian. Bapak itu mengatakan kalau dirinya melihat sesosok wanita, entah benar atau tidak.
Bapak itu mengatakan, wanita yang dilihatnya mengenakan pakaian seperti dayang/penari. Dan dia melihat wanita itu masuk ke rumah. Namun karena takut disangka kriminal, akhirnya bapak itu mengawasinya diam-diam dari luar. Tapi di hari dimana ia lari tunggang langgang, dia melihat sesuatu di dapur rumah.
Bapak itu melihat perempuan tersebut menari dengan anggun di dapur rumah. Sesaat sebelum ia melihat wajahnya, si bapak kaget setengah mati, karena di balik sirat wajahnya yang ia sangka cantik jelita rupanya polos, tak ada bentuknya.
Apa yang diucapkan si bapak tidak dapat dipercaya, Pak Tarmo tidak punya bukti lebih jauh. Maka Pak Tarmo hanya menegur bapak itu agar tidak mengulangi nya lagi. Si bapak pun pergi.
Namun, ada hal lain yang dikatakan Pak Tarmo yang membuat Altaf bergidik ngeri.
"Ada yang nyoba mau memberi pesan sama anda, mbak."
kata Pak Tarmo.
"Siapa pak?" tanya Altaf.
"Kakek-kakek yang nunggu batu kali itu." kata Pak Tarmo lagi.
Setelah kejadian itu, Altaf diminta Pak Tarmo untuk ke rumahnya lagi kalau masih sakit.
Namun ada kejadian lagi yang Altaf alami, kali ini melibatkan SY. Dan alasan kenapa rentetan kejadian ini saling berhubungan satu sama lain.
Siang itu, ketika Altaf mengerjakan penelitian/prokernya yang sempat tertunda beberapa hari, MN mendekati Altaf. Ia menawarkan kesempatan untuk keluar desa sementara, karena harus membeli perlengkapan untuk keperluan penelitian/proker mereka, yang harus dibeli di kota dekat desa tempat mereka menginap.
"Taf, kamu mau ta ikut aku keluar bentar?" tanya MN.
"Jauh nggak dari sini?" tanya Altaf.
"Enggak kok, palingan cuma 1 ½ jam aja. Aku udah izin sama Pak Tarmo buat pinjam sepeda motornya." jawab MN.
"Ooo gitu." jawab Altaf singkat.
"Ikut nggak?" tanya MN.
"Iya, iya, aku ikut kamu deh MN."
MN melihat jam tangannya, Sudah jam 11 lewat. Ia harus cepat menyelesaikan urusannya di kota.
Karena sesaat sebelum meminta izin, Pak Tarmo sudah memperingatkan MN agar kembali sebelum petang. Saat MN menanyakan kenapa harus kembali sebelum petang, toh ada jalan setapak yang gampang ditelusuri untuk masuk ke hutan ini.
"Nggak tau apa yang ada di dalam hutan, nak." kata Pak Tarmo.
Altaf dan MN pun berangkat. Menembus jalan
setapak hutan. Lalu sampai di jalan raya, menyusurinya jauh, sangat jauh. Sampai akhirnya mereka tiba di kota X. Di sana mereka melihat ada pasar, kemudian mereka pun berhenti. Mereka pun segera membeli semua yang dibutuhkan untuk keperluan mereka.
Kurang lebih setelah 2 jam, setelah mencari kesana kemari, mereka pun mendapatkan semua barang yang mereka butuhkan. Mereka pun bergegas kembali.
MN berhenti di pom bensin. Ia harus mengisi bensin sepeda motornya dalam keadaan full seperti semula. Etika saat meminjam barang milik orang lain.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, sudah terlalu sore. Sejenak ia melihat Altaf dari jauh, ia duduk di dekat penjual siomay. MN pun menghampiri Altaf lalu mengajaknya membeli siomay. MN pun membeli siomay untuk dirinya dan juga Altaf. Saat itulah, sang penjual siomay melihat dirinya dan juga Altaf dengan muka serius seperti ingin menyampaikan sesuatu.
"Mas nya pendatang ya disini?" tanya penjual siomay.
"Tidak pak, saya lagi penelitian disini. " jawab MN.
"Tetap saja, mas nya orang luar kan. " kata si penjual sambil melihat MN dan Altaf secara bergantian.
"Kalau boleh tau, mas nya penelitian di daerah mana?" tanya si penjual siomay. MN pun menjelaskan semuanya, termasuk tempat dimana ia mengadakan penelitian. Terlihat jelas perubahan ekspresi wajah dari si penjual.
"Mas, udah jam segini, mendingan cari penginapan aja... nggak usah ke sana. Bahaya banget jalur itu kalau udah jam segini. Dan jam segini juga jarang kendaraan lewat. Besok pagi aja mas nya baru ke sana. " terang si penjual.
"Ndak Pak, saya lanjut aja. Soalnya temen saya sudah nungguin." kata MN.
Si penjual pun meminta kesediaan waktunya MN sebentar, untuk menjelaskan apa yang harus dia lakukan ketika lewat jalur hutan xxx. Dan MN mengiyakan.
"Gini mas, habis dari sini berarti mas nya kan lewat jalur hutan xxx. Nah nanti pas lewat sana tolong jaga konsentrasinya ya, apalagi mas nya bawa anak perempuan. Terus kalau lewat sana pelan-pelan aja, jangan terburu-buru. Karena jalur itu jalurnya nggak rata, naik turun dan angker. Terus selama disana anda harus banyakin doa, waspada, terus kalau ada suara-suara aneh yang nggak ada wujudnya, hiraukan aja. Terus kalau misalnya ada sesuatu yang mau mencelakakan kalian, udah lanjut aja kalau bisa lanjut. Nggak usah berhenti. Terus kalau ada yang nawarin sesuatu jangan mau. Kalau nggak nanti mas nya bisa dicelakai sama lelembut di hutan itu. Sampai sini mas nya sudah paham kan maksud saya?" ucapnya pada MN.
"Iya pak, saya mengerti." jawab MN.
Altaf yang mendengarkan percakapan itu sedari tadi hanya diam saja. Ia merenung dan berdoa, semoga dirinya dan MN diberi keselamatan selama dalam perjalanan. Baru kali itu, Altaf melihat orang yang sampai menceritakan dengan muka tegang. Bahkan, Altaf melihat bibir bapak itu gemetar saat menceritakan hal itu.
"Ya sudah Pak, saya pamit balik dulu. Nanti soalnya keburu malam. Terima kasih atas penjelasannya." ucap MN.
"Iya, hati-hati di jalan. Saya doakan kalian berdua selamat sampai tujuan." ucapnya.
