Langsung ke konten utama

CATATAN 2

⚘Landasan Psikologis Proses Pendidikan


Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan para peserta didik, yang berlangsung dalam suatu situasi pendidikan Sesungguhnya situasi pendidikan itu tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di luar sekolah, yaitu di rumah, di lingkungan kerja dan di masyarakat, sebab pada lingkungan-lingkungan tersebut juga terjadi interaksi pendidikan. Selain guru dan orang tua, para pimpinan, pejabat dan tokoh-tokoh dalam masyarakat juga berperan sebagai pendidik. Demikian juga peserta didiknya, bukan hanya anak tetapi juga para generasi muda, anak buah, bawahan dan rakyat pada umumnya. Sekolah merupakan ling kungan pendidikan utama, karena di sekolah berlangsung interaks pendidikan yang paling formal.


Para pendidik, terutama guru, dosen, widyaiswara, instruktur pelatih, penatar dll. sebagai individu membutuhkan pengetahuan tentang psikologi, tetapi sebagai pendidik mereka membutuhkan pengetahuan tentang psikologi dalam interaksi pendidikan Interaksi pendidikan merupakan suatu interaksi yang sangat kom pleks dan unik, berintikan interaksi antar individu, tetapi berlang sung dalam konteks yang bersifat pedagogis. Banyak segi, aspek unsur dan hubungan yang membutuhkan pemahaman secara psiko- logis, juga banyak perlakuan, tindakan, layanan yang memerlukan dasar-dasar atau prinsip-prinsip psikologis, dan banyak masalah yang perlu dianalisis dan diatasi dengan pendekatan-pendekatan psikologis. Studi atau ilmu yang mempelajari penerapan dasar dan prinsip-prinsip, metode, teknik dan pendekatan psikologis, untuk memahami dan memecahkan masalah-masalah dalam pendidikan ini disebut "Landasan Psikologis dalam Proses Pendidikan" atau secara singkat "Landasan Psikologis Proses Pendidikan", yang secara umum atau lebih populer disebut Psikologi Pendidikan. Beberapa ahli tidak menyetujui rumusan Landasan Psikologis Proses Pendidikan atau Psikologi Pendidikan sebagai ilmu terapan, sebab ilmu ini merupakan ilmu yang berdiri sendiri, sebagai suatu ilmu yang mempelajari situasi pendidikan. Terlepas dari konsep sebagai ilmu terapan atau ilmu yang berdiri sendiri tetapi yang lebih penting adalah isi dari kajiannya itu sendiri. 

Situasi pendidikan yang menjadi fokus utama pengkajian Landasan Psikologis Proses Pendidikan, berintikan interaksi antara pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), untuk meningkatkan kemampuan para peserta didik, dengan dukungan sarana dan fasilitas tertentu yang berlangsung dalam suatu lingkungan tertentu. Interaksi ini seperti halnya interaksi-interaksi manu dalam kegiatan lainnya, selalu dipengaruhi oleh kondisi dan latar belakang dari pihak-pihak yang berinteraksi, dalam hal ini kondisi dan latar belakang guru dan siswa. 


Walaupun yang akan menjadi kajian utama dalam buku ini adalah interaksi pendidikan, yaitu bagaimana guru mengajar dan siswa belajar, tetapi aspek-aspek pendukung lainnya seperti faktor- faktor yang melatarbelakangi kegiatan siswa dan guru, serta faktor- faktor lingkungan juga akan diuraikan secukupnya. Dengan uraian tersebut diharapkan dapat membantu para pendidik, baik pendidik formal (guru), maupun pendidik informal (orang tua, para pe- mimpin, pejabat dan tokoh masyarakat) dalam memahami dan memilih tindakan dan perlakuan pendidikan yang lebih tepat,


5. Tujuan Mempelajari Landasan Psikologis Proses Pendidikan


Telah dijelaskan di muka bahwa inti dari situasi pendidikan adalah interaksi antara guru dengan siswa. Guru adalah seorang dewasa yang telah mempersiapkan diri dan menjalankan tugas sebagai pen- didik, pembimbing, pengajar dan pelatih siswa. Siswa adalah anak atau remaja yang sedang belajar, sedang mengikuti dan menyesuai- kan diri dengan segala aktivitas dan tuntutan yang dibuat oleh guru. Interaksi pendidikan mempunyai suatu ciri dan fungsi khu- sus, yaitu bersifat dan berfungsi membantu perkembangan siswa.


