Pengalaman penelitian di desa gaib versi nona SY
Tokoh: masih sama dengan yang versi Altaf.
Part 1:
SY segera merapikan tempat tidurnya, hidup merantau demi menyelesaikan pendidikanya di sekolah yang sudah menjadi impianya sejak kecil. Kini tinggal menunggu bulan demi bulan. Hanya tinggal menyelesaikan tugas terakhirnya, salah satunya, adalah tugas penelitian.
Malam ini, Elok, teman sekelasnya, baru saja membicarakan tentang rencananya, bahwa, ia, sudah memiliki tempat yang cocok untuk pelaksanaan penelitian mereka, dan SY akan ikut dalam observasi pengenalan pada desa tersebut.
Di sela SY mempersiapkan keberangkatanya malam ini, ia teringat harus segera memberitau temannya yang lain tentang observasi ini, karena ia tau, bahwa penelitian mereka, harus di selesaikan bersama-sama. Janji, sebagai sahabat yang harus lulus bersama-sama.
"Taf, dimana?"
"Dirumah SY, gimana, sudah dapat ta tempat buat penelitiannya?"
"Nanti malam Taf, aku berangkat sama Elok, doakan ya."
"Iya. semoga di acc ya sama Bu Ulya."
"Aamiin." balas SY, mematikan telpon
Detik-demi detik berputar, tanpa terasa malam telah tiba, SY melihat sebuah mobil sedan mendekat. Dari dalam, keluar sahabatnya Elok, di belakangnya, ada sosok lelaki. Mungkin itu adalah mas (...), kakaknya Elok. pikir SY dalam hati.
"Ayo. Berangkat!" kata Elok, menggandeng SY agar segera masuk ke dalam mobil. Mas (...) membawakan barang SY, kemudian mobil pun mulai berangkat.
"Jauh gak sih, Lok?" tanya SY,
"Paling ya 2 ½ sampai 3 jam-an, lah, SY. Tergantung, ngebut apa enggak."
"Yang jelas, desanya bagus, tak jamin, masih alami, pokoknya cocok buat penelitian yang kita susun kemarin." Elok terlihat begitu antusias, sementara SY, ia merasa tidak nyaman.
Banyak hal yang membuat SY bimbang, salah satunya, tentang lokasi dan sebagainya. Sejujurnya, ini kali pertama SY, pergi ke arah timur. Sebagai perempuan yang lahir di daerah barat, ia sudah seringkali mendengar rumor tentang arah timur, salah satunya, kemistisanya.
Mistis, bukan hal yang baru bagi SY, bahkan ia sudah kenyang dengan berbagai pengalaman akan hal itu, saat menempuh pendidikanya di SMP *** dan ia tinggal di asrama, mengabaikan perasaan tidak bisa di lakukan secara kebetulan semata. dan malam ini, belum pernah SY merasa setidak enak ini.
Benar saja. perasaan tidak enak itu, terus bertambah seiring mobil terus melaju, salah satu pertanda buruk itu adalah ketika, sebelum memasuki kota ******, dimana tujuanya kota ******, SY melihat kakek-kakek yang meminta uang di persimpangan, ia seakan melihat SY. tatapannya, prihatin.
Bukan hanya itu saja, si kakek, menggelengkan kepalanya, seolah memberikan tanda pada SY yang ada didalam mobil, untuk mengurungkan niatnya. Namun, SY, tidak bisa mengambil spekulasi apapun, Ada temannya yang lain, yang menunggu kabar baik dari observasi hari ini.
Hujan tiba-tiba turun, tanpa terasa, 3 jam sudah perjalanan ini ditempuh. Mobil berhenti di sebuah tempat rest area yang sepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan, SY, melihat hutan gelap, yang memanggil-manggil namanya. "Hutan. desa ini ada di dalam hutan" kata mas (...).
SY tidak berkomentar, ia hanya berdiri di samping mobil yang berhenti di tepi jalan hutan ini. Sebuah hutan yang sudah di kenal oleh semua orang jawa timur. Hutan ********, tidak beberapa lama, nyala lampu dan suara motor terdengar. Mas (...), melambaikan tangannya.
"Itu orang desanya, masuknya harus naik motor, mobil tidak bisa masuk soalnya." SY dan Elok, mengangguk, pertanda mereka berdua mengerti. Tanpa berpikir panjang, SY sudah duduk di jok belakang, dan mereka berangkat
Memasuki jalan setapak, dengan tanah tidak rata, membuat SY harus memegang kuat- jaket bapak yang memboncengnya, tanah masih lembab, di tambah embun fajar sudah terlihat disana-sini, malu-malu memenuhi pepohonan rimbun. SY, melihat sesosok wanita. Ia sedang menari di atas batu
Kilatan matanya tajam, dengan paras indah nan cantik, si wanita, tersenyum menyambut tamu yang sudah ia tunggu. Melihatnya dari balik jalan lain, SY mendapati, si wanita sudah hilang, tanpa jejak. ia tau, dirinya sudah di sambut dengan entah apa itu.
Memasuki desa, mas (...) berpeluk kangen dengan seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya di rumah. Pria itu ramah, dan murah senyum, menyambut tanganya, SY mendengar si pria memperkenalkan diri. "Saya Tarmo."
"Maaf sebelumnya, (...), aku tau kita sudah kenal lama, tapi belum pernah loh tempat ini dipakai buat penelitian."
"Tolong lah mas." kata mas (...), "dibantu, adikku," suasana saat itu, tegang.
"NGGAK BISA (...)." kata Pak Tarno menekan mas (...) dengan ekspresi tak terduga.
"Begini loh pak, maaf, saya minta tolong, saya akan menjaga sikap disini. Saya tidak akan aneh-aneh. tolong pak." ucap Elok dengan wajah memelas. Mas (...) tidak pernah melihat Elok sengotot ini, mimik wajah Pak Tarmo yang sebelumnya mengeras, kini melunak.
"Berapa yang penelitian nanti dek?" dengan bersemangat Elok menjawab. "6 pak."
Hari itu berakhir, dengan persetujuan Pak Tarmo dan tentu saja, masyarakat sekitar, sebelum meninggalkan tempat itu, Elok dan SY berkeliling memeriksa desa sebentar. Disana ia sudah tau penelitian/proker apa saja yang akan menjadi wacana mereka, salah satunya, kamar mandi dengan air sumur.
Ia tau, masyarakat mendapatkan akses air hanya dari sungai, jadi terpikirkan mungkin sumur lebih efisien, di tengah mereka merundingkan berbagai penelitian/proker kelak, SY, terdiam melihat sebuah batu yang di tutup oleh kain merah. Di bawahnya, ada sesajian lengkap dengan bau kemenyan.
Diatasnya, berdiri sosok hitam, dengan mata picing, menyala merah. meski hari siang bolong, SY bisa melihat, kulitnya yang di tutup oleh bulu, serta tanduk kerbau, mata mereka saling melihat satu sama lain, sebelum SY mengatakan pada Elok, bahwa, mereka harus pulang.
"Kenapa sih SY, kok kamu buru buru pergi."
"Kasian mas (...) sudah menunggu." ucap SY.
"Yasudah, ayo." Elok menimpali. Mereka pun segera naik motor, sebelum keluar dari desa itu. sosok yang SY lihat, apalagi bila bukan genderuwo.
"SY, ngajak o ICH, ya, sama Altaf juga. Nanti aku juga ngajak DS sama MN, teman seangkatan kita, anak IPS." ucap Elok didalam mobil.
"Ngapain sih ngajak ICH?"
"Biar ramai, kan sudah kenal lama." sahut Elok.
"Kok nggak kamu sih yang ngajak?" timpal SY.
"Kan kalian pernah satu asrama, jadi sudah kenal lebih lama."
"Pokoknya kamu ajak anak itu."
"Yasudah, iya." SY pun mengalah.
"Tak telponnya Altaf, biar cepat dibuatkan proposalnya. Mumpung Bu Ulya belum merilis daftar penelitiannya. Kalau Bu Ulya sudah merilis daftar penelitiannya bisa berabe nanti. Mumpung kita sudah punya tempat yang pas buat penelitian."
Pelan, mobil itu pun meninggalkan jalanan hutan itu. Elok dan SY, kembali ke kotanya, mempersiapkan semua, sebelum mereka nanti kembali.
Siang itu, SY melihat Altaf dan Elok di hari pembekalan sebelum keberangkatan penelitian mereka. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya 2 orang yang akan bergabung dalam kelompok penelitian mereka pun muncul, mereka adalah DS dan MN. Mereka pun membicarakan semua penelitian/proker dan menentukan jadwal keberangkatan. Semua anak sudah setuju, termasuk Altaf, yang hampir sepanjang hari terus menceritakan, bahwa ibunya memiliki firasat yang buruk pada tempat penelitian mereka. SY hanya diam dan mendengar, karena di dalam dirinya, ia merasakan hal yang sama.
Malam keberangkatan, SY, Altaf, Elok, ICH, MN dan DS, sudah berkumpul, perjalanan di lanjutkan dengan mobil elf yang sudah mereka sewa untuk mengantarkan mereka ke pemberhentian dimana nanti mereka akan di jemput oleh warga desa. SY masih bisa melihat temanya, Altaf, memasang wajah tidak nyaman. Hanya sebuah harap, yang SY panjatkan, bahwa mereka berangkat dengan utuh dan semoga, pulang dengan utuh juga. Tapi, tidak ada yang tau, doa seperti apa yang akan di ijabah oleh Tuhan.
Gerimis mulai turun, sepanjang perjalanan, SY hanya melihat ke jalanan yang lengang. Tepat di pemberhentian lampu merah, seseorang, menggebrak kaca mobil Elf nya, SY begitu terkejut sampai tersentak mundur, dari dalam mobil, SY melihat pengemis tua itu, ia terus menggebrak mobil, membuat semua yg ada didalam mobil kebingungan, termasuk si sopir yang berteriak agar lelaki tua itu berhenti sembari melemparkan recehan, dari bibirnya, Nur melihat ia berucap: "jangan berangkat nak." suaranya terdengar familiar, seperti suara wanita tua.
Sampailah mereka ditempat pemberhentian, setelah menunggu, terlihat rentetan cahaya motor mendekat dari seberang jalan setapak, SY mengatakanya. "itu orang desa yang jemput guys." Tanpa membuang waktu, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Jalanan setapak, dengan lumpur karena gerimis, pohon besar dan gelap, dengan kabut disana-sini, terlihat di sepanjang perjalanan. hanya terdengar suara motor berderu, tanpa ada suara binatang malam, namun, semua berubah ketika tiba-tiba, dari jauh, terdengar suara gamelan.
Suaranya sayup-sayup jauh, namun, semakin lama semakin terdengar jelas, SY mengamati tempat itu, aroma bunga melati tercium menyengat di hidungnya masih mencari, darimana suara itu terdengar, tepat di antara rerumputan di samping jalan setapak. Terlihat, seorang wanita menunduk
Ia menunduk, kemudian melihat SY, diikuti dengan lenggak-lenggok lehernya, serta ayunan gerakan tangan dan lengannya, yang bergerak seirama dengan suara gamelan, SY melihat wanita itu menari. Menari di tengah malam, di tengah, kegalapan hutan yang sunyi senyap.
Gerakannya begitu anggun, meski motor terus bergerak, SY bisa melihat ia menari dengan sangat mempesona, seakan-akan ia bertunjuk untuk sebuah panggung yang tidak bisa SY lihat. Siapa yang menari di malam buta seperti ini. SY terdiam dalam kengerian yang ia rasakan sendirian.