Tepat saat langit mulai kemerahan, Altaf dan MN melanjutkan perjalanan. Dibelakang, Altaf mulai merasakan angin dingin yang menusuk badannya. Tak pernah di sangka, jalan masuk hutan lebih gelap saat petang menjelang. Cahaya motor yang dikendarai MN menembus kegelapan malam, kilauan pohon hutan di samping kiri dan kanan jalan menjadi pemandangan tak terelakkan. Hanya suara motor yang mampu menghidupkan suasana sunyi sepi di sepanjang jalan. Karena benar saja, tidak ada satupun pengendara yang melewati jalan itu selain motor mereka. Di sini MN mencoba mencairkan suasana dengan berandai-andai bagaimana jika nanti seandainya motor mogok atau bannya bocor. Sementara di tengah jalan di hutan ini, tidak ada satupun orang yang lewat selain mereka. Altaf menanggapi dengan kecut perkataan MN, takut hal itu benar-benar terjadi. Ternyata benar, setelah MN mengatakan itu, motor mereka bannya bocor.
Altaf, diam seribu bahasa. Hal kurang pintar dari manusia sejak dulu adalah memikirkan sesuatu yang buruk di kondisi paling buruk. Yang bahkan tidak seharusnya mereka lakukan, manakala doa bisa saja dikabulkan sewaktu-waktu.
"Taf, jalan o dulu! Biar aku bisa memantau kamu dari belakang." perintah MN setelah tidak tahan mendengar kata 'bodoh' yang beberapa kali terucap dari mulut Altaf, sepanjang mereka berdua menyusuri jalanan itu sendirian.
Sembari beberapa kali berusaha mencoba menyalakan motor, entah berapa lama mereka berjalan, dan belum ada satupun orang yang mereka temui untuk dimintai pertolongan... MN melihat Altaf berjalan di depan sendirian, tanpa menoleh sedikitpun ke arah MN. Seolah MN sudah melakukan kesalahan paling fatal yang pernah MN buat. Sampai, tiba-tiba langkah kakinya berhenti.
Altaf, tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. MN yang melihatnya, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah, pasti.
"Kalau kamu sampai kesurupan, bener-bener parah kamu, Taf. Kamu nggak lihat apa... aku udah capek dorong motor dari tadi."
Altaf melihat MN, mata mereka saling memandang satu sama lain.
"MN, kamu dengar nggak ada suara hajatan di sini?" tanya Altaf.
Bukan mau mengatakan Altaf sinting, tapi MN juga mendengar suara itu. Dan suara itu terdengar tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Taf, ingat nggak kata penjual siomay tadi. Kalau ada apa-apa lanjut aja."
Seperti kata MN, Altaf pun melanjutkan perjalanan. Semakin mereka berjalan, suara itu semakin keras terdengar dan semakin lama. Diiringi suara tertawa orang hajatan, sampai di lihatnya, terdapat janur kuning melengkung, disana, Altaf melihat sebuah pesta. Tepat di sebuah tanah lapang samping jalan raya, seperti sebuah area perkampungan, lengkap dengan orang-orangnya, juga panggung tempat musik didendangkan.
MN dan Altaf terdiam cukup lama. Seperti termenung, bahwa yang mereka lihat benar-benar manusia. Tidak ada angin, tidak ada hujan, mereka berdua tercekat saat tiba-tiba ada orang tua bungkuk menawarkan bantuan.
"Motornya kenapa, mas? Kok dituntun gitu." tanya bapak itu.
"Bannya bocor pak." jawab MN.
"Oh gitu, ya sudah kalau gitu berhenti dulu aja di sini, ntar saya panggilkan anak saya buat betulin ban motor nya. Anak saya bisa kok betulin ban motor." kata bapak itu seraya mengajak Altaf dan MN ke rumahnya.
Altaf dan MN pun pasrah, lalu siapa itu membawa motor ke rumahnya, diikuti Altaf dan MN.
Tak lama kemudian, MN dan Altaf melihat rumah. Bapak itu pun mempersilakan mereka berdua untuk beristirahat di teras rumahnya. Altaf melihat ada tanah lapang di depan rumah itu, motor mereka dimasukkan ke teras rumah juga. Bapak itu pun memanggil anaknya untuk memperbaiki ban motornya yang bocor.
Suasananya ramai, semua orang sibuk dengan urusan nya masing-masing. Ada yang menyanyi, ada yang bercanda, ada yang mengobrol satu sama lain. Ada yang menikmati alunan gamelan yang ditabuh seirama. Lengkap dengan si pengantin, yang terlihat tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Aku nggak tau kalau ada kampung disini." kata MN mengajak Altaf bicara. Tapi Altaf hanya diam saja, matanya fokus pada panggung. Di depan penabuh gamelan masih ada ruang. Acara apa yang akan mereka adakan dengan ruang seluas itu.
Rupanya, pertanyaan Altaf segera terjawab. Dari jauh tercium aroma melati. Aroma yang sangat familiar bagi Altaf. Diikuti oleh serombongan orang, di depannya ada seorang penari. Ia dituntun naik ke atas panggung. Kemudian semua pandangan orang tertuju pada satu titik, di mana penari mulai berlenggak-lenggok di atas panggung. Semua mata seperti terhipnotis olehnya. "Cantik sekali perempuan itu, cuy!" kata MN.
Bingung, apa hanya perasaan Altaf saja. Sorot mata penari itu seperti beberapa kali mencuri pandang pada Altaf. Ia seperti kenal dengan sosok si penari, tapi ia tidak tau-menau siapa penari itu sebenarnya. Sampai si bapak tua menawarkan makanan kepada Altaf dan MN.
Mungkin karena lapar, MN melahap habis semua makanan yang dihidangkan di hadapannya. Mulai dari lemper sampai apem ia habiskan semua, sambil bercakap-cakap dengan si bapak tua. Altaf hanya diam karena fokus pada si penari. Ia mampu membuat semua orang tertuju melihatnya, menatapnya dengan tatapan yang menghipnotis. Setelah si penari itu turun dari panggung, bapak itu mengatakan kalau motor mereka sudah bisa dinaiki. Dan ternyata benar, motor mereka sudah bisa digunakan lagi. Mereka pun pamit pulang dan mengucapkan terima kasih kepada bapak itu... karena sudah memberikan bantuan pada mereka yang sedang kesusahan. Bapak itu mengangguk dan berpesan kepada mereka untuk hati-hati di jalan.
Sebelum pulang, bapak itu memberikan bingkisan kepada Altaf dan MN. Bapak itu menunjukkan isinya ke mereka berdua, isinya itu jajanan yang dihidangkan tadi dan dibungkus koran. MN heboh mengucapkan terima kasih, sementara Altaf menerimanya dengan lempeng, seraya memasukkan bingkisan itu ke dalam tasnya. Lalu mereka pun bergegas pulang.