Dalam interaksi pendidikan, guru memberikan sejumlah bahan ajaran atau latihan melalui penggunaan metode tertentu dan dengan dukungan buku sumber dan alat-alat bantu pelajaran tertentu pula. Penyiapan bahan ajaran, bahan latihan, pemilihan metode, sumber dan alat-alat bantu pelajaran serta penciptaan interaksi belajar-mengajar, hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa yang akan menerimanya atau mempelajarinya. 

Hal-hal di atas dapat dilakukan apabila guru mempunyai pemahaman yang mendalam dan menyeluruh tentang perkemba ngan serta kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa, baik kemampuan fisik, intelektual, sosial, maupun emosional.


Interaksi pendidikan tidak terjadi dalam ruang hampa, tetapi berlangsung dalam lingkungan tertentu yaitu lingkungan pendidikan. Ada tiga macam lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan rumah yang sering disebut sebagai lingkungan pertama, lingkungan sekolah sebagai lingkungan kedua, dan lingkungan masyarakat atau lingkungan ketiga. Interaksi pendidikan yang berlangsung sekolah berada dan dipengaruhi oleh lingkungan sekolah, tetap lingkungan rumah dan masyarakat tetap mempunyai pengaruh walaupun tidak secara langsung.


Interaksi pendidikan yang berlangsung di sekolah telah direnca nakan dengan sistematis dan teliti dalam suatu kurikulum. Karena adanya perencanaan yang demikian itulah, maka interaksi pendidikan di sekolah disebut sebagai interaksi pendidikan format. Interaksi pendidikan di rumah dan masyarakat disebut pendidikan informal dan non formal. Guru sebagai pendidik atau pengajar formal di sekolah tidak hanya dituntut memahami perkembangan dan kemampuan siswa, tetapi dituntut memahami seluruh situasi pendidikan.


Situasi pendidikan merupakan interaksi antara guru dengan siswa dalam upaya guru membantu perkembangan siswa mencapai tujuan-tujuan tertentu, dengan berpedoman kepada kurikulum, dan berlangsung dalam suatu lingkungan tertentu. Jadi ada beberapa komponen yang terlibat secara langsung dalam situasi pendidikan yaitu siswa, guru, kurikulum, lingkungan pendidikan serta sarana dan prasarana pendidikan yang ada dalam lingkungan tersebut, di samping komponen lain yang tidak terlibat secara langsung seperti lingkungan keluarga dan masyarakat. Guru dituntut dapat memahami semua komponen tersebut serta memahami hubungan fungsional di antara komponen-komponen tersebut.


Pemahaman situasi pendidikan bukan menjadi satu-satunya tujuan dari studi tentang Landasan Psikologis Proses Pendidikan. Dengan bekal pemahaman yang mendalam dan menyeluruh tentang hal ini, guru-guru diharapkan dapat menyiapkan dan melaksanakan pengajaran dengan lebih baik, mampu memberikan bimbingan yang lebih tepat, terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam memberikan perlakuan pendidikan. 

Apabila dirangkumkan, ada dua tujuan utama dari studi tentang Landasan Paikologis Proses Pendidikan.   

  Pertama, agar para guru, para pendidik atau calon guru dan calon pendidik mempunyai pemahaman yang lebih baik tentang situasi pendidikan. 

  Kedua, agar para guru, pendidik atau calon guru, calon pendidik mampu menyiapkan dan melaksanakan pengajaran dan bimbingan terhadap siswa, peserta didik dengan lebih baik. Dengan kedua bekal tersebut diharapkan guru, pendidik dapat membantu siswa, peserta didik dalam mencapai perkembangan yang setinggi-tingginya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.


🌷Ruang Lingkup Landasan Psikologis Proses Pendidikan


Landasan Psikologis Proses Pendidikan mempelajari situasi pendidikan dengan fokus utama interaksi pendidikan, yaitu interaksi antara siswa dengan guru, yang berlangsung dalam suatu lingkungan, Siswa menduduki tempat yang paling utama dalam interaksi ini. Seluruh kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimilikinya setinggi-tingginya. Sehubungan dengan hal itu, maka hal-hal yang berkenaan dengan perkem- bangan, potensi dan kecakapan, dinamika perilaku serta kegiatan siswa terutama perilaku belajar menjadi kajian utama dalam landasan psikologis proses pendidikan.