Ketika motor berhenti dan sampailah di desa, SY tidak mengatakan apapun, ia melihat Pak Tarmo menyambut mereka, saat Pak Tarmo mempersilahkan mereka ke tempat peristirahatan mereka selama di desa ini, Altaf tiba-tiba mengatakannya. "Pak, kok desanya pelosok sekali ya."
"Pelosok gimana sih mbak, orang dari jalan raya hanya 30 menit." SY hanya melihat saja, ia tidak mau mengatakan apapun, termasuk wajah Elok yg memerah entah karena malu atau apa.
Mungkin, Elok merasa Altaf sudah melakukan hal yang tidak sopan, sebagai tamu, Altaf memang seharusnya tidak mengatakan itu. di tengah perdebatan antara Elok dan Altaf, tiba-tiba dari balik pohon jauh, sosok hitam dengan mata merah tengah mengintai mereka. Sialnya, hanya SY yang melihatnya.
Akhirnya, perdebatan itu selesai, SY meninggalkan sosok itu, yg masih mengintip dari balik pohon. Ia masuk ke sebuah rumah milik salah satu warga yang tidak berkeberatan, untuk mereka tinggali selama menjalankan tugas penelitian mereka, disana rupanya perdebatan Altaf dan Elok berlanjut.
"Kamu itu kok ngeyel sih, Taf. Orang sudah dibilangin kok, tadi nggak sampai setengah jam."
SY masih melihat, alih-alih menengahi, SY lebih kepikiran dengan hal lain, salah satunya, genderuwo itu, untuk apa ia mengintainya.
Namun, tetiba, Altaf mengatakan sesuatu yang membuat SY tidak bisa mengabaikanya.
"Kamu tadi dengar nggak, ada suara gamelan di tengah hutan tadi?"
Namun ucapan Altaf ditanggapi Elok dengan nada mengejek. "Halah, palingan tadi ada acara di desa tetangga, apalagi." SY, yang mendengar itu bereaksi pada Elok. "Lok, nggak ada desa lain di sini. Kata orang dulu, kalau dengar suara gamelan, itu artinya sebuah pertanda buruk."
Malam itu, berakhir, meski perdebatan masih terus berlanjut di batin mereka masing-masing. Pertanda apa yang sudah menunggu.
"Lok, aku pengen ngomong, sebentar, bisa kan?"
"Ngomong apa SY?" tanya Elok, Elok dan SY pergi ke dapur, wajah SY, masih tegang, ia masih ingat, matanya tidak mungkin salah, ia melihat makhluk itu.
"Lok, aku tanya. Kamu nggak ngerasa aneh ta di desa ini. Kok bisa-bisanya Pak Tarmo sampai, melarang keras, kita penelitian disini, apa kamu gak curiga?"
"Apa sih maksudmu ngomong kayak gitu?" ucap Elok ketus. "Mungkin, Pak Tarmo punya alasan, kenapa melarang kita penelitian disini."
"Kalau kamu ngomong gini karena perkara Altaf tadi, nggak masuk akal SY. Kamu sendiri ikut aku observasi disini kan, apa ada yang aneh? Nggak kan, udahlah, cuma beberapa minggu aja loh." Elok pergi, meninggalkan SY. sementara SY, tidak mungkin menceritakan apa yang ia lihat, Elok bahkan tidak percaya dengan hal yang gaib. SY pun mengalah lagi.
"SY." Altaf memanggil, SY pun menatap wajahnya yang sayu, tampak ia baru saja menangis, tidak aneh memang, siapa yang tidak akan menangis bila merasakan hal yang bahkan tidak masuk diakal seperti itu.
"Bisa aku minta tolong." ucap Altaf.
"Tolong jangan ceritakan ya, soal tadi, soal aku dengar gamelan, aku nggak enak kalau sampai kedengaran warga desa, kita kan tamu disini." SY hanya mengangguk.
Namun, sebelum Altaf beranjak dari tempatnya, SY tiba-tiba mengatakannya.
"Taf, sebenarnya, aku juga dengar suara gamelan itu, malah, aku melihat ada yang menari disana."
"Astagfirullah." ucap Altaf seolah tak percaya
Altaf yang mendengar itu dari SY, seakan tidak percaya, mereka terdiam cukup lama, bingung harus bereaksi seperti apa.
"Udah SY, positif thinking aja, jaga diri baik-baik, ya, insyaallah, nggak bakal terjadi apa-apa, kalau kita hormat dan menjunjung sopan santun selama tinggal di tempat ini." Ucapan Altaf setidaknya membuat SY sedikit lebih lega, namun, SY tidak menceritakan tentang sosok hitam yang mengintai mereka.
Malam pertama, SY, Elok dan Altaf tidur dalam satu kamar yang sama, mereka sepakat untuk menggelar tikar, SY ada di tengah, sementara Elok dan Altaf ada disamping kanan dan kiri SY. terdengar binatang malam bersahut-sahutan, berlomba untuk menunjukkan eksistensinya.
Manakala SY sadar, kedua temannya sudah tertidur lelap, ia terjaga sendirian menatap langit-langit yang berupa genting hitam dengan sarang laba-laba. Rumah desa, tentu saja. pikir SY, memaklumi, sekat kamarpun tidak menyentuh langit, jadi SY, bisa melihat celah disana.
Ketika memikirkan kejadian hari ini, SY tiba-tiba tersadar, bahwa, suara riuh binatang malam tidak lagi terdengar, berganti dengan suara sunyi yang memekik membuat telinga SY menjerit dalam ngeri. Perasaan tidak enak, tiba-tiba muncul begitu saja. membuat SY, lebih awas.
Ketika pandangannya, mencoba mencari cara untuk mengurangi rasa takutnya, di tengah cahaya lampu petromax yang memancarkan sinar temaram, di sudut sekat kamar, sosok bermata merah, mengintipnya. SY tercekat, ia beringsut mundur, menutup wajahnya dengan selimut yang ia bawa.
Pancaran wajahnya terbayang didalam kepala SY, mengingatnya, benar-benar membuat jantung di dadanya, berdegup kencang. ia masih ingat, tanduk kerbau di kepalanya, pancaran amarahnya seolah membuat SY, semakin tersudut dalam ketakutan. tanpa sadar, SY mulai membaca ayat kursi.
Satu dari banyak ayat yang diajarkan gurunya, untuk menolak rasa takut, untuk menunjukkan manusia memiliki kekuatan untuk melawan, namun, setiap ia menyelesaikan satu panjatan doa, di ikuti oleh suara papan kayu yang di gebrak dengan serampangan. kerasnya suara itu menghantam.
SY mulai menangis, menangis sendirian, ia tau, makhluk itu masih disana, tidak terima dengan apa yang ia lakukan, salahkah bila ia meminta bantuan pada Tuhan. Salahkah. tepat ketika isi hati SY menyeruak, perlahan, suara itu menghilang, hilang, hilang, berganti hening.
SY terbangun ketika subuh memanggil, ia masih belum mengerti, apakah itu mimpi, atau benar-benar terjadi, yang ia tau, ia harus menjalankan tugasnya, sebagai seorang muslimah yang taat, ia, tidak boleh meninggalkan salat. SY, hanya meyakinkan dirinya, tidak akan bercerita kepada siapapun, bahkan, kepada 2 sahabatnya, atas apa yang baru saja menimpanya.
Pagi hari, Pak Tarmo mengumpulkan semua anak. Mengatakan bahwa hari ini, ia akan memperkenalkan keseluruhan desa, dan mana saja yang bisa di jadikan objek penelitian/proker untuk mereka kerjakan sesuai kesepakatan per anak. Pak Tarmo menjelaskan sembari berjalan, sementara anak-anak mengikutinya
Tidak ada yang menarik dari penjelasan Pak Tarmo tentang desa itu, bahkan Pak Tarmo terkesan menyembunyikan sejarah desa itu, membuat SY semakin curiga, selain hal-hal umum, hanya MN, teman seangkatannya yang selalu menimpali ucapan Pak Tarmo dengan candaan, membuat tawanya pecah.
Semua terasa alami, seperti penelitian yang SY bayangkan, sampai, mereka berhenti di sebuah tempat yang membuat SY tidak nyaman. Sebuah pemakaman, di sampingnya, banyak pohon beringin besar. Selain itu, pemandangan pemakaman itu, juga terkesan sangat aneh.
Setiap batu nisannya ditutupi dengan kain hitam, membuat SY, atau semua orang, merasa penasaran, apa alasannya? Namun SY, merasakan angin dingin, seperti mengelilinginya, ia tau, ada yang tidak beres dengan tempat ini. seakan-akan, tempat ini, sudah menolaknya.
Ada satu hal yang membuat SY semakin curiga kepada Pak Tarmo, dimana tiba-tiba, ia terpicu oleh kalimat MN, kemudian beliau melontarkan ucapan bernada mengancam, seakan-akan, Pak Tarmo menjaga sesuatu yang sakral namun mengancam. apa yang Pak Tarno sebenarnya sembunyikan?
Untungnya, ICH langsung menengahi insiden itu, membuat Pak Tarmo kembali menjadi Pak Tarmo yang sebelumnya. Namun, SY, seakan tau, ia tidak sanggup lagi mengikuti kegiatan keliling desa ini, maka ia, ijin pamit untuk kembali ke penginapan, untungnya, Pak Tarmo mengijinkanya.
ICH, menawarkan diri untuk mengantar SY, dan Pak Tarmo sekali lagi, mengijinkan. Semua anak melanjutkan tour mereka bersama Pak Tarmo, sementara ICH dan SY, berjalan kembali ke area rumah tempat mereka menginap. "Ada apa SY? Ada hantu lagi?"
Dari semua anak, memang tidak ada yang lebih mengenal SY daripada si ICH, temannya, bahkan saat SMP dulu, SY dan ICH satu sekolah, dan tinggal di asrama yang sama. SY hanya tersenyum kecut, menjawabnya seadanya, bila mungkin kesehatannya sedang menurun, namun ICH tau, SY berbohong.
"Tadi di kuburan ramai ya?" ucapan ICH tidak di gubris sama sekali oleh SY, sehingga ICH akhirnya menyerah, di tengah perjalanan pulang itu, tiba-tiba ICH menanyakan sesuatu yang membuat SY menaruh curiga pada ICH.
"SY, aku tanya. Altaf udah punya pacar belum?"
"Maksudnya?" tanya SY lagi.
"Temanmu."
"Altaf loh, sudah punya pacar apa belum?"
"Tanya o sendiri aja ke Altaf nya langsung." SY tau, ICH suka sama Altaf hari itu.
SY yang menghabiskan sebagian siangnya di dalam kamar, terbangun ketika Elok memanggilnya. semua anak sudah berkumpul, dan Elok menunjukkan proposal penelitian/proker mana aja yang sudah disetujui Pak Tarmo, dimana Elok, membagi menjadi 3 kelompok, terlepas dari 1 penelitian/proker kelompok Altaf dengan MN, SY dengan DS, sementara ICH dengan Elok. Semua anak sepakat, tidak ada yang komentar banyak, mengingat, Elok yang paling berjasa sehingga bisa mendapatkan tempat penelitian tanpa campur tangan pihak sekolah. Lusa, adalah awal dari persiapan penelitian/proker mereka.
Sore datang, ketika SY baru saja selesai merapikan barangnya untuk persiapan proker kelompok, Altaf masuk ke kamar dan mengajak SY mandi.