Selama di perjalanan, MN tak henti-hentinya cerita tentang penari itu, paras wajahnya, mungkin usianya lebih tua dari mereka, tapi cara mereka berdandan, bisa menutupi usianya sehingga dari jauh, kecantikannya begitu sulit digambarkan. Altaf, lebih tertarik dengan kampung itu, karena selama perjalanan... mereka tidak menemui satupun kampung di area yang mereka lewati. Jangankan kampung, warung saja tidak ada sama sekali.
Namun, motor MN benar-benar mereka betulkan dengan tulus tanpa meminta imbalan sepeserpun. Jadi, apa mungkin hantu bisa membetulkan motor, itu yang ada dipikiran Altaf selama dalam perjalanan.
Satu hal yang coba Altaf yakini, mungkin mereka itu tidak hanya melihat kampung tadi saja. Yang terpenting, di jalan setapak ini, desa tempat mereka penelitian sudah dekat. Sesampainya ditempat itu, MN langsung ke rumah Pak Tarmo untuk mengembalikan motor. Sedangkan Altaf langsung menuju ke penginapan mereka, karena hari sudah malam. Dan ia tau pasti anak-anak sudah khawatir menunggu kedatangannya.
Sesampainya di rumah penginapannya.......
"Tokk... tokk... tokk..." Altaf mengetuk pintu, dan langsung dibukakan si Elok.
SY, DS, ICH, dan Elok kumpul di ruang tengah. Baru saja masuk, Elok langsung menanyainya.
"Darimana sih, Taf. Kok lama banget sampai malam gini."
"Aku tadi habis dari kota X, berdua sama MN. Tadi kita beli semua perlengkapan untuk penelitian kita besok."
SY langsung membuang muka melihat Altaf. Sudah biasa, kadang-kadang SY seperti itu. Setelah menceritakan kejadian kemarin, SY tidak mau lagi menceritakan itu sama Altaf. Sekarang, dia sedikit menjauhi Altaf. Dan ia merasakan itu, sangat terasa. Dan di saat suasana tegang itu, hanya ICH yang mencoba mencairkan suasana, "sudahlah, kok canggung gini."
ICH menggandeng Altaf, menyuruhnya masuk rumah. "Taf, istirahat o aja dulu. Kamu pasti capek kan seharian di jalan."
Tak berapa lama kemudian, MN pun datang. Ia pun masuk rumah dan bergegas duduk di ruang tengah, berkumpul bersama anak-anak lainnya. Tanpa babibu, ia langsung bercerita tentang apa yang ia alami tadi saat di jalan. Ia bercerita tentang insiden ban motornya bocor, lalu dibantu warga kampung, terus ia bercerita kalau ada pesta di kampung itu. Ia bercerita tentang penari nya, paras cantiknya, gaya dandanannya, sampai makanan-minuman apa saja yang dihidangkan untuknya. Lengkap semuanya ia ceritakan. Bukan sambutan yang ia dapat, malah raut wajah kebingungan dari anak-anak lainnya. Lalu tiba-tiba ICH nyeletuk.
"Nggak ada desa lain di sini selain desa ini. Palingan kamu cuma berhalusinasi, Soalnya kamu capek seharian ada di jalan."
"Tau darimana kamu, ICH?" tanya MN.
"Ya tau lah, MN. Aku sudah sering ke kota, beberapa tempat-tempat terpencil sudah aku jelajahi. Kamu tau, kerja part time ku itu ada hubungannya sama alam dan hasil bumi. Jadi aku sering ikut ke kota bareng orang-orang di sini. Dari dulu sampai sekarang aku menjelajahi daerah sini, baru aku dengar kali ini... kalau ada kampung lain disini."
"Masa' sih. Pasti bohong deh kamu, ICH." tukas MN membela diri.
Seakan membela ICH, SY berucap: "ICH benar, MN. Di sini itu desa nya cuma satu, ya desa yang kita tempati ini. Selain desa ini nggak ada desa lagi. Orang sebelum kita semua berangkat ke sini loh, aku udah survei ke sini sama Elok dan kakaknya. Jadi kamu ngaco lah kalau ada desa lain di sini."
Seolah ingin menunjukkan bukti, bahwa apa yang dialaminya bukan halusinasi tapi kenyataan... MN pun langsung menunjuk tas Altaf sambil berkata, "Taf, keluarin bungkusan yang ada di tasmu! Ini loh Altaf saksinya kalau kalian masih nggak percaya, coba tanya Altaf. "
Altaf diam saja. Lalu, MN menarik paksa tas Altaf dan membukanya. Ia mengeluarkan bungkusan yang diberikan orang itu.
"Ini loh kalau kalian nggak percaya," kata MN sambil menunjukkan bungkusan itu ke teman-temannya. Betapa kagetnya MN dan Altaf ketika tau bungkusan yang tadi ia lihat berupa koran, sekarang berupa daun pisang. Anak-anak yang lain melongo, bingung, tapi kepo. Mereka memasang muka serius memperhatikan keterangan MN.
"Ini loh oleh-olehnya tadi dari orang yang ngebetulin motor. Ini loh bukti kalau aku itu gak bohong." kata MN menunjukkan bungkusan itu pada teman-temannya.
MN membukanya, melihat isinya, betapa kagetnya ia ketika melihat isi bungkusan itu berupa kepala monyet yang terpenggal disertai dengan darah dan lendir yang masih segar.
"Astagfirullahaladziiimm." kata Altaf dkk syok melihat isinya.
Altaf syok karena ia teringat aroma kopi di jajanan yang dia cicipi. Rasanya semua sama. Tapi kenapa makanan yang ada di bungkusan ini berbeda, itu yang terus mengganjal di pikirannya. Aroma itu amis, seamis-amis nya, sampai-sampai membuat seisi ruangan mual. Gara-gara itu, MN mengurung diri di kamar selama 3 hari. Kalau ingat ingat lagi kejadian itu, rasa mualnya muncul lagi, dan membuat ia harus menyemburkan isi perutnya. Antara percaya dan tidak, dia dengan hal itu. Kembali terngiang-ngiang dipikirannya (begitu juga dengan Altaf) kata-kata si simbah: "nggak baik menolak pemberian tuan rumah" . Sejatinya, MN dan Altaf sudah benar, menerima pemberian orang itu, Meskipun mereka mengerti kalau sosok itu bukanlah manusia yang sebenarnya. Mungkin kalau dia mengatakan keganjilan itu, pemberian orang itu, ceritanya akan berbeda. Mungkin saja itu akan membawa bencana buat mereka berdua dan teman-temannya. Tapi Altaf ngerti, itu ada hubungannya sama si penari.