  

  Guru sebagai orang pertama yang terlibat langsung dalam interaksi pendidikan dengan siswa, menduduki tempat selanjutnya dalam interaksi ini. Berbagai bentuk aktivitas mendidik, mengajar, melatih dan membimbing yang dilakukan guru, tuntutan kemam- puan profesional serta latar belakang sosial pribadi dari guru menjadi bahan studi selanjutnya dalam landasan psikologis pendidikan. Ketiga lingkungan pendidikan, yaitu sekolah yang terlibat langsung dalam interaksi pendidikan, keluarga yang mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan siswa, dan masyarakat yang walaupun tidak terlibat secara langsung dalam interaksi belajar-mengajar di sekolah tetapi mempunyai peranan yang cukup besar, juga menjadi bahan kajian yang cukup penting dalam landasan psikologis proses pendidikan.




Postingan populer dari blog ini

TUGAS BAHASA INDONESIA UT

Soal nomor 1:  Kedudukan Bahasa Indonesia: Bahasa Nasional dan Bahasa Negara Bahasa Indonesia memiliki dua kedudukan penting yang sering kali dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna dan fungsi yang berbeda satu sama lain. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bersifat sosiologis dan emosional, yakni berkaitan erat dengan identitas dan semangat pemersatu bangsa. Kedudukan ini tidak lahir dari sebuah undang-undang, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif para pemuda Indonesia yang diikrarkan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 . Sejak saat itulah bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa persatuan seluruh rakyat Indonesia. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mengemban empat fungsi utama. Pertama, ia berperan sebagai lambang kebanggaan nasional yang mencerminkan nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa. Kedua, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional yang menjadi ciri k...

DRAFT TUGAS ARTIKEL ILMIAH PPKN UT

Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab 📚 Pendahuluan Demokrasi di Indonesia adalah amanat konstitusional yang berlandaskan pada Pancasila. Namun, praktik demokrasi yang ideal tidak hanya diukur dari aspek prosedural, seperti pemilihan umum, melainkan dari kualitas keberadaban warganya dalam berinteraksi politik dan sosial. Demokrasi yang beradab (civilized democracy) menuntut adanya etika, moralitas, toleransi, dan tanggung jawab yang tinggi dari setiap individu (Al-khansa & Dewi, 2021). Sejak era reformasi, Indonesia menghadapi tantangan serius terhadap kualitas keberadaban ini. Reformasi, yang awalnya membawa euforia kebebasan, ironisnya turut menciptakan masalah baru seperti peningkatan korupsi, vandalisme, dan yang paling krusial, hilangnya karakter bangsa yang dulunya dikenal santun dan berbudaya (Rahardjo, 2010). Krisis karakter ini secara langsung mengancam fondasi demokrasi yang sehat. Fenomena ini menunjukkan adanya kelemahan dalam proses pembentukan karakt...

CHAT RANDOM PAK KETU

 [2/5 11:48 AM] +62 856-4843-2105: tadi ngga jadi maju soalnya kamu gaada [2/5 11:48 AM] +62 856-4843-2105: diundur minggu depan kelompok kita [8/5 6:40 PM] Elzandra Angelynora: Besok jadi online jam berapa kak.. aku barusan masuk grup info soalnya [8/5 6:56 PM] +62 856-4843-2105: kenapa kok keluar grup? [8/5 7:24 PM] Elzandra Angelynora: Yg grup informasi psi.a1 itu kan aku barusan masuk kak.. jadi nggak tau infonya. Kemarin semua grup kelas aku keluar soalnya kan kebanyakan grup dan kemarin nggak tau tiba-tiba jengkel sama anak-anak, nggak tau kenapa. [8/5 7:30 PM] +62 856-4843-2105: usia udah kepala 2, harusnya udah bisa ngontrol emosi lebih baik [8/5 7:31 PM] +62 856-4843-2105: besok online jam 1 siang [8/5 7:40 PM] Elzandra Angelynora: Iya kak.. pelan-pelan berusaha gitu, cuma kan karena efek PMS jadi tiba-tiba kayak gitu. Kalau bukan karena PMS nggak mungkin aku jengkel sama anak-anak secara tiba-tiba tanpa ada sebab yg jelas. [8/5 8:15 PM] +62 856-4843-2105: oalah [8/5 8:15 ...