"SY, mandi yuk."
"Dimana?" tanya SY,
"Di bilik sebelahnya sungai, ada sebuah bilik kecil, tau kan, yang bangunanya kayak kolam itu loh."
SY tidak menjawab. Namun setelah memikirkan, bahwa ia belum membasuh badannya sejak pertama kali datang kesini, ia pun setuju. Dengan syarat, SY yang mandi duluan.
Saat melewati sinden, SY sudah merasakan perasaan tidak nyaman, sinden itu terdiri dari anak tangga yang di susun dengan batu bata merah, tampaknya bangunanya sudah sangat tua, ada air jernih di dalamnya, namun, SY tidak pernah melihat ada yang menggunakan air itu.
Selain itu, fokus SY tentu pada bentuk menyerupai candi kecil di belakangnya, dan di pelataran candi, ada sesajen, hal yang sudah lumrah di tempat ini, hanya saja, SY tidak melihat adanya gangguan saat ia mengamati sinden itu.
Sampailah mereka di bilik, yang di belakangnya ada pohon besar, pohonya rindang dengan rimbun semak di samping bilik, Altaf memberitau SY, bila di dalamnya ada kendi besar yang sudah di isi oleh warga dari sungai, dan memang untuk mandi anak-anak yang penelitian.
Baru masuk, SY langsung mencium aroma amis, seperti aroma daging busuk, namun SY mencoba mengerti, mengingat biliknya sendiri tidak terlihat seperti kamar mandi yang bersih, lantainya dari tanah, sedangkan kiri-kanan di penuhi lumut, jadi SY mencoba memaklumi.
Ia pun segera membasuh badanya dengan air di dalam kendi, namun, ada perasaan aneh ketika air membilas badanya, seperti ada benda kecil, yang mengganjal saat bersentuhan dengan kulit SY. Ketika, di perhatikan dengan seksama, apa yang ada di dalam kendi, air itu di penuhi rambut.
SY kaget, istighfar terus menerus, sembari ia beringsut mundur, ia mencoba memanggil Altaf. Namun aneh, tidak ada jawaban apapun dari Altaf. SY, dengan berselimut handuk, mencoba membuka pintu bilik, namun, pintu seperti di tahan oleh orang yang ada di luar.
"Taf, buka pintunyaaa!!" teriak SY, sembari menggedor pintu anyam bambu itu. Namun, tetap tidak ada jawaban apapun dari Altaf, sampai, SY menyadari, di belakangnya, ada sosok hitam itu, besar sekali, sampai menyentuh langit bilik. SY pun memejamkan mata rapat-rapat.
Yang pertama ia lakukan adalah istighfar kencang-kencang, sembari tanganya mencari batu di tanah bilik, ketika tangannya berhasil meraih sebuah batu, SY melemparkan kuat-kuat batu itu, sembari mengucap, doa yang di ajarkan gurunya bila bertemu lelembut, sampai, sosok itu lenyap,
Butuh waktu untuk SY menenangkan diri, ia tau, ia sudah di incar, namun kenapa ia di incar, ia tidak melakukan apapun yang membuatnya di incar, bahkan bila karena ia secara tidak sengaja melihat makhluk itu, seharunya bukan hanya SY yang sial, tapi makhluk itu juga sial.
Tiba-tiba pintu terbuka, dimana Altaf melihat SY dengan ekspresi ganjil.
"Kenapa, Taf?"
"Hei?" "Nggak papa ta kamu." ucap Altaf saat itu.
"Sudah mandi o, aku yang gantian jaga didepan, cepetan ya, sudah mau malam. Oiya, ini kreseknya, handuk sama baju ganti mu. Ageh ndang mandi sana."
Awalnya Altaf tampak ragu, ia seperti mau mengurungkan niatnya, tidak hanya itu, Altaf seperti mau mengatakan sesuatu namun kemudian mengurungkannya, ia kemudian menutup pintu bilik. Ketika SY, berjaga di luar, ia sayup-sayup mendengar suara orang berkidung.
Penasaran, SY mulai mencari sumber suara, dan berakhir pada gema dari dalam bilik. Takut, hal buruk terjadi, SY mencoba memanggil Altaf, menyuruhnya agar ia segera menyelesaikanya, namun, Altaf tidak menjawab teriakannya, suara kidung itu, terdengar semakin jelas.
Dari samping bilik, ada semak belukar, SY mencoba melempar batu darisana, namun, ia terperanjat saat tau, dibelakang bilik ada sesaji, lengkap dengan bau kemenyan di bakar SY mencoba mengabaikanya, tetap berusaha memanggil sahabatnya, sampai, dari salah satu celah, ia melihat yang didalam bilik, bukan Altaf, namun sosok cantik jelita, siapa lagi bila bukan, si penari yang SY lihat di malam kedatangannya di desa ini. Wanita cantik itu, membasuh badanya dengan anggun, sembari berkidung dengan suara yang membuat SY tidak tau harus berujar apa.
Dimana Altaf. Pikir SY, ia tidak menemukan sahabatnya, tidak dimanapun ia mencoba melihat. sampai, sosok itu tersenyum seolah tau, SY melihatnya. Lalu, ia bergerak menuju pintu, membukanya, dan saat itulah, SY melihat Altaf, keluar dengan wajah kebingungan,
Selama diperjalanan pulang, Altaf mencoba mengajak bicara SY, namun, SY tidak merespon ucapan Altaf, ia memikirkan apa yang baru saja ia lihat bukan hal kebetulan semata. seperti sebuah pesan, pesan apa? Altaf dalam bahaya, atau, dirinya yang sedang dalam bahaya.
Malam setelah salat Isya, SY berpamitan sama Elok dan Altaf, ia ingin menemui Pak Tarmo, untuk pengajuan proposal penelitian/prokernya bersama DS. Elok sempat bertanya pada SY, apakah DS menemani, namun SY mengatakan, ia bisa sendiri, meski Elok menawarkan diri, namun SY menolaknya.
Ada hal yang mau di luruskan, bukan penelitian/prokernya, namun apa yang sebenarnya terjadi disini, Pak Tarmo tau sesuatu. Setidaknya itu asumsi SY. Dan, ia merasa harus bertemu beliau malam ini, seakan-akan ada yang membisikinya bahwa, ia harus pergi ke rumah Pak Tarmo.
Benar saja. Pak Tarmo duduk di teras rumah, seakan-akan, beliau sudah menunggunya. Namun, ada sosok lain yang duduk bersamanya, seorang lelaki renta, ia duduk, sembari mengisap bakau lintingan, dan ketika SY datang, si lelaki tua, tersenyum seperti mengenalinya.
SY mendekat, memberi salam, Pak Tarmo tersenyum ramah seperti biasanya, lalu mempersilahkan SY duduk, namun, SY lebih tertuju pada 3 gelas kopi yang tersaji.
"Ini yang punya kopi kemana ya pak, kopinya kelebihan satu?"
"Itu kopi untuk kamu, anak cantik." ucap lelaki renta itu. ia masih tersenyum, memandang SY.
"Mohon maaf kek, saya tidak minum kopi."
"Sudahlah, di minum dulu, nggak baik nolak pemberian tuan rumah disini. Nggak bagus pokoknya."
"Iya pak." ucap SY.
Ketika SY menyesap kopinya, aneh, kopi itu terasa seperti aroma melati, rasanya manis, dan ia tidak menemukan ampas, padahal dari luar, kopi itu terlihat seperti kopi hitam yang sekali lihat, bisa di rasakan rasanya akan sepahit apa. si kakek bertanya. "Gimana rasanya?"
"Enak mbah" si mbah mengangguk puas, kemudian bertanya kembali.
"Sekarang, kamu bisa ceritakan, kenapa kamu kesini anak cantik?"
"Saya mau tanya sama Pak Tarmo kek."
"Tanya soal apa?
"Saya diikuti oleh sosok besar kek, saya takut. apa saya sudah melakukan kesalahan, sehingga saya dikejar, apa ada yang saya perbuat dan membuat tidak nyaman warga sini, saya minta maaf sebesar-besarnya."
Saat itulah, Pak Tarmo bicara. "Nak, ini bukan salahmu, alasan kenapa kamu diikuti, karena kamu bawa sesuatu dari luar."
"Maksudnya gimana pak, saya tidak mengerti maksud anda."
Si kakek, kemudian melanjutkan. "Kamu itu nak, ada yang njaga, siapa ya? Nenek-nenek, nah, itu yang tidak diterima disini. Paham nak?"
"Saya, penjaga. Mohon maaf, saya belum mengerti."
"Sudah gini aja, besok malam, kamu kesini, saya tunjukkan sesuatu sama kamu." Meski tidak mengerti maksud ucapan Pak Tarmo dan lelaki renta itu, SY akhirnya kembali ke penginapannya. dengan membawa nama lelaki renta itu, yang menyebut dirinya dengan nama "simbah".
Yang pertama SY lihat saat ia menginjak penginapan adalah, Altaf. Ia seperti sudah menunggunya, dan benar saja, Altaf mengajukan pertanyaan aneh, seperti dari mana, kenapa tidak minta di temani, namun, SY tidak ingin menceritakanya, ia takut bila Altaf dan yang lain terlibat.
SY langsung pergi ke kamar, beristirahat, meski pikiranya masih menerawang jauh, ia tidak tau harus melakukan apa selain menyimpannya sendiri. Berharap mendapatkan ketenangan dalam tidurnya, SY malah mendapat mimpi, tak terlupakan, sepeti sebuah pesan untuknya.
Di mimpi itu, SY melihat sebuah tempat, banyak pepohonan yang tumbuh, salah satu yang tidak akan pernah SY lupakan adalah pohon Jati kroyo atau lebih dikenal dengan nama jati belanda yang tumbuh di sepanjang mata memandang, bukan hanya itu, ada rimbun tumbuh tanaman beluntas.
Aroma dedaunan beluntas yang wangi, membuat SY mengingat kembali saat ia masih tinggal di asrama, namun, SY sadar, bahwa ia saat ini, berdiri di tengah hutan belantara, sendirian, dengan kegelapan malam yang menyiutkan nyalinya. SY, mulai berjalan, menyusuri tanah lapang
Sejauh mata memandang, SY hanya melihat pepohonan yang besar diselimuti kabut keputihan, tepat ketika SY tengah berjalan, ia mendengar riuh sorai dari kejauhan, dari suara itu, terdengar ramai orang, entah ada apa, sehingga keramaian itu, membuat SY penasaran, ia pun mendekati.
Semakin mendekati sumber suara, SY merasa janggal, entah apakah dari balik pepohonan atau semak belukar, ada yang tengah mengawasinya, SY hanya mengucap kalimat yang bisa menguatkan batinya, bahwa ia, disini, bukan berniat menganggu.
"Mbah, mohon maaf, cucumu hanya ingin lewat, tidak ada keinginan mengganggu, mohon maaf ya mbah." kalimat itu, terus SY, ucapkan. dan, sampailah, ia, di keramaian itu.
Banyak sekali orang, mulai dari yang tua, hingga yang muda, dari anak-anak sampai remaja, mereka semua berkumpul menjadi satu, di depan sebuah sanggar besar, ada alunan musik gamelan, yang mengalun merdu, tepat, ditengah sanggar, ada sosok penari yang sangat cantik.
SY, tidak pernah tau, ada tempat seperti ini di desa ini, sebelumnya, ia memang tidak mengikuti Pak Tarmo saat mengajak semua rombongan temannya berkeliling kampung, maka, saat itu, SY hanya berpikir, di tempat inilah, warga kampung mengadakan hajatan.