Malam itu, Altaf baru selesai melihat prokernya yang dibantu oleh warga desa. Saat ia kembali ke penginapan, menyusuri jalan-jalan setapak di desa yang gelap gulita, terdengar suara-suara binatang malam... dia terus berjalan sampai terlihatlah rumah penginapan mereka. Aneh. Harusnya semua anak sudah ada di rumah, entah mencicil proker mereka, entah me time, atau ngobrol-ngobrol di ruang tengah. Sunyi, sepi tidak ada satupun orang di rumah tersebut. Lampu petromak yang biasanya nyala di depan rumah, hari ini kelihatan mati. Rumah tampak lebih suram, kelam, dan mengerikan. Seolah rumah itu memanggilnya. "Sudah biasa." batin Altaf, mencoba berpikir positif untuk menghilangkan rasa takutnya. Walaupun rumah ini masih terbilang baru baginya, dan juga bagi yang lainnya. Hatinya tidak tenang ketika ia mengingat kata-kata dari orang itu, ada penunggu di belakang rumahnya. Juga beberapa keganjilan yang dialami. Tapi, apakah kejadian yang Altaf alami juga dialami oleh anak-anak yang lain, tapi mereka lebih memilih diam.
Kini, Altaf ada di depan pintu, mengucap salam sambil mengetuk pintunya. Kemudian dia melangkah masuk, menuju ruang tengah tempat anak-anak biasa berkumpul. Aneh, biasanya Elok duduk-duduk di sana. Tapi kok Elok tidak ada ya, ruangan itu kosong. Di teras rumah pun sama, tempat biasa MN dan DS ngobrol. Tapi mereka juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan SY, biasanya terdengar suara SY yang sedang mengaji. Begitupula dengan ICH, entah apa yang dia lakukan selama tinggal di rumah ini. Bagi Altaf, ICH lah yang paling misterius. Sayangnya malam itu, tak ia temui seorangpun dari mereka berlima. Apakah Altaf terlalu sore untuk pulang, sedangkan teman-teman yang lain sibuk dengan proker mereka masing-masing bersama warga.
Entahlah, Altaf bersiap masuk kamar, tiba-tiba sekelebat perasaan tak nyaman itu kembali muncul. Perasaan seolah ada yang mengawasi, entah dari mana. Altaf pun merasakan dadanya berdegup kencang, tak berapa lama, terdengar suara tawa melengking dari arah dapur. Saat itulah Altaf yakin, ada sesuatu disana.
Sesuatu yang bukan hal baru. Altaf harus memeriksanya. Ia pun bergegas ke dapur, dan saat dia membuka tirai penutup dapur, ia melihat nona SY duduk di sebuah kursi kayu dengan sorot mata tajam. Matanya lurus menatap ke arah tempat Altaf berdiri. Ia masih mengenakan mukena putihnya, seolah-olah baru saja selesai salat dan belum menanggalkan mukena nya. Yang membuat Altaf bingung, kenapa SY hanya duduk diam seperti itu dengan tatapan kosong.
"SY, ngapain," panggil Altaf.
SY hanya diam. Tatapannya kosong seperti orang linglung. Saat dihampiri, dia menundukkan posisi kepalanya seakan-akan dia tidur di kursi itu. Membuat Altaf panik, menggoyang badannya, namun SY tidak bergeming. Saat Altaf menyentuh kulit tangan SY yang terasa dingin, SY tiba-tiba terbangun dan melotot kearah Altaf, tatapannya seperti orang yang sangat marah.
"Anak cantik." suara itu yang pertama kali Altaf dengar dari si SY. Tapi suaranya bukan suara SY. Suaranya lebih mirip seperti wanita tua yang sudah uzur, melengking, membuat bulu kuduk Altaf seketika merinding.
Namun, saat Altaf mencoba pergi, tangan SY mencengkram nya dengan kuat sambil berkata, "betah tinggal di sini?"
Altaf tidak menjawab sepatah kata pun, suaranya mengingatkan Altaf pada mendiang neneknya. Benar-benar melengking.
"Gimana anak cantik, sudah tau penunggu di sini?"
Altaf mulai menangis.
"Lohlohloh, anak cantik nggak boleh nangis."
Altaf ketakutan. Saat ia berusaha pergi, pergelangan tangan Altaf dicengkram kuat dengan jari tangan SY. Matanya masih melotot ke Altaf.
"Anak laki yang ganteng itu aja sudah kenal sama dia."
"SY..." teriak Altaf tidak bisa menahan takut. Suasana di ruangan itu kali ini benar-benar membuat Altaf benar-benar takut.
"SY, sadar woy!" teriak Altaf makin ketakutan.
SY tidak menggubris perkataan Altaf, malah ketawanya semakin kencang. Ketawanya benar-benar membuat Altaf takut setengah mati.
"Kamu nggak tau siapa aku. Kamu pikir, kalau nggak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu di sini bisa mencelakai cucuku? Aku yang selama ini sudah menjaganya, tak akan kubiarkan mereka mendekati cucuku. Mengerti?"
"Mencelakai bagaimana to, nek?"
"Anak cantik, salah satu dari temanmu nggak akan bisa kembali. Kalau kamu belum sadar, semuanya akan terjadi. Tolong peringatkan anak itu, yang sedang membawa petaka. Kalau dibiarkan, semua akan kena batunya di desa ini."
Setelah mengatakan itu, SY terjerembab. Altaf menggotong SY kembali ke kamar. Menungguinya sampai ia bangun dari pingsannya. Beberapa waktu kemudian, SY pun terbangun. Dan benar saja, ia mengatakan ia tidak tau mengapa bisa tiba-tiba tertidur. Mungkin terlalu terbawa ketika salat.
SY bercerita, dulu ketika ia masih di asrama, kalau sudah fokus menikmati salatnya, kadang-kadang ia bisa sampai ketiduran. Entah apa yang Altaf pikirkan, sampai Altaf menanyakan hal yang tidak disukai nona SY.
"Sejak kapan kamu bisa ngelihat begituan SY?" tanya Altaf.
Awalnya, SY salah tingkah. Ia tak mau menceritakannya pada Altaf. Tapi karena didesak, akhirnya SY pun cerita. Menurutnya, ia bisa merasakan hal-hal seperti itu ketika tinggal di asrama. Ia bisa melihatnya karena memang harus. "Gaib itu ada," kata SY.
"Sebenarnya setiap orang itu ada yang jaga, jenisnya berbeda-beda. Ada yang cuma numpang lewat, ada yang ngikuti kita. Ada yang energinya positif ada yang energinya negatif," terang SY.
"Kalau kamu ada yang jaga kah SY?" tanya Altaf lagi.
"Iya, katanya." jawab SY pelan, seolah tak mau menjawab.
"Kok katanya?" tanya Altaf bingung.
"Iya, soalnya aku nggak pernah melihat sosoknya secara langsung, Taf. Dulu pas sebelum aku keluar dari asrama, temenku pernah bilang sama aku kalau aku itu ada yang jagain. Katanya wujudnya menyerupai nenekku."
Setelah mendengar itu, Altaf hanya mendengar cerita SY seputar pengalamannya tinggal di asrama dulu. Tapi SY tidak menceritakan hal-hal ganjil yang dia alami selama di sini. Tapi Altaf lebih memikirkan hal lain, 23 hari telah berlalu, setiap hari perasaan Altaf semakin tidak enak. Dimulai dari warga yang membantu prokernya mulai tidak datang satu persatu, katanya mereka jatuh sakit. Anehnya, itu terjadi di proker kelompok mereka, yang berurusan dengan sinden. Pernah suatu hari, Altaf, mendengar secara tidak langsung kalau sinden nya ini mengandung kutukan. Tapi Pak Tarmo menyangkal dan selalu menganggap kalau itu hanyalah mitos belaka. Yang membuat warga desanya ketinggalan zaman.
Namun suatu kali, pernah ada salah Seorang warga yang bercerita kepada Altaf kalau sinden ini ada yang jaga. Katanya, sinden ini dulu pernah dipakai mandi sama sosok "dia" (dirahasiakan). Anehnya, tidak ada satupun warga yang berani menyebut siapa "dia" yang mereka maksud. Namun, yang mencurigakan, nama sinden ini adalah sinden kembar.
Sinden kembar, Altaf selalu mengulangi kalimat itu. Sinden kembar, membuat Altaf semakin penasaran.
Alasan Pak Tarmo memasukkan ini sebagai proker mereka adalah agar air sungai dapat dialirkan ke sinden ini. Sehingga warga tidak perlu mengambil air jauh-jauh ke sungai yang jalannya terjal. Namun, seperti ada yang ganjil. Malam itu, Elok mengumpulkan semua anak untuk membahas proker mereka. Karena timbul masalah, hampir setengah dari warga yang membantu proker mereka tidak ada yang mau melanjutkan pekerjaannya. Alasannya bermacam-macam mulai dari sibuk berkebun, sampai badannya sakit semua. Dari semua anak yang punya usul, hanya ICH yang tidak seantusias yang lain.
Malam itu tiba-tiba Altaf teringat kata-kata MN. Pas itu MN pernah bilang kalau ICH kerap kali keluar malam-malam, entah apa yang dia lakukan.
Karena penasaran, Altaf memutuskan untuk begadang guna memastikan apakah benar ICH benar-benar keluar kalau malam. Ternyata apa yang dikatakan MN benar, malam itu... Altaf melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau ICH keluar rumah pas tengah malam. Karena kepo ICH ngapain kok keluar malam-malam, Altaf memutuskan untuk mengikuti ICH. Tapi sebelum mengikuti ICH, Altaf ke kamar ICH terlebih dahulu. Di sana ada MN
sama DS. Altaf ragu, apakah ia membangunkan MN atau DS. Altaf pun memutuskan untuk membangunkan MN. Setelah MNC terbangun...
"Kenapa sih, Taf. Kok malam-malam kamu bangunin aku kayak gini."
"Iya MN, Soalnya aku tadi ngeliat ICH keluar. Aku takut dia ada apa-apa. Kita ikutin dia yuk."
"Kan aku dulu udah pernah bilang, kamu sih nggak percaya. Udahlah nggak usah diikutin, palingan itu anak ke rumahnya pak Tarmo ngebenerin tong sampahnya dia yang rusak."
"Ya sudahlah terserah kamu."
MN tidur lagi. Lalu Altaf pun ngacir, dia pelan-pelan membuka pintu, terus keluar rumah. Dia pergi menyusul ICH sendirian. ICH ini anak laki-laki yang paling agamis, sama kayak SY. Mereka berdua memang sudah dekat pas di sekolah, karena dulu satu SMP. Dan sekarang di SMA pun masih satu kelas di IPS 1.
Tapi DS pernah cerita, kalau dia pernah memergoki ICH on*** (disensor) di dalam kamar, katanya nggak hanya satu dua kali, tapi berkali-kali. Altaf nggak terima ICH dikatakan begitu. Menurutnya, ICH itu alumni boarding school. Jadi nggak dia mungkin melakukan hal-hal aneh seperti itu. Tapi bukan itu yang jadi masalah, yang jadi masalah adalah setiap kali ICH melakukannya, selalu terdengar suara perempuan dari dalam kamarnya.
"Taf, kamu pikir aku nggak ngerti gimana lelaki melakukan itu (on***, disensor)?"
Altaf masih diam, mendengarkan penjelasan DS.
"Yang tak permasalahkan bukan itu, Taf. Tapi setiap kali ICH melakukannya, mesti ada suara perempuan. Aku nggak bohong, Taf. MN saksinya. Setiap lelaki pasti pernah, aku nggak gila hormat, aku itu orang yang apa adanya... kecuali ada hal-hal tertentu yang memang harus aku sembunyikan. Aku berani jujur, kalau aku juga pernah gitu. Tapi aku melakukannya satu kali, terus ketahuan mamaku, terus aku dimarahin, terus aku kapok. Pas tak tunggu-tunggu orangnya, entah itu kamu, SY, ataupun Elok, tapi kok orangnya nggak keluar-keluar, tapi pas tak intip ternyata gak ada siapa-siapa disana. Sosok itu cuma suara doang nggak ada wujudnya."
"Terus?" tanya Altaf.
"Lah terus suaranya siapa dong yang tak dengarkan waktu itu. Masalahnya aku udah sering dengar aja suara itu."
Cerita DS membuat pandangan Altaf berubah, dan malam itu ia melihat ICH berjalan jauh ke arah selatan, arah sebuah tempat yang setiap kali Altaf melihatnya membuat dirinya merinding.
Palace Ghost Red Lady
Altaf melihat tempat itu seperti lorong panjang. Hanya saja, dindingnya adalah pepohonan besar dengan akar disana-sini. Selain medan tanahnya yang menanjak, di depan Palace Ghost Red Lady ada gapura kecil, lengkap dengan kain merah dan hitam di sekelilingnya. Pak Tarmo pernah bercerita, kalau kain hitam adalah nama adat untuk penanda seperti di pemakaman. Namun bukankah warna cerah lebih baik untuk menjadi sebuah penanda, sebelum akhirnya Altaf kebenaran dari warga setempat, kalau warna hitam yang dimaksud adalah simbol alam lain. Bukan untuk mereka yang masih hidup, melainkan tanda bagi mereka yang sudah mati. MATI.