SY masih belum menyadari, kenapa dan bagaimana ia bisa sampai disana, yang ia tau, ia tersesat sampai akhirnya berakhir ditempat ini ketika, SY tengah asyik menikmati pertunjukkan itu, tiba-tiba, terdengar sayup-sayup seseorang berteriak, anehnya, hanya SY yang merasa mendengarnya
Teriakannya pilu, meminta tolong, SY pun meninggalkan keramaian itu, matanya awas, mencari sumber suara yang meminta tolong itu, naas, ketika SY tengah berjalan, ia terpelosok jatuh dari sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi, mencoba bangkit, SY melihat kakinya mati rasa.
Saat itulah, SY melihatnya. seekor ular tengah menatapnya, ia mendesis, membuat SY hanya bisa terpaku melihatnya. sisiknya merah delima, meski ukuranya tidak terlalu besar, ular itu cukup membuat SY ketakutan, dengan tenaga yang tersisa, SY merangkak menjauhinya.
Masalahnya, adalah, setelah itu, muncul orang yang SY kenal, sosok yang berjalan mendekati SY, Altaf. Altaf memeluk ular itu, seperti peliharaannya, membiarkan ular itu, melilit lenganya, seakan-akan ular itu adalah temannya. melihat itu, SY tidak tau harus bicara apa.
Karena setelah itu, SY tersentak dari tidurnya setelah mendengar suara bising dari luar rumah. Meski masih dalam keadaan syok, SY segera berlari menuju suara bising itu, rupanya, di luar rumah, ramai orang tengah berkumpul. SY melihat, MN, Elok, ibu pemilik rumah, Altaf. Entah apa yang mereka lakukan, SY belum mengerti sama sekali. Yang ia dengar hanya ucapan ibu pemilk rumah. "Sudah, sudah, ayo masuk, sudah malam." Namun, ketika mata SY dan Altaf bertemu, ada tatapan kebingungan disana.
MN kembali ke posyandu tempat ia menginap, sedangkan si pemilik rumah menggandeng Altaf masuk ke dalam rumah. Hanya tinggal Elok dan SY yang di luar rumah.
"Ada apa sih, Lok. Kok berisik sekali." tanya SY.
"MN bilang, dia ngeliat Altaf nari di sini. Entah lah kok bisa, aku kaget ngeliat Altaf nggak ada di kamar." jawab Elok.
SY yang mendengar itu hanya diam sembari memikirkan mimpinya barusan.
Altaf, hanya itu yang terbesit dalam pikiranya SY. Ia tau, ada yang janggal dari dirinya, Altaf dan tempat ini.
Keesokan harinya, sesuai janji yang SY buat, ia datang lagi ke rumah Pak Tarmo. Bertemu dengan Pak Tarmo dan simbah. Kali ini, SY diizinkan masuk ke dalam rumahnya.
"Semalam mimpi apa nak?" tanya simbah.
SY pun menceritakan mimpinya. Termasuk insiden saat ia melihat Altaf yang dipergoki MN tengah menari di malam buta.
Simbah hanya mengangguk, tidak berbicara apapun, ia hanya berujar, bahwa, yang ingin diketahui SY, adalah sosok hitam yang mengikutinya.
Malam itu juga, Pak Tarmo, simbah, dan SY, pergi ke sebuah batu, tempat pertama kali melihat sosok hitam itu.
Di sana, Pak Tarmo menggorok seekor ayam. Darahnya diletakkan di sebuah wadah, sebelum menyiramkannya ke batu itu.
"Nak, kamu percaya, ada desa lain di hutan ini yang bernama desa halus."
SY mengangguk. Ia percaya.
"Yang akan kamu lihat sebentar lagi, adalah satu dari ribuan penghuni desa tersebut."
SY terdiam. Dan benar saja, ia bisa melihat makhluk hitam itu menjilati batu yang baru diguyur darah ayam kampung itu.
Makhluk itu hanya menjilati darah itu, kemudian Pak Tarmo mengatakannya.
"Nak, kamu sadar apa enggak, sebenarnya kamu bawa tamu ke desa ini. Cara gampangnya gitu ya nak."
"Tamu yang kamu bawa itu, suka sekali membuat masalah di desa ini."
"Masalahnya, makhluk itu sudah terikat di dalam rohmu. Kalau ia diambil, kamu bisa mati."
"Aku sudah berunding sama simbah, supaya makhluk itu nggak usah diambil dari badanmu. Tapi di lepaskan saja, selama kamu masih di sini, dia nggak akan pergi jauh."
"Makhluk apa sih, mbah?"
Simbah mendekati SY, lalu menarik ubun-ubunnya, kemudian melemparkannya ke batu itu.
Setelah itu, SY tidak bisa melihat makhluk hitam itu lagi.
"Sudah selesai nak, sekarang kamu bisa fokus mengerjakan tugasmu dengan tenang. Nggak akan ada yang ganggu lagi."
Siang itu, SY dan DS tengah mengerjakan penelitian/proker mereka bersama warga desa. Ketika hari sudah siang, SY tanpa sengaja melihat Altaf, MN, Elok, dan Pak Tarmo tengah mengendarai motor. Mereka pergi meninggalkan desa, entah kemana.
"SY, teman satu jurusan mu itu kok aneh sih." kata DS.
"Aneh gimana sih DS? Siapa?" tanya SY.
"Siapa lagi kalau bukan ICH. Temanmu."
"Aneh gimana sih DS?"
"Aku sering lihat dia ngomong sendiri, ketawa-ketawa sendiri di kamarnya."
"Yang benar kamu DS? Jangan ngomong sembarangan lah. ICH orang yang agamis, jadi nggak mungkin dia melakukan hal yang aneh-aneh." kata SY tak percaya.
"Aku nggak bohong, terus ya SY, (maaf) aku pernah memergoki dia on*** di dalam kamar."
"Halah, nggak mungkin. Ngarang kamu."
"Sumpah, aku nggak bohong. Kalau nggak percaya kamu bisa tanya MN, SY. MN juga saksinya kalau ICH pernah on***."
"Terus ya SY, tak kasih tau, tapi jangan bilang siapa-siapa, (maaf) aku pernah ngeliat ICH bawa pulang sesajen, terus ditaruh di bawah kasurnya."
"Kamu nggak ngarang kan DS?"
"Iya SY. Aku jujur, nggak ngarang-ngarang cerita. Aku liat dengan mata kepalaku sendiri."
SY masih mencoba menahan diri, ia masih tidak bereaksi mendengar ICH dituduh seperti itu oleh DS.
Namun, seketika itu emosi SY tidak terbendung saat DS mengatakan itu.
"Terus, di atas sesajen itu, aku ngelihat ada foto. Pas tak lihat dengan seksama, ternyata itu fotonya temanmu, si Altaf. Apa ICH nyoba mau melet Altaf ya?"
"DS, jaga ya omonganmu. Jangan nuduh sembarangan kayak gitu. ICH itu anak baik-baik, dia nggak mungkin berbuat kayak gitu."
"Kalau kamu masih nggak percaya, ayo sekarang tak ajak ke kamarnya ICH. Tak kasih tau, biar kamu nggak bilang kalau aku itu bohong."
Mendengar DS menantang seperti itu, saat itu juga, SY mengikuti DS menuju penginapan mereka, ke arah kamar ICH.
Seketika, SY tidak dapat berbicara apa-apa saat melihat itu di depan matanya. Seperti SY ingin menghantam kepala ICH saat itu juga. Ia tak menyangka, teman seasrama nya dulu, yang ia kira agamis, bisa berbuat segila ini.
"Tuh kan SY. Dibilangin kok, aku itu nggak pernah bohong. Dia itu beneran kayak gitu."
"Alasan kenapa aku sekarang berani ngajak kamu kesini. Karena aku tau, sekarang Elok sama ICH pasti sekarang lagi ngerjakan penelitian/prokernya di kebun ubi, bukan masalah apa-apa sih, tapi aku takut, soalnya sering kali kalau malam aku dengar suara perempuan dari kamar ini."
Ucapan DS yang terakhir, membuat Elok tak dapat bicara lagi. Saat ia termenung sendiri, entah kenapa, insting SY mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh temannya.
"Siapa yang di kamar sama ICH."
"Entahlah, aku sendiri juga nggak tau SY."
"Ya itu masalahnya. Setiap kali tak tungguin, anak itu keluar, nggak ada yang keluar dari kamar ini."
SY, tiba-tiba mendekati lemari. Ia merasa sesuatu disana. Tepat ketika lemari itu terbuka, DS dan SY, tersentak kaget melihat ada ular didalamnya.
Ular itu berwarna merah, kemudian lengkap setelah keluar lewat jendela posyandu.
DS dan SY hanya saling menatap satu sama lain, tidak ada hal lagi yang harus mereka bicarakan.
Sejak saat itu, SY selalu mengawasi ICH. Bahkan ketika akhirnya pak Tarmo mengatakan bahwa mereka akan tinggal satu rumah, meski terpisah dengan sekat, dari situ juga, SY akhirnya tau kalau ICH kerap kali mengawasi Altaf tanpa sepengetahuan siapapun.
Yang paling tidak bisa SY lupakan adalah, saat ia bertanya pada ICH mengapa ia tidak melihat dirinya salat lagi. ICH berdalih bahwa ia tidak perlu bilang siapa-siapa saat lagi salat.
Meski ICH selalu bisa membalik pertanyaan SY. Tapi SY bisa tau kalau ICH berbohong.
Puncaknya, ketika sore hari, saat SY baru saja selesai salat ashar di dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara bising dari samping kamar. SY pun beranjak, mencari sumber suara.
Manakala SY sedang mencari, ia melihat ICH sedang menabur sesuatu di tempat Altaf biasa duduk.
SY, yang selalu membersihkan bunga-bungaan itu. Aneh, namun kelakuan ICH selalu membuat SY penasaran.
Tapi, masalah tidak hanya berhenti di ICH saja, melainkan temannya, Altaf.
Setelah magrib, SY pergi ke dapur untuk minum. Saat ia melihat Altaf, menatapnya. Wajahnya kaget dan bingung melihat SY.
"Kenapa sih, Taf?" tanya SY yang juga bingung dan kaget melihat Altaf.
Mata mereka saling bertemu. Namun, hanya untuk saling mengamati satu sama lain.
Ketika SY mendekati Altaf, tiba-tiba Altaf lari ke kamar. Lalu kembali menemui SY. Matanya tampak seperti baru saja melihat setan.
"Taf, ada apa sih sebenarnya?" tanya SY.
SY melihat tangan Altaf sampai gemetaran.
SY tidak tau, mengapa Altaf bisa seperti ini. Sampai, pertanyaan Elok membuat SY terhenyak dan menyadari semua anak berkumpul di tempat itu.
"Ada apa sih kok berisik sekali." tanya Elok.
"Nggak tau, anak ini ditanyain dari tadi nggak jawab-jawab, malah diam aja." jawab SY.
"Kenapa, Taf?" tanya MN yang mendekati.
"Tanganmu kok sampai gemetaran gini, ada apa sih sebenarnya, Taf?" tanya DS yang tak kalah penasaran.
SY hanya diam sembari mengamati Altaf dan teman-temannya yang lain.
"SY, ambilkan minum gitu loh, kok malah diam aja sih kamu." tegur DS.