Lalu, apa maksud penanda warna merah?
Konon, dari seluruh tempat di desa ini yang diberi tanda kain, hanya gapura ini yang diberi tanda warna merah. Apalagi kalau bukan simbol petaka. Altaf mulai melangkah naik, kakinya tidak berhenti mencari pijakan antara akar dan batu, sembari tangannya mencari sesuatu yang dapat menahan berat tubuhnya.
Malam sangat dingin, dingin. Hanya kabut yang bisa Altaf lihat. Butuh perjuangan keras untuk sampai. Ketika Altaf sampai di puncak Palace Ghost Red Lady, Altaf hanya melihat satu jalan setapak. Kelihatannya tidak terlalu curam, namun juga butuh perjuangan ekstra keras untuk melewatinya. Di tempat itu, Altaf merasakan perasaan yang tidak enak. Semakin lama semakin terasa, dan lama-kelamaan membuatnya merinding. Jalan setapak itu tidak terlalu besar, di kiri-kanan jalan ditumbuhi rumput dan tumbuhan yang tingginya hampir sebahu Altaf. Disitu Altaf bisa melihat hutan yang benar-benar hutan, pohon yang tinggi menjulang dengan tumbuhan-tumbuhan disekitarnya yang tidak tersentuh. Sangat mudah mengikuti ICH, karena tinggal mengikuti jalan setapak. Tapi setiap kali Altaf berjalan, selalu saja dari balik semak-semak atau rerumputan seperti ada yang bergerak-gerak. Kadang ketika Altaf mencoba memandangnya, suara itu lenyap begitu saja. Tanahnya keras dan lembab, namun Altaf terus menembus jalanan itu. Semakin lama semakin dingin. Beberapa kali Altaf berhenti untuk menghela napas panjang.
Jalanan ini seperti tidak berujung. Tapi kalau Altaf kembali, ia tidak akan tau apa yang dikerjakan ICH disini. Hal yang cukup disesali Altaf hanya satu, waktu itu dia hanya pakai sandal selop. Karena waktu itu dia tidak ada rencana untuk mengikuti ICH. Semua itu terjadi dengan spontan, tanpa persiapan, dan tanpa teman. Ia hanya melakukannya seorang diri. Rasa sesal itu makin bertambah manakala Altaf mendengar suara gending.
Ya, suara yang familiar. Nada yang dimainkan adalah kidung yang ia dengar di bilik kamar mandi saat dirinya bersama SY. Sedangkan alunan gamelan yang dimainkan adalah alunan yang sama dengan saat ketika Altaf mencuri pandang pada penari yang menari di malam dia bersama MN.
Bukannya lari, Altaf malah semakin menjadi-jadi. Semakin jauh, suaranya semakin terdengar jelas. Dan semakin jelas suaranya, semakin ramai. Bahwa di sana, Altaf tidak sendirian.
Namun, yang Altaf temui adalah ujung dari Palace Ghost Red Lady. Yaitu sebuah tumbuhan yang ditanam tepat di jalan setapak.
Tumbuhan itu adalah tumbuhan beluntas. Tumbuhan nya kecil tapi rimbun. Samping kiri kanan sudah tidak bisa dilewati, kecuali bila ia membawa parang. Dan tentu akan butuh waktu yang sangat lama untuk membabat semak belukar. Aroma tumbuhan beluntas seharusnya langu, tapi ini aneh. Ini aromanya wangi, wangi seperti bunga melati. Tanpa ia sadari, Altaf ternyata sudah mengunyah daun beluntas dengan tanpa sengaja. Dirinya baru sadar saat batang beluntas yang tajam itu mengenai kerongkongannya. Dan dibalik tumbuhan itu, Altaf melihat jalan menurun. Pantas saja ia hanya bisa melihat ujung jalan setapak berhenti di sini. Jadi, jalan menurunnya banyak sekali ditutupi tumbuhan beluntas. Saat menuruninya, Altaf sampai harus berdarah-darah meraih tanaman beluntas yang dililit tali puteri.
Di bawahnya, Altaf melihat sanggar yang pernah diceritakan Elok dulu. Sanggar nya benar-benar berantakan. Ada 4 pilar kayu jati yang dipangkas segi 4, memanjang ke atas dengan atap mengerucut. Dari jauh terlihat seperti bangunan balai desa, namun lebih besar dengan lantai panggung.
Disana suara gamelan terdengar jelas sekali. Seperti sumber suara gamelan itu ada di bangunan ini. Saat Altaf mendekatinya, meskipun ragu, ia merasa kehadirannya tidak sendirian, sangat ramai. Seperti tempat ini penuh sesak. Tapi di tempat itu hanya ada dia seorang, tidak ada siapa-siapa. Hanya dia sendiri, yang berjalan mendekati.
Keheningan itu benar-benar mengganggu Altaf. Ia seperti tidak diterima di sini.
Namun Altaf memaksakan dirinya untuk melihat. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang menangis, dan suaranya sangat familiar bagi Altaf, suaranya seperti orang yang ia kenal.
Elok. Altaf baru mengingat sesuatu yang paling ganjil selama penelitian di desa ini, Elok.
Elok tak pernah menceritakan apapun tentang desa ini, termasuk pengalaman-pengalaman ganjil yang dia alami selama di sini. Dia justru menentang semua hal-hal yang tidak masuk akal di desa ini. Namun di malam ketika mereka berdebat mendengar suara gamelan, Elok pasti bohong. Sebenarnya, Elok juga tau dan dengar suara gamelan itu. Elok yang lebih tau tentang semua ini, jauh di atas yang lain. Termasuk, apa yang ICH lakukan selama ini. Seperti menangkap angin, suara tangisan, tapi tidak ada wujudnya. Dimanapun Altaf mencari, tetapi tempat sesunyi dan sesepi itu, masih terasa ramai bagi Altaf. Ia seperti dipandang dari segala arah.
Altaf melihat dari jauh, di bawah sangkar ada sebuah gubuk berpintu. Altaf menghampiri tempat itu, tapi dia enggan untuk membukanya. Ia mengelilingi gubuk itu. Dari dalam gubuk, terdengar suara ICH. Diikuti suara perempuan mendesah. Sangat jelas, tetapi Altaf tidak dapat melihat apa yang ada di dalam sana.
Leher Altaf perlahan semakin berat, dan berat. Saat Altaf masih bersusah payah untuk melihat, nasib baik, Altaf menemukan beberapa celah kecil untuk mengintip. Dari situ dia melihat ICH berendam di kolam (sinden) dan di sekitar ICH dia dikelilingi banyak sekali ular berukuran besar. Melihat itu Altaf kaget, parahnya, ICH menatap lurus ke arah tempat Altaf mengintip. Semua ularnya sama, seperti yang Altaf rasakan, mereka tau, ada tamu tak diundang.
Melihat seperti itu, Altaf berbalik dan lari pergi. Saat lari itulah, terdengar suara tabuhan gong, diikuti suara kendang, suara gamelan itu terdengar lagi. Suara gamelan itu terdengar keras. Lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan. Dan Altaf melihat sanggar kosong itu dipenuhi dengan semua yang tidak Altaf lihat saat tiba di tempat ini. Dari ujung ke ujung penuh sesak, dan yang dilihat Altaf banyak sekali macamnya. Ada yang melotot, ada yang hanya separuh wajah, sampai ada yang tak punya wajah.
Dari yang pendek, sampai yang tingginya setinggi pohon beringin. Mereka memenuhi sanggar dan sekitarnya, Altaf pun mulai menangis. Suara yang nyaris memenuhi telinga Altaf dan membuatnya hampir gila itu tiba-tiba berhenti.
Altaf melihat, di depannya ada orang yang sedang menari, tariannya hampir membuat semua yang ada di sana melihatnya.
Di sana, Altaf melihat dan baru menyadari bahwa yang menarik itu adalah Elok. Matanya sembab seperti sudah menangis lama. Tapi gelagat ekspresinya Elok seolah menyuruh Altaf untuk lari. Altaf pun langsung lari sekencang-kencangnya tanpa tau apa yang terjadi. Menerobos kerumunan orang yang sedang melihat Elok menari di sanggar.
Altaf memanjat tempat itu, menangis sejadi-jadinya. Sampai di jalan setapak, Altaf mendengar suara anjing menggonggong. Tak berapa lama, anjing hitam itu pun keluar dari semak belukar. Dan saat melihat ada anjing hitam. Altaf pun bergegas mengikuti arah anjing hitam itu untuk keluar dari tempat tersebut.
Subuh pun tiba, dan Altaf pun sudah berhasil keluar dari tempat tersebut. Langit terlihat kebiruan, tapi Altaf salah.
Seorang warga desa kaget bukan kepalang melihat Altaf, dan dia pun langsung lari dan berteriak memanggil warga yang lain.
"Altaf disini, Altaf sudah kembali."
Bingung, hampir semua warga berhamburan mendatangi Altaf.
"Sini nak, sini. Kamu yang kuat ya, nak. Kamu harus siap dengar berita ini." Seorang ibu, spontan memeluk Altaf. Dirinya seperti tengah menahan tangis. Altaf hanya gagu, diam, tidak mengerti. Si Ibu menggandeng tangan Altaf, Altaf masih diam seperti orang linglung, di jalan ramai warga desa yang mengikuti Altaf. Altaf mencuri dengar dari mereka yang berbicara di belakangnya.
"Sudah dicari sampai hutan xxx, nggak taunya baru ketemu pas subuh anak ini. Aku sudah mikir buruk."
Sehari semalam, rupanya Altaf telah menghilang. Ketika Altaf melihat rumah penginapan mereka, Altaf melihat banyak sekali orang yang berkumpul disana. Dan saat mata mereka memandang Altaf, semuanya bingung tak habis pikir. Seperti habis melihat hantu. Lalu terlihat Pak Tarmo keluar dari dalam, wajahnya mengeras melihat Altaf. Matanya mendelik melihat Altaf. Lalu, dia pun bertanya.
"Semalam dari mana saja kamu, nak?"
Altaf tidak merespon pertanyaan Pak Tarmo. Si ibu terlihat menenangkan Pak Tarmo agar tenang. Sembari menggiring Altaf masuk ke dalam rumah, Altaf mendengar SY menangis seperti orang kesetanan. Saat Altaf masuk ke dalam ruang tengah, ia melihat banyak orang berkerumun. Mereka duduk bersila sambil mengelilingi dua orang yang terbujur kaku. Tubuhnya ditutupi selendang, diikat kain putih, menyerupai kafan. DS dan MN kaget saat melihat Altaf muncul di ruang tengah. "Taf, kamu dari mana?" tanya SY yang langsung memeluk Altaf.
"Ada apa ini SY, kok ramai sekali?"
"Elok, Taf. Elok, Taf. I..." kata SY gemetar dan seolah tak kuasa
menahan tangis. SY pun bungkam, tak bisa berbicara banyak. Sampai MN berdiri.
"ICH sama Elok, Taf. Mereka tiba-tiba terbujur kaku, dan Elok matanya nggak bisa ditutup, Taf." ucap MN menahan tangis dan seolah berusaha menguatkan dirinya.
Altaf mendekati Elok. Elok matanya melotot ke arah langit-langit rumah, dan matanya mengeluarkan air mata. Disampingnya, ada ICH. Ia terus-menerus menendang-nendang dalam posisi terikat itu layaknya orang yang terkena epilepsi. Matanya kosong, mereka berdua terbaring tak berdaya. Sontak, Altaf pun menjerit sejadi-jadinya sampai akhirnya ada yang menenangkannya. Dari dapur, simbah melihat Altaf. Ia pun langsung mendekati Altaf dan memanggilnya.
"Sini nak, sini. Mbah baru saja selesai membuat kopi."
Altaf pun duduk di kursi kayu bersama simbah. Beliau lama memandangi Altaf, sampai kemudian beliau mengatakan.
"Temanmu sudah kelewatan."
"Terus gimana mbah?"
"Gimana rasanya dikerubungi makhluk halus se-hutan ini."
Simbah masih mengaduk kopinya. Seraya memandangi Altaf yang mulai kembali kesadarannya, kemudian memberikan kopi buatannya pada Altaf.
"Ini nak, diminum dulu kopinya."
Altaf meminum kopi itu. Tiba-tiba rasa pahit yang menohok seolah mencekik tenggorokannya, Altaf pun langsung memuntahkan kopi itu. Begitu banyak muntahan air liurnya Altaf. Ia melihat simbah yang tampak mengangguk, seperti memastikan.
"Temanmu si Elok sama anak ganteng itu telah melakukan larangan yang berat, larangan yang nggak umum bagi manusia. Apalagi bagi bangsa halus. Paham to, nak?" kata simbah sambil geleng-geleng kepala.
Altaf mengangguk.
"Sinden yang kamu kerjakan, itu tuh sinden kembar. Sinden yang di dekat sungai ada satu, sama sinden yang kemarin malam kamu datangi ada satu. Tau nggak apa itu sinden?"
Altaf menggeleng, "ndak tau mbah."
"Sinden itu tempat mandinya para penari sebelum tampil. Nah, kalau sinden yang di dekat sungai nggak papa dikerjakan. Tapi kalau sinden yang kamu datangi kemarin malam, itu tidak boleh didatangi, apalagi dipakai untuk hal yang nggak baik."