SY kaget dengar teguran DS. Lalu ia pun pergi ke dapur untuk mengambil teko yang ia pakai untuk minum tadi. Kemudian memberikannya ke Altaf. Disini, hal mengerikan itu terjadi.
Ketika Altaf meneguk air dari teko yang dipakai SY minum tadi, tiba-tiba Altaf berhenti meneguknya. Membiarkan air itu berhenti di dalam mulutnya. Lantas, Altaf pun memasukkan jarinya kedalam mulutnya, dan dari sana, keluar berhelai-helai rambut hitam panjang.
SY dan yang lainnya terperangah manakala Altaf menarik sulur rambut itu dengan tangannya, tidak ada yang bisa berkomentar. Lalu Altaf membuka penutup teko itu, untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya. Ketika penutup teko dibuka, semua anak melihat, di dalamnya ada segumpal rambut panjang hitam.
Insiden itu membuat Altaf memuntahkan isi perutnya, di tengah ketegangan itu, tiba-tiba DS nyeletuk. "Taf, kamu diincar ya. Katanya mamaku, kalau tiba-tiba muncul rambut dan nggak tau dari mana asalnya, itu biasanya kalau nggak di santet ya diincar setan."
Ucapan DS membuat suasana semakin tak kondusif. Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba SY teringat dengan sosok penari yang ia lihat.
"Taf, apa penari itu masih ngikutin kamu, soalnya dari kemarin aku nggak ngeliat dia ada di belakangmu." Ucapan SY membuat semua orang mengerutkan dahi. Sehingga SY ahirnya diam.
Setelah kejadian itu, SY merasa bersalah. Seharusnya, ia menahan untuk tidak menceritakan itu. SY pun kemudian sedikit menjauhi Altaf. Disini, tanpa sengaja, SY mencuri dengar suara seseorang yang sedang cekcok. Mereka saling berteriak satu sama lain.
SY terdiam untuk mendengarkan suara tersebut.
Rupanya, suara itu berasal dari Elok dan ICH. Untuk apa mereka cekcok.
Ada satu kalimat yang paling diingat sama SY. Adalah kalimat saat ICH mengatakan.
"Lok, mana mahkota warna emas yang ada batu merah nya, yang tak kasihkan kamu. Aku kan nyuruh kamu buat ngasihkan mahkota itu ke Altaf. Tapi sampai sekarang kok Altaf belum menerimanya."
SY tidak memahami maksud mahkota emas itu. Namun, SY mengerti, ada sesuatu diantara mereka.
Sejak kejadian itu, SY merasakan firasatnya semakin buruk. Dimulai suara warga yang berbisik.
Dimulai dari warga yang mengeluhkan, kalau penelitian/proker ICH dan Elok yang paling banyak ditentang. Namun SY belum paham kenapa penelitian/proker mereka ditentang. Sampai kemudian DS memberitau.
"Temanmu itu, si ICH sama Elok, mau meneliti pohon-pohon yang ada di jalan Palace Ghost Red Lady. Terus dia katanya juga mau bikin rumah kaca di sana, katanya buat budidaya tanaman. Ya jelas di tentang lah sama warga sini, orang tempat itu keramat."
SY masih belum mengerti maksud DS.
"Palace Ghost Red Lady, itu tempat apa kok sampai di larang? Penelitian/prokernya Elok sama ICH kan bagus, buat kemajuan desa ini."
"Ya aku mana tau, pokoknya dilarang."
"Dimana sih tempat itu? Kok aku nggak tau. Kamu bisa nggak ngantarkan aku ke sana?" ucap SY penasaran.
"Lah matamu, gila a, orang Pak Tarmo aja mewanti-wanti agar kita jangan sampai ke sana. Tempat itu tuh langsung hutan belantara."
Tapi karena kepo, SY bersikeras untuk tetap ke sana. Jadi ia bertanya pada DS meski dengan mengatakan bahwa ia bertanya untuk menghindari tempat itu. DS pun memberitau letak tempat itu. Yang ternyata adalah lereng bukit dengan satu jalan setapak ke atas. Disampingnya adalah perkebunan ubi, tempat ICH dan Elok mengerjakan penelitian/prokernya. Namun sore itu, kedua anak itu tidak ada di sana.
Setelah memberitau letak tempat terlarang itu dengan mengajak SY melihat dari kejauhan, DS mengajak SY untuk pergi dari sana. Tapi, SY berbohong pada DS dengan alasan dirinya ada janji dengan Pak Tarmo sore ini. DS langsung ngacir, walaupun dia menaruh curiga pada SY. Dia kembali ke penginapannya. Setelah DS pergi, SY menatap lama tempat itu.
Ia menatap lama, gapura kecil, seperti yang lain, ada sesajen di sana. Tidak hanya itu, gapura itu diikat dengan kain hitam dan kain merah yang menandakan bahwa tempat itu sangat terlarang. Namun, insting penasarannya seperti sudah tidak tertahankan lagi, seperti memanggil.
Jalannya menanjak, dengan sulur akar dan pohon-pohon besar di sana-sini. Butuh perjuangan untuk naik, namun anehnya, jalan setapak ini seperti sengaja dibuat untuk satu orang. Sehingga jalurnya mudah untuk ditelusuri. Menyerupai lorong panjang dengan pemandangan alam terbuka.
SY menelusuri tempat itu. Terlihat langit tampak berwarna jingga, pertanda malam akan datang. Meski tidak tau apa yang SY lakukan disini, namun perasaannya seolah terus menerus mendesaknya untuk melihat jalan setapak ini. Kemana ia membawanya.
Angin berhembus kencang, dan tiap bambusannya membawa SY semakin jauh masuk ke dalam. Ia tidak bisa keluar dari jalan setapak karena rimbunnya semak belukar dengan duri tajam yang bisa menyayat kulit dan kakinya.
Namun, ia curiga. Semakin ia masuk, ada sesuatu di sana.
Tetapi, ia harus kecewa, ketika sampai di ujung jalan, bukan jalan lain yang ia lihat. Namun, semak belukar dengan pohon besar menghadang SY. Di bawahnya, ditumbuhi tanaman beluntas yang rimbun. Jalanan ini, tidak dapat dilewati lagi.
Lalu, kenapa warga desa ini mengeramatkan tempat ini bila hanya satu jalan setapak satu arah seperti ini.
Langit sudah mulai menunjukkan warna biru gelapnya, waktu magrib seolah telah datang. SY bersiap untuk kembali, tapi langkahnya terhenti saat ia merasa ada hembusan angin dari semak beluntaz didepannya. ia pun menyisir semak itu, sampai...
SY melihat sebuah undakan batu yang disusun miring. Ia tidak tau, rupanya ia berdiri di tepi lereng bukit. Meski awalnya ragu, SY akhirnya melangkah turun, menjajak kaki dari batu ke batu, sembari berpegangan pada sulur akar di lereng. Ia sampai di bawah dengan selamat.
Seperti dugaannya, ada tempat tak terjamah di desa ini, manakala SY melihat dengan jelas, sanggar atau bangunan yang lebih terlihat sebagai balai sebuah desa. Namun, kenapa tempat ini tidak terawat.
SY beberapa kali melihat ke arah langit. Langit semakin gelap. Namun ia justru mendekat, layaknya sebuah tanah lapang dengan atap yang bergaya balai desa khas atap jawa. SY mengamati tempat itu sambil setengah bergidik.
Selain kotor dan tak terurus, tidak ada apapun di sini, kecuali sisi ujung dengan banyak gamelan tua tak tersentuh sama sekali.
Butuh waktu lama bagi SY untuk mengamati tempat ini, sampai ia mengambil kesimpulan, tempat ini sengaja ditinggalkan begitu saja. Kenapa?
Ia menyentuh alat musik kendang, mengusapnya, tempat ini pasti sudah sangat lama ditinggalkan.
Setiap SY menyentuh alat itu, ia merasa seperti ada seseorang yang memainkannya. Ada sentuhan kidung di telinganya, SY sendirian, namun ia merasa, ia berdiri di tengah keramaian.
Kegelapan sudah menyelimuti tempat itu. Langit sudah menghitam tanda malam telah datang. Namun, SY merasa tugasnya belum selesai.
Sampai kemudian, SY tersentak saat ada sebuah suara familiar yang memanggil namanya. Ketika SY berbalik untuk melihat siapa yang baru saja memanggilnya, SY mematung saat melihat ada Elok dan ICH dibelakangnya, mereka berdua memasang ekspresi wajah tercengang.
Suasana menjadi sangat canggung.
"Lok, ICH. Kok kalian berdua ada di sini?"
Elok dan ICH hanya mematung, tidak menjawab pertanyaan SY. SY bergegas menghampiri mereka berdua, melewatinya, dan ia melihat ada sebuah gubuk di belakang bangunan ini.
SY berbalik, ia kecewa.
"ICH, kalau papa mamamu tau kelakuanmu kayak gini, ntar perasaan mereka gimana? Sebagai teman, aku nggak nyangka kamu bisa berbuat segila ini."
ICH hanya diam, apalagi Elok.
"SY, tolong." ucap Elok, menyentuh bahu SY.
"Lok, aku nggak ngomong sama kamu. Aku ngomong sama ICH."
Tatapan SY, membuat Elok beringsut mundur. ICH masih diam, sebelum akhirnya SY menampar pipi ICH.
"Udah berapa kali kamu berbuat kayak gitu sama Elok, ICH. Tolong jawab dengan jujur."
"Sudah tiga kali."
SY tidak tau harus mengucap apa. "Tunggu, ini artinya apa yang dikatakan DS soal dia dengar suara perempuan itu berarti kamu sama Elok."
Namun, ICH menatap SY dengan wajah kaget. Tidak hanya itu, Elok juga terperangah tidak percaya. Kemudian menatap ICH dengan sengit seolah SY salah bicara.
"Maksudnya, SY? ICH, jangan bilang!"
"Sudah-sudah, ayo kembali ke penginapan. Nanti kalau udah di sana baru tak ceritakan semuanya, tapi tolong jangan bilang siapa-siapa ya SY."
Mereka bertiga pun pergi.
Wajah ICH tegang, seakan-akan ia dikejar oleh sesuatu. Hingga akhirnya ia pun keluar dari tempat itu. Langit sudah gelap gulita, dan SY merasa ada sesuatu yang sedang mengikuti mereka bertiga.
Setelah sampai di rumah penginapan mereka, SY meminta ICH dan Elok berkumpul di belakang rumah. DS lagi baca koran sambil ngopi di teras depan rumah. Sedangkan MN dan Altaf pergi dari tadi siang dan belum kembali, entah mereka ada di mana sekarang. Mereka tidak tau masalah ini, karena SY merasa bahwa masalah ini tidak patut untuk diketahui semua orang.
"Sekarang ceritakan, kok bisa-bisanya teman SMA sendiri dibuat kelinci percobaan seperti ini?" kata SY. Elok masih diam. Ia memikirkan ucapan SY tadi, ICH mulai berbicara.
"Aku khilaf SY." ucap ICH, seakan apa yang diucapkan dari mulutnya terdengar sepele.
"Nggak bisa kayak gitu, masalah ini akan tak buat ramai sama orang tuamu. Seorang lelaki itu harus berani bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya."
Elok yang sedari tadi diam kemudian bicara, "sudah-sudah, SY, jangan dibuat ramai dulu. Nanti gimana reaksinya anak-anak, Pak Tarmo, atau warga desa."
"Aku akan tanggung jawab kok SY. Nanti kalau sudah lulus, Elok akan kunikahi." ucap ICH.
"Bodoh, tolol!! Kalian berdua ngirainnya masalah ini sepele. Apa kalian berdua nggak mikir aku, Altaf, anak-anak yang lain, nama baik keluargamu, nama baik sekolahmu, agamamu. Kalau ngomong nikah-nikah doang itu sih enak ya. Tapi kalian berdua lupa dengan yang namanya karma. Terus kalau pun nanti kalian berdua nikah, kalian sudah punya uang ta buat biaya ini itu. Kalian kira rumah tangga itu biayanya sedikit apa? Terus memangnya mental kalian berdua siap ta menghadapi problematika rumah tangga. Elok, ICH, pernikahan itu nggak segampang yang kalian pikirkan."
Elok yang mendengar itu langsung sesenggukan. SY tau, ia menangis. Namun ICH seperti menyembunyikan sesuatu. Ada yang belum ia jelaskan sama sekali.
DS tiba-tiba muncul sambil mengatakan. "Itu loh, kedua temanmu sudah datang, entah mereka dari mana aja, kok baru malam gini nyampenya."
"MN sama Altaf ta, DS?"
DS mengangguk. "Iya."
SY melihat Altaf, wajahnya tampak seperti letih. Seperti baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Semua orang sudah menunggu kedatangan dua anak ini, karena mereka berdua berjanji akan membelikan keperluan titipan teman-temannya. Namun, dari belakang, MN tampak bersemangat seakan ia membawa sesuatu.
Entah karena suasana hati semua orang di ruangan itu buruk, ICH mencoba mencairkan suasana. "Loh, kok canggung gini sih." ICH mendekati Altaf.
"Kamu pasti capek, istirahat o dulu, Taf." kata ICH seraya menggandeng Altaf masuk ke dalam rumah.
Namun, SY dan Elok memandang sengit perlakuan ICH. Sehingga Altaf merasa ada yang salah dengan mereka semua.
Namun, MN yang sedari tadi membawa isi tasnya, tanpa babibu ia langsung cerita pengalamannya dibantu warga desa tetangga karena ban motornya bocor. Namun anehnya, semua orang memandang MN dengan wajah sinis.
ICH yang paling pertama menanggapi ucapan MN.
"Desa tetangga apaan? Orang nggak ada desa lain selain desa yang kita tempati kok di sini. Paling itu hanya halusinasi mu belaka MN." kata ICH mengingatkan.
"Halah, bohong kamu, tau dari mana kamu?" sanggah MN.
"Aku sudah sering ke kota, bantu warga sini jual hasil alam. Jadi ya sedikit banyak aku tau daerah sini."
"Halah, bohong kamu. Dasar sial."
SY yang sedari tadi mendengar, membela ICH.
"ICH benar MN, nggak ada desa lain di sini bahkan sebelum ke sini aku sudah observasi tempat ini sama Elok. Jadi kamu ngaco lah kalau ada desa lain di sini."
MN tidak terima mendengar itu. Ia pun memanggil Altaf.
"Taf, tunjukkan ke mereka semua, yang bungkusan yang tadi dikasih warga didalam tasmu."
Dengan ragu, Altaf membuka tasnya, mengeluarkan bungkusan itu. Lalu menggenggamnya. MN yang sudah tak sabar merebut bungkusan itu. Namun alangkah terkejutnya MN ketika melihat bungkusan itu yang awalnya berupa koran, kini berubah menjadi daun pisang.
Altaf yang melihat benda itu sama kagetnya dengan MN. SY dan semua orang yang menyaksikannya tampak tercengang. Benda seperti apa yang dibungkus dengan daun pisang itu.
SY sempat menyaksikan Altaf dan MN berpandang- pandangan, seolah ada yang salah.
Saat MN membukanya, dirinya kaget bukan kepalang karena ternyata isi bungkusan itu adalah kepala monyet terpenggal dengan darah yang masih segar. Seketika reaksi semua orang langsung memalingkan wajahnya, termasuk SY yang langsung mencari kain untuk menutupi nya. Baunya sangat amis seamis-amis nya, dan membuat seisi ruangan mual.
MN tampak syok, apalagi Altaf. Elok segera membopong nya masuk ke dalam kamar. Sementara DS dan ICH segera membereskan semua itu.
MN, ia muntah sejadi-jadinya. Semalaman, semua orang termenung dengan peristiwa peristiwa ganjil. Termasuk SY, di mana Altaf mencuri pandang.
Malam setelah Altaf dan Elok melepas penat, SY tiba-tiba teringat ucapan ICH dan Elok yang tanpa sengaja ia curi dengar.
Dengan cekatan dan mengambil resiko, SY mengambil isi tas Elok, membawanya ke dapur sendirian. Ia merasa, benda itu ada di situ.
SY membongkar semua benda benda itu, namun tidak ada yang aneh, toh dia sudah mengeluarkan semua isi tasnya. Sebelum SY sadar, masih ada satu bagian resleting tas itu yang belum ia buka. Tepat ketika SY membukanya, tercium aroma wewangian dari situ.
Sebuah selendang merah milik penari.
Tiba-tiba, tangan SY seperti bergetar hebat. Napasnya terasa sangat berat. Tempat ia berada seakan-akan menjadi sangat dingin.
Dan, tabuhan kendang, diikuti alunan gamelan berkumandang. SY tau, si penari ada disini.
Apa yang sebenarnya dilakukan Elok? Dan, sebenarnya apa yang ICH sembunyikan?
Tepat saat itu juga, SY melihat Altaf dengan mata kepalanya sendiri, ia masuk ke dapur, matanya tajam menatap SY. SY kaget setengah mati, kemudian bertanya.
"Kenapa, Taf. Ngapain kamu disini?"
"Jangan diteruskan." ucap Altaf.
Altaf duduk di depan SY. Cara bicaranya sangat berbeda, dari suaranya, sampai logat bicaranya, sangat berbeda dengan Altaf yang sebenarnya. Bicaranya lembut sekali, dengan bahasa Jawa krama yang halus sekali, sampai-sampai membuat SY tidak mengerti maksudnya. Ia hanya menangkap kata "salah", "nyawa", "tumbal" itu pun tak terlalu jelas.
Selain itu, setiap dia melihat SY, dia selalu memberikan ekspresi sungkan, layaknya anak muda yang memberi hormat pada orang yang lebih tua.
Kalimat terakhir yang Altaf ucapkan sebelum ia kembali ke kamar adalah. "Kamu akan pulang dengan selamat, saya yang jamin." tapi dengan logat jawa.
SY membereskan semua itu saat itu juga, mengembalikannya ke tas Elok. Menaruh tas Elok di tempatnya semula. Sampai dirinya melihat Altaf yang tengah tidur, tapi ia enggan membangunkan Altaf, besok, SY harus bertemu dengan ICH. SY yang paling sadar, tempat ini yang telah menolak mereka semua.
Sejak insiden itu, Elok sedikit menghindari SY. Apalagi ICH. Meski begitu, tidak ada yang nampak kalau mereka sedang memiliki urusan. Altaf, MN, dan DS pun dibuat tidak sadar bahwa ada permasalahan internal di grup penelitian mereka. SY bingung, tidak ada yang bisa diajak berbagi, kecuali simbah. Tapi ia tak tau dimana rumah lelaki tua itu di desa ini. Ia bahkan sudah mengelilingi desa, tapi tak ditemui lelaki tua itu. SY pun memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini sendirian. Ia memutuskan bahwa besok dirinya harus menemui ICH lagi. Besok harinya, sore hari, saat ICH nganggur, SY mengajaknya ke tepi sungai.
"Ceritakan apa yang nggak bisa kamu ceritakan di depan Elok."
ICH berpikir apakah dia harus menceritakan yang dia belum ceritakan ke SY. ICH pun menyerah dan akhirnya mengatakan, "aku khilaf SY."
"Anak ini, tetap aja, benar-benar anu ya kamu."
"Bukan, bukan itu. Aku memang khilaf, sudah melakukan itu sama Elok. Tapi aku lebih khilaf, Sudah nyoba-nyoba melet Altaf."
"Maksudnya?" tanya SY.
"Di tempat yang kemarin malam kamu datangi itu, ada seorang perempuan cantik, namanya Helena."
"Jin?" tanya SY.
"Enggak, manusia kok."
"Mana ada, itu tuh jin."
Terjadi perdebatan sengit antara SY dan ICH. ICH bersikukuh bahwa yang ia temui adalah seorang perempuan cantik, warga desa sini. Tapi SY menyanggahnya, bahwa tidak ada seorangpun yang tinggal di sana. Lagipula tempat itu dilarang sejak awal. ICH terus menyangkal, hingga tanpa sengaja, ICH menampar SY sampai SY terseok di tepi sungai. SY melempari ICH dengan batu, seolah anak itu otaknya sudah rusak. Sampai akhirnya ICH mengatakan.
"Perempuan cantik itu sudah ngasih aku semacam mahkota warna emas, terus ditengahnya ada batu rubi nya warna merah delima. Perempuan itu bilang kalau mahkota itu buat jimat supaya aku dan Altaf dipersatukan."
SY yang mendengar itu langsung tersulut emosi.
"Bodoh, tolol ya kamu!! Baru lulus 2 tahun yang lalu dari boarding school, otakmu sudah rusak. Gitu itu syirik ICH, menyekutukan Allah."
"Terus, dimana barang itu sekarang?" tanya SY.
"Dibawa Elok, kalau katanya dia sih barang itu sudah hilang." jawab ICH.
"Aku nggak peduli, ICH. Pokoknya gimana caranya, kembalikan barang terlarang itu, ICH. Kamu nggak ngerti, perbuatanmu itu bisa mendatangkan malapetaka."
SY pun pergi. Kini ia tau harus menemui siapa, Elok.
SY baru bertemu dengan Elok setelah dia keluar dari rumah Pak Tarmo. SY tidak mengerti apa yang baru saja dia lakukan.
"Ngapain kamu?" tanya SY.
Elok seperti menahan malu. Setiap kali melihat SY, mata Elok terlihat meratapi sesuatu yang telah dia perbuat dan itu fatal.
"Gak papa SY. Tak percepat urusannya, biar semua anak-anak fokus mengerjakan penelitiannya, kita juga harus kembali ke penginapan. Intinya, fokus penelitian dulu."
"Aku mau tanya, Lok. Soal..." SY tidak melanjutkan kalimatnya karena melihat DS. Terlihat jelas kalau DS mukanya panik.
"SY, warga yang membantu penelitian/proker kita semuanya kesurupan. Rusak semua program kita."
Elok, SY, dan DS pergi ke lokasi. Waktu itu ramai, dan ketika SY tiba, seorang pria yang dipegangi warga, tiba-tiba melotot melihat SY. Ia menunjuk SY seakan-akan SY adalah biang masalah di desa ini. Ia menyentak dengan suara berat, "tamu sudah dihormati malah seenaknya, kesini kamu!"
SY kaget. Ia dilindungi oleh warga lain. Tidak hanya pria itu, ada satu pria lagi, yang ditahan juga oleh warga yang lain. Tapi pria itu melotot pada pria pertama. Ia seakan marah pada orang itu, dan berkata. "Aku sudah janji sama seseorang untuk jaga anak ini, kamu jangan buat masalah sama anak ini."
Warga yang resah akhirnya membawa SY ke rumah mereka. Berikut dengan Elok dan DS. Diikuti yang lain, kecuali Altaf.