"Altaf tau nggak di dalam sinden ada apanya?"
Altaf diam lama, sebelum mengatakannya.
"Ular mbah."
"Ya benar. Ular yang kamu lihat itu anaknya si anak ganteng itu sama..."
"Ular itu mbah."
Simbah mengangguk. "itu mbah yang kecolongan, Altaf cuma dijadikan pengalih perhatian. Biar mbah yang ngawasi kamu, tapi mbah salah, dari awal yang diincar sama..."
Simbah diam lama, seolah tak mau menyebutkan nama makhluk itu.
"Terus mbah, apa Elok sama temanku ICH bisa kembali?" tanya Altaf.
"Insya Allah bisa. Sampai bala' nya diangkat." katanya dengan ekspresi lempeng.
"Maksudnya?" tanya Altaf bingung.
"Elok sama temanmu yang ganteng itu sudah kelewatan. Sekarang mereka harus menanggung akibat dari perbuatan mereka berdua."
"Elok, harus nari ngelilingi hutan ini. Tampil nari di setiap jengkal tanah ini."
"Terus kalau temenku yang satunya lagi gimana mbah?" (ICH, red).
"Dia harus menikahi yang punya sinden."
"Siluman ular yang sama orang-orang sini disebut red lady itu kan, mbah."
Simbah bingung plus kaget. "Oh, kamu sudah tau ya."
"Siluman ular yang disebut red lady itu adalah salah satu bangsa lelembut yang menjaga wilayah ini. Tugasnya itu nari, jadinya ya bangsa lelembut itu senang melihat si red lady itu nari. Nah, sekarang Elok harus menggantikan tugas si red lady menari di hutan ini."
"Sementara temanmu yang ganteng itu, ya harus menikahi siluman ular red lady itu. Anaknya itu wujudnya ular, sekali melahirkan bisa lahir ribuan ular."
"Salahnya temanmu, melakukan hal gila itu. Jadi sekarang mereka ya harus menanggung akibat dari perbuatannya."
"Red lady itu ratunya ular. Bangsa lelembut yang kekuatannya tak terbendung, bala' nya nggak bisa ditolak apalagi dibuang. Besok tak coba nya ngomong baik-baik, takutnya temanmu nggak bisa kembali dalam keadaan hidup."
Setelah mengatakan itu, simbah pergi. SY, MN, dan DS melihat Altaf duduk termenung sendirian di dapur.
"ICH sama Elok bodoh, tolol!! Anj**g! Kebanyakan ngent*t."
Kalimat itu, yang mereka semua pikirkan malam itu. Meski mereka tau bahwa kalimat yang diucapkan MN itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu. Terlebih, masalah ini sudah terdengar sampai ke telinga Bu Ulya serta orang tua dan kakaknya Elok dan juga orang tua ICH. Pak Tarmo menceritakan bahwa kronologi kejadian selama penelitian ini tidak bisa ia bendung. Penelitian yang harusnya menjadi tanggung jawab beliau, harus sampai ke semua orang yang terlibat. Meski awalnya SY mencoba memohon agar masalah ini jangan sampai keluar dulu, namun dengan hilangnya Altaf, Pak Tarmo menyerah dan memilih melaporkan masalah ini ke Bu Ulya, kakak dan orang tuanya Elok, serta orang tuanya ICH. Lalu apa yang terjadi dengan Elok dan ICH.
Keesokan paginya, Bu Ulya, kakaknya Elok dan orang tuanya, serta orang tuanya ICH, tiba di lokasi. Terdengar suara membentak kakaknya Elok kepada Pak Tarmo. Begitupun dengan orang tua ICH. Mereka semua marah besar dan tidak terima melihat Elok dan ICH berakhir seperti ini.
Elok, matanya masih melotot, tubuhnya terbaring tak berdaya seperti orang lumpuh. Sementara ICH, matanya melotot dan masih kejang-kejang.
Bahkan Bu Ulya, Bu Ifa, dan Gus Shofi terkena efeknya yang jauh lebih besar, karena perkara ini mau disebarluaskan ke publik oleh orang tua Elok dan orang tuanya ICH.
SY dan Altaf sampai harus memohon agar Elok dan ICH tetap tinggal di desa ini. Yang konon katanya si simbah, bisa aja sewaktu-waktu bala' nya diangkat. Tapi Bu Ulya, Bu Ifa, dan Gus Shofi, serta orangtua Elok dan ICH menolak. Mereka semua berpikir, sampai kapan mereka berdua (Elok dan ICH) di desa ini kalau misalkan nunggu sampai bala' nya diangkat. Mereka ngotot membawa Elok dan ICH pulang ke rumahnya. Hasilnya?
Elok hanya bisa tidur dengan mata terbuka terus-menerus. Ibunya Altaf cerita sama Altaf, kalau mamanya Elok kerap menyaksikan Elok meneteskan air mata, tapi ketika ditanya, Elok tidak respon. Elok akhirnya berpulang ke rahmatullah tiga bulan setelah dirawat.
Kakaknya Elok, merasa bersalah, sampai-sampai dia hampir ngamuk ke Pak Tarmo. Pak Tarmo pun sama. Seharusnya sejak awal, saat Elok meminta diizinkan penelitian di desa itu... dia dengan tegas menolak. Karena desa itu tidak cocok ditinggali anak yang masih setengah matang. ICH, bagaimana?
Sama, ICH pun akhirnya berpulang ke rahmatullah. Malah, ICH yang berpulang ke rahmatullah terlebih dahulu sebelum Elok akhirnya berpulang juga. Ada satu hal yang menarik, yaitu di malam sebelum ICH menghembuskan napas terakhirnya, ia mendatangi kamar orang tuanya seraya meminta maaf kepada papa dan mamanya. Sambil berteriak, "ular... ular...ular," dan itulah kata terakhir yang terucap dari mulutnya sebelum akhirnya berpulang ke rahmatullah. ICH pun dikebumikan, bersebelahan dengan makam Elok.
Orang tuanya ICH awalnya masih mau memperpanjang masalah ini sama Bu Ulya, Bu Ifa, dan Gus Shofi. Tapi akhirnya nggak jadi, dengan catatan penelitiannya hanya boleh ke arah barat, nggak boleh ke arah timur... apalagi ke desa yang sangat pelosok sekali.
Memang benar, manusia itu merasa besar, padahal sebenarnya ada kebesaran lain yang membuat manusia nggak ada apa-apanya dibalik kalimat kecil. Dimanapun anda berada, junjung tata krama, saling menghormati, saling menjaga satu sama lain, dan selalu bersikap layaknya manusia yang beradab.
The end.