Saat MN dikonfirmasi dimana Altaf, ia mengatakan kalau Altaf dan warga yang lain sedang melanjutkan penelitian/prokernya Altaf. Tidak ada yang tau mereka ada di salah satu rumah warga.
Namun, ketika langit sudah petang, SY menghilang dari kamarnya. Warga yang tau, panik, terakhir kali, SY pingsan.
SY terbangun dalam keadaan menggunakan mukena dan ada Altaf disampingnya. Namun, wajah Altaf tampak tegang, Altaf tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya baru saja mengalami kejadian janggal.
"Sejak kapan kamu bisa ngeliat begituan SY?" tanya Altaf.
SY yng kaget mendengar itu, heran darimana Altaf tau dan kemudian bertanya saat itu. Mereka berdua dalam suasana canggung, SY berpikir, mungkin kunci dari semua ini adalah Altaf.
Sejak awal, Altaf yang paling aneh di tempat ini.
"Aku sudah peka sama hal-hal gini sejak tinggal di asrama. Gaib itu nyata, Taf. Sebenarnya penjelasannya agak susah dimengerti, Taf." jawab SY.
"Kamu ada yang jaga ya, SY?" tanya Altaf lagi. SY kaget plus bingung, bingung harus menjelaskannya bagaimana. Ia harus mengingat-ingat kembali, bahwa sebelum keluar dari asrama, teman-teman SY kerap kali melihat SY bangun tengah malam dan melafalkan doa yang bahkan sangat sulit dihafalkan anak-anak asrama pada umumnya. Teman-teman SY bahkan sempat memanggil guru mereka agar SY di ruqyah. Namun, guru SY menolak. Beralasan bahwa, selama tidak mengganggu keimanan SY, dibiarkan saja, daripada menjadi bumerang untuk SY. Bahkan, guru SY sering bilang, ia harus tetap mengimankan kepercayaannya. Tidak peduli model jin apa yang mengikutinya selama ini. Sang guru memanggilnya dengan nama "Mbah Angel (malaikat penjaga)" karena wujudnya berupa wanita tua.
"Katanya." jawab SY pelan, seolah ia tak mau menjawab pertanyaan Altaf.
"Kok katanya, sih SY?" tanya Altaf bingung.
"Iya, soalnya aku belum pernah ngeliat wujudnya secara langsung. Tapi, sebelum keluar dari asrama dulu, temanku pernah bilang sama aku kalau aku dijagain sama sosok nenek nenek, wujudnya menyerupai nenekku." terang SY.
Tanpa SY sadari, itu adalah kali pertama mereka berdua saling bicara setelah selama ini saling menjauh satu sama lain. SY menceritakan semuanya, pengalaman dia selama tinggal di asrama hingga ia keluar darisana, kecuali hal-hal ganjil yang SY alami. Ia masih merahasiakannya.
Karena SY percaya, Altaf punya apa yang selama ini ia cari, meski hanya asumsi, namun ia yakin, Altaf memilikinya.
Hingga, kesempatan itu muncul, SY melihat kamar sepi, tidak ada orang. Altaf dan Elok sedang mengerjakan penelitian/proker mereka. SY membuka lemari, mengeluarkan isi tas Altaf, membongkar semuanya, sampai celah-celah terkecil yang ada di tas Altaf, semua barang yang ada di tas Altaf Tak ada satupun yang luput dari pencariannya. Sampai SY pun menemukannya.
Sebuah logam melingkar, dengan bentuk ukiran dari kemuning, bentuknya indah layaknya perhiasan, di tengahnya ada batu mulia berwarna merah. SY bergumam sendirian. "Golden Crown" itu bagaimana bisa ada pada Altaf.
Melihat itu, kesabaran SY sudah hilang, dibongkarnya tas Elok, diambilnya selendang merah itu. Lalu, disimpannya dua benda itu di sebuah kotak yang biasanya dipakai untuk menyimpan bumbu masakan, tapi kotak itu kosong, akhirnya dua benda itu disimpan didalam kotak itu. Dimasukkan al-quran ke dalam kotak itu, lalu ditutup kain putih. Dan SY sembunyikan di bawah meja kamar, tertutupi oleh taplak meja. Lalu, SY pergi mencari Elok.
Setelah sampai di tempat penelitian/proker Elok, SY membawa Elok ke tempat yang jauh, lalu menamparnya. Sampai Elok tidak dapat berbicara apa-apa.
"Gak punya otak ya kamu, Lok. Barang kayak gitu kamu taruh di tas Altaf. Orang gila, mau kamu umpankan Altaf ya, nggak cukup apa sama masalahmu sendiri? Jelaskan kok kamu tega gituin teman kamu, sekarang jelaskan ke aku kamu dapat dari mana barang-barang terlarang itu."
"Barang apa sih SY?" tanya Elok.
"Selendang merah itu."
Elok yang mendengar itu langsung kaget.
"SY, kamu kok tau. Kamu kelewatan, bongkar barang pribadinya orang."
"Sekarang, ikut aku ke Pak Tarmo." kata SY sambil menyeret Elok kuat-kuat. Tapi Elok berhasil melepaskan diri. Lalu mengatakannya. "Aku disuruh naruh benda itu, sebagai pengganti selendang itu, selendang yang membuat ICH suka sama aku."
"Lah iya, jelaskan sama aku siapa yang ngasih benda itu ke kamu."
Tapi Elok enggan menjelaskan. Meskipun didesak SY, Elok tetap bungkam. Bahkan sampai SY mengatakan, apa perempuan yang ICH temui yang menyuruhnya, ekspresi Elok tampak kaget mendengarnya.
Elok mengatakan bahwa ia tidak tau- menau siapa sebenarnya perempuan itu. Dan siapa yang memberinya juga tidak ada hubungannya sama perempuan itu. Bahkan, Elok tidak pernah sekalipun ketemu perempuan yang dikatakan ICH sangat cantik itu.
SY menyerah. Namun, firasat burukmya semakin terasa.
Ada hal ganjil dikemudian hari yang SY sadari, orang atau makhluk yang memberi SY selendang ini. Siapa? Tentu dirahasiakan. Karena, SY sendiri hanya berasumsi, namun tidak berani mengatakan.
Puncaknya, setelah malam yang panjang itu, disini, petaka yang ditakutkan oleh SY, terjawab.
SY terbangun ketika subuh. Ia tersentak melihat Altaf menangis. Tangisannya sangat keras sampai SY terkesiap lalu terbangun dari tidurnya.
Saat ia melihat apa yang membuatnya terbangun, SY melihat Elok tiba-tiba terbujur kaku dan matanya melotot. Mulutnya menganga seperti mau mengatakan sesuatu.
Tak berhenti sampai di situ, SY tidak melihat Altaf di tempatnya. Sehingga membuat DS dan MN merangsek masuk dengan wajah khawatir.
"Ada apa, SY?" tanya DS dan MN.
"Altaf hilang, DS, MN." jawab SY dengan wajah sangat panik.
DS dan MN terhenyak sesaat- sebelum...
"ICH ya juga tiba-tiba nggak ada di kamar." kata DS dengan terburu-buru.
Sontak, semua mata memandang Elok. MN terhentak bingung.
"Elok kena apa, SY?" tanya MN bingung.
"Panggilkan Pak Tarmo!!" perintah SY.
DS yang mendengarnya langsung pergi.
"Lok, bangun, Lok." ucap SY sembari menggoyang-goyangkan badan Elok. Elok matanya melotot kearah langit-langit, dan mulutnya menganga. SY menahan mulut Elok agar tertutup. Namun ia terus menganga. MN yang melihat tak bisa berbuat apa-apa.
"Anjir, ada apa sih ini."
"Panggilkan warga, jangan lihat aja."
MN pun ikut pergi. SY terus menahan mulut Elok. Hingga kemudian Pak Tarmo pun datang bersama DS, dan melihatnya.
"Kok bisa seperti ini sih, nak?"
Pak Tarmo pergi ke dapur, ia kembali dengan membawa teko air. SY menahan kepala Elok, kemudian meminumkannya.
Tiba-tiba, mulut Elok tertutup. Namun, ia masih belum bereaksi, ia masih terbujur kaku dengan mata melotot seperti tadi. Tak berapa lama, warga pun berdatangan bersama MN. Saat itu, rumah dipenuhi warga. Tanpa banyak bicara, Pak Tarmo menyuruh beberapa orang untuk memanggil simbah.
Dan warga itu pun pergi.
SY menjelaskan bagaimana kronologi kejadian itu. Namun, SY meminta Pak Tarmo agar tidak menceritakannya pada warga. DS dan MN yang mendengarnya waktu itu seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Anj**g, kok bisa loh." kata MN dengan ekspresi marah.
Pak Tarmo pun mengumpulkan warga, meminta semua warga untuk menyisir seluruh penjuru desa. Ia beralasan bahwa Altaf dan ICH hilang kemarin malam, dan saat ini belum kembali.
Meski warga bingung, bagaimana bisa, tapi mereka semua langsung bergerak, termasuk MN.
DS pun begitu, ia ikut menyisir hulu sampai hilir sungai. Sebisa mungkin dengan beberapa warga yang membawa parang dan terpakai barang yang tidak pernah ia pahami.
SY terus menangis melihat kondisi Elok. Membuat ia tak bisa menahan kesedihan yang memenuhi hatinya.
Pak Tarmo meminta penjelasan lebih detail, setelah itu, SY menunjukkan barangnya pada Pak Tarmo. Barang yang seharusnya ia berikan kepada Pak Tarmo sewaktu ia mendapatkannya.
Tepat ketika membuka kotak itu, Pak Tarmo kaget bukan kepalang, sampai ia tiba-tiba berteriak marah.
"DAPAT DARI MANA BENDA INI?"
SY yang kaget, kemudian menceritakan sisanya disana. Pak Tarmo terlihat frustasi, kemudian dia mengatakan sesuatu kepada SY.
"Kalau temanmu sampai nggak ketemu, ikhlaskan aja. Biar saya yang menghadapi masalah ini."
SY lalu bertanya benda itu apaan. Pak Tarmo tidak bisa berbicara banyak, ia harus menunggu simbah yang akan menjelaskan semuanya.
Berjam-jam sudah dilewati, namun belum ada satupun warga yang kembali. Sampai terdengar suara motor mendekat, manakala SY dan Pak Tarmo berdiri untuk melihat siapa yang datang.
Simbah mendekat dengan tergopoh-gopoh, seakan mencari sesuatu.
Simbah bertanya, mahkota emas itu siapa yang punya. SY menghampiri, menjelaskan semuanya. Wajah tenang simbah tidak terlihat sama sekali.
Kemudian ia menatap Elok. Helaan napas berat simbah keluarkan. Simbah meminta Pak Tarmo membuatkan kopi hitam.
Simbah duduk sembari berpikir, banyak pertanyaan yang ia ajukan, mulai, sejak kapan benda seperti ini ada disini. Lalu bagaimana bisa selendang itu dimiliki Elok. Semuanya SY ceritakan.
Saat menyesap kopi itu, simbah berkata. "Temanmu terjebak dalam pusaran dimensi astral."
"Terus gimana mbah?"
"Satu temanmu raganya sudah ketemu, tapi rohnya belum. Sabar dulu ya."
Tak berapa lama kemudian, kerumunan warga mendekat. MN masuk dengan wajah pucat. Dua orang warga tengah menggotong seseorang.
Ketika SY melihatnya, ia tak bisa menghentikan jeritannya manakala melihat ICH kejang-kejang layaknya orang yang terkena epilepsi.
MN segera memeluknya, menutupi SY agar tidak melihat ICH yang kejang-kejang.
Simbah kemudian mengatakan bahwa roh dua orang ini (Elok dan ICH) sedang terjebak. Tapi ada satu orang yang bukan hanya rohnya saja yang hilang/disesatkan, tapi raganya juga. Orang itu adalah Altaf, orang yang paling diinginkan oleh Red Lady (nama aslinya Batricks, tapi orang sini mengenalnya red lady karena sosok itu berwarna merah) namun ia meleset.
Simbah menunjukkan mahkota emas itu, yang harusnya memiliki pasangan, benda itu diletakkan di bahu penari sebagai susuk. Entah ada kejadian apa, Red Lady menginginkan benda ini ada pada Altaf. Tapi SY yang menemukannya dan mengambilnya.
Membuat benda tersebut kehilangan pemilik. Yang artinya, SY yang memiliki SY tapi dilindungi. Itulah alasan kenapa SY sering merasa badannya berat di jam-jam tertentu. Mbah Angel yang menjaganya sudah berkelahi dengan hampir setengah dari penghuni hutan ini.
Setelah itu, Pak Tarmo meminta agar Elok dan ICH ditutupi selendang dan diikat tali putih. Membiarkannya seolah-olah mereka berdua sudah tidak bernyawa.
Simbah pergi kekamar, ia akan menjelma menjadi anjing hitam untuk mencari Altaf dengan ilmu kebatinannya.
Pak Tarmo kemudian mengatakan kalau memang ada rahasia yang dia simpan dan mengapa sejak awal dia melarang keenam anak ini penelitian di desa ini.
Tepat di samping lereng, ada Palace Ghost Red Lady. Tempat itu dulu dipakai warga untuk mengadakan pertunjukan tari. Bukan untuk manusia, melainkan untuk makhluk halus penghuni hutan.
Ia kemudian mengatakan bahwa warga desa mengadakan tarian untuk menolak bencana bagi desa mereka. Tapi seiring berjalannya waktu, rupanya, setiap penari di desa ini akan ditumbalkan. Tapi masalahnya, setiap penari yang akan ditumbalkan syaratnya haruslah perempuan yang masih muda dan masih perawan.
"Tapi Elok pak?" tanya SY.
"Itulah masalahnya, asumsi saya, sejak awal Elok sebagai perantara ke Altaf lewat ICH. Tapi Elok nggak memenuhi tugasnya. Akhirnya, Elok diberi jalan pintas, ia dikasih selendang merah itu. Tau selendang merah itu dari mana? Selendang para penari."
Pak Tarmo kemudian duduk, matanya merah padam. "Seharusnya, saya menolak habis-habisan bila bukan karena dia adik teman saya. Selendang merah itu adalah selendang yang keramat, tidak ada seorang lelaki pun yang tidak menolak kalau ada perempuan yang pakai selendang merah itu. Elok dan ICH nggak salah, saya yang salah. Seharusnya saya tolak kalian semua, toh anak-anak kami pun tidak ada yang tinggal di sini. Tempat ini tidak cocok untuk ditinggali orang yang masih setengah matang seperti kalian."
Mendengar itu, membuat SY tidak kuasa melihat Elok.
Waktu terus berjalan sampai subuh. Saat hari sudah subuh, seorang warga meneriakkan: "Altaf sudah ketemu."
Simbah pun keluar, ia kecewa tidak bisa membawa Elok dan ICH pulang. Lebih tepatnya belum.
Momen ketika SY melihat Altaf, SY tak dapat bicara apa-apa. Ia berjalan dengan gagu, seperti baru saja menghadapi peristiwa yang sangat berat. Bahkan Altaf berjalan dengan tatapan mata kosong, ia melihat Elok terus-menerus, seperti mencoba memahami situasi.
"Taf, dari mana kamu?" tanya SY.
"Ada apa ini SY?" tanya Altaf dengan mata sembab melihat ICH dan Elok terbujur kaku.
"Elok, Taf. Elok sama I..." SY tidak melanjutkan kalimatnya karena ia sedih dan tak sanggup menceritakannya ke Altaf. MN berdiri kemudian menceritakan semuanya, Altaf menjerit sejadi-jadinya, semuanya diam. Sampai kemudian Altaf pun ditenangkan salah seorang warga.
Selang beberapa saat, simbah keluar memanggil Altaf dan menyuruhnya masuk, lalu mengajak bicara Altaf. Entah apa yang mereka bicarakan.
SY masih terus berusaha untuk membangunkan Elok, meski usahanya mustahil dilakukan.
Saat simbah keluar, SY, DS, dan MN yang baru tiba, langsung masuk ke dapur dan melihat Altaf duduk sambil termenung, entah apa yang dipikirkannya.
MN yang sedari tadi sudah menahan diri, kemudian mengatakan bahwa ICH dan Elok sudah kelewatan sehingga mereka harus menerima akibat dari apa yang telah mereka perbuat.
Malam itu juga, Pak Tarmo mengumpulkan semua anak yang tersisa. Ia mengatakan bahwa ia sudah menghubungi Bu Ulya dan juga kakaknya Elok. Katanya, mereka sedang dalam perjalanan dan besok pagi sampai nya.
Simbah menjaga rumah itu. Konon, seluruh makhluk halus tengah mengepung rumah itu.
Keesokan paginya, SY menemui Pak Tarmo, mengatakan bahwa seharusnya Pak Tarmo menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi ini terlebih dahulu. Karena sebelumnya, simbah bilang, bahwa beliau bisa mengembalikan ICH dan Elok, hanya tinggal menunggu waktu. Tapi ucapan Pak Tarmo membuat SY tak berkutik.
"Kalau memang bisa, ya nggak akan ada yang jadi korban. Kamu tau, batu nisan yang ditutupi kain hitam itu apa? Itu semua korban sebelum kejadian ini, ke mana sekarang, sudah nggak ada."
"Memang nggak menutup kemungkinan temanmu bisa kembali, tapi kemungkinannya kecil. Nggak usah berharap, simbah sebenarnya sudah bosan berurusan dengan makhluk-makhluk itu."
Siang harinya, Bu Ulya, Bu Ifa, Gus Shofi, orang tua dan kakaknya Elok, serta orang tua dari ICH tiba di lokasi. Terdengar suara membentak kakaknya Elok dari luar. Ada tawar-menawar dimana simbah menawarkan Elok dan ICH untuk tetap tinggal di desa ini, roh mereka berdua bisa kembali kalau petaka nya sudah diangkat. Tapi pihak keluarga Elok dan ICH serta Bu Ulya, Bu Ifa, dan Gus Shofi, menolaknya. Dan mereka semua mengancam akan menyebarluaskan cerita ini ke publik.
Akhir dari perjalanan penelitian mereka berhenti sampai disini, bukan hanya Pak Tarmo yang terseret, bahkan Bu Ulya, Bu Ifa, dan Gus Shofi efeknya juga lebih besar lagi, sampai harus menjanjikan bahwa masih ada jalan lain untuk mengembalikan mereka berdua.
Penelitian mereka resmi dicoret, tak ada hasil apapun selama mereka di tempat ini.
Altaf, butuh waktu lama untuk pulih, setidaknya itu yang SY dengar. Sementara, SY menjelaskan kronologi kejadian kepada papa dan mamanya ICH. Yang tidak henti-hentinya mengadakan doa bersama di rumahnya. Pukulan keras bagi SY setiap kali melihat mamanya ICH meneteskan air mata.
Ada kejadian menarik sebelum ICH menghembuskan napas terakhirnya. Mamanya ICH cerita sama SY, di malam sebelum ICH menghembuskan napas terakhirnya, ia mendatangi kamar orang tuanya dan meminta maaf sembari mengatakan bahwa dirinya pamit pulang. Lalu ia pun kembali ke kamar sambil berteriak. "ular... ular... ular" dan kata-kata itulah yang terakhir terucap dari mulut ICH. Dan besok malamnya, ICH pun berpulang ke rahmatullah.
Namun, papanya ICH memberitau SY, bahwa apa yang diceritakan mamanya ICH tidak usah dipikirkan. Karena beliau menceritakan mimpinya, dan anaknya, ICH masih kejang-kejang. Semua itu mimpi mamanya ICH, mungkin itu cara ICH pamit dan memberitau. ICH dikebumikan di pemakaman dekat rumah Elok, dan nantinya saat Elok berpulang, ia akan dimakamkan bersebelahan dengan makam ICH.
Part 2:
Ini cerita saat SY mendampingi Elok selama pengobatan. Ia di ajak ke P***, yang katanya ada orang pintar yang bisa membantu menyembuhkan Elok.
Kakaknya Elok menghubungi SY, memintanya untuk menemani Elok selama pengobatan di orang pintar itu. Dokter sudah angkat tangan, Elok di diagnosis lumpuh total, tapi tidak diketahui apa penyebabnya. Ia diberitau temannya, bahwa SY adalah orang yang tau semua.
Malam itu, Elok diberangkatkan ke kota P***, selama dalam perjalanan, mata Elok ditutup paksa dengan kain. Melihatnya, rasanya SY tidak tega, kadang membuat SY merasa kalau Elok sadar ada SY di sampingnya.
Tapi tetap saja nihil, sampailah mereka di rumah orang itu, orang yang menawarkan bantuan.
Sesampainya di sana, Elok ditidurkan di atas pelepah pisang, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah keranda. SY yang melihat itu mengatakan pada kakaknya Elok bahwa itu perbuatan tidak benar. Tapi kakaknya Elok bersikeras mengatakan, mungkin masih bisa diatasi, kakaknya Elok terlihat sangat frustasi.
Butuh waktu lama, sampai tiba-tiba orang pintar yang membantu Elok terbangun dan mengatakan ia tidak sanggup, kata orang pintar itu, Elok tidak dapat diselamatkan kecuali Elok dibawa ke luar pulau Jawa. Namun, hal itu juga mustahil dilakukan.
"Elok belum waktunya berpulang ke rahmatullah, jadi keadaannya akan seperti ini sampai ia berpulang ke rahmatullah."
"Elok dibawa aja ke pulau K********N, saya ada saudara di sana." ucap kakaknya Elok.
"Masalahnya, Elok nggak boleh dekat-dekat sama laut. Kalau dekat laut Elok bisa dimatikan."
"Kan bisa naik pesawat." kata mas (...)
"Memangnya pesawat nggak melewati lautan apa." kata orang pintar itu.
Setelah dibawa ke sana, dan orang pintarnya tidak sanggup, Elok pun dipulangkan. Ia ada di rumah itu kurang lebih 3 bulan, sampai akhirnya berpulang ke rahmatullah juga, setelah orang tua Elok mengatakan sudah ikhlas, termasuk mas (...) .
Keikhlasan orang tua Elok termasuk mencabut gugatan terhadap Bu Ulya, dan juga sudah tidak mau menyalahkan siapapun, Elok di kebumikan di pemakaman dekat rumah Elok, dimakamkan di sebelah makam ICH, sembari di doakan, di situ, mamanya Elok mengaku, sering melihat Elok meneteskan air mata, dan inilah akhir cerita nona SY.Pesan moral dari cerita ini adalah, agar siapapun kita, tetap menjaga tata krama. Ini bukan tentang, hal yang sepele, siapapun kamu, dimanapun kamu berada, sekali lagi, jaga sikap dan perilaku karena sesungguhnya sebagai tamu, selayaknya tetap bersiteguh pada warisan pendahulu kita yang mengutamakan sopan santun terhadap tuan rumah.
The end.