Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan resiliensi pada
ibu siswa anak tunarungu sekolah dasar di slb negeri kota semarang. Hal ini sesuaidengan hipotesis yang telah diajukan yaitu terdapat hubungan positif antara
dukungan sosial dengan resiliensi pada ibu siswa anak tunarungu. Jika tingkat
dukungan sosial yang diperoleh maka akan semakin tinggi resiliensi pada ibu siswa
anak tunarungu sekolah dasar.
Hal ini sesuai dengan pendapat Reivich dan Shatte (dalam Nasution, 2011:
3), menyatakan bahwa dukungan sosial sangat berperan besar dalam resiliensi
seseorang. Dukungan sosial merupakan sumber daya sosial seorang individu
dimana seorang individu mengaandalkan ketika menghadapi masalah tersebut atau
stress (Swarjana, 2021: 120). Hubungan yang terjalin antara dukungan sosial
dengan resiliensi dapat menciptakan dan mempertahankan sikap positif dari dalam
diri seseorang.
Hasil dari uji hipotesis tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
telah dilakukan oleh Asyifa & Yusuf (2017: 994), menyatakan bahwa terdapat
hubungan positif antara dukungan sosial dengan resiliensi pada ibu yang memiliki
anak cerebral palsy di SLB-D YPAC Bandung dengan nilai koefisien korelasi
0.929, yang berarti bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka akan semakin
tinggi pula resiliensi ibu. Dalam penelitian Hasanah & Noor (2017: 987),
menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara dukungan
sosial dengan resiliensi, artinya semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh
ibu, maka semakin tinggi pula resiliensi yang diterima oleh ibu yang memiliki anak
tunaganda di SLB-G YBMU Baleendah.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Reivich & Shatte (dalam Nasution,
2011:28), yang menyatakan bahwa ketika mengalami trauma, dukungan sosial
memiliki fungsi untuk menurunkan distres psikologis dan menolong manusia untuk
bangkit dari peristiwa yang mengancam dan menghentikan situasi tersebut.
Dukungan sosial adalah salah satu unsur yang memiliki peran besar pada respons
individu, sehingga dukungan sosial memiliki peran besar dalam resiliensi
seseorang.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh Mean Empirik pada
variabel resiliensi penelitian ini adalah 66,60 dan Mean Hipotetik 50 dengan
Standar Deviasi Hipotetik 10, maka dapat diperoleh Mean Empirik variabel
resiliensi pada area +1SD hingga +2SD berada dengan kategori tinggi, sehingga
diketahui bahwa resiliensi pada ibu siswa sekolah dasar anak tunarungu tinggi.
Tingkat resiliensi yang tergolong tinggi bisa disebabkan karena mampu memahami
emosi yang sedang dirasakan dan mampu mengatasi masalah yang sedang dialami.
Pada variabel dukungan sosial diperoleh Mean Empirik 81,0 dengan Mean
Hipotetik 60 dan Standar Deviasi Hipotetik pada variabel dukungan sosial adalah
12, sehingga diperoleh Mean Empirik variabel dukungan sosial berada area +1SD
hingga +2SD kategori tinggi, sehingga hal ini menunjukkan bahwa tingkat
dukungan sosial pada resiliensi ibu siswa sekolah dasar anak tunarungu di SLB
Negeri Semarang tinggi. Dukungan sosial ini diperoleh dari suami, keluarga, atau
masyarakat yang saling memberikan dukungan informatif seperti memberikan
saran atau masukan yang baik kepada ibu anak tunarungu.
Hal ini bermakna bahwa tingginya dukungan sosial yang diperoleh ibu siswa
anak tunarungu berpengaruh pada tingginya resiliensi pada ibu siswa anak
tunarungu dan sebaliknya yaitu rendahnya dukungan sosial maka resiliensi rendah,
hal ini menunjukan bahwa ada hubungan positif dukungan sosial dengan resiliensi,
sehingga penelitian ini sejalan dengan Reivich dan Shatte (dalam Nasution, 2011:
28) bahwa ketika megalami trauma, dukungan sosial berfungsi untuk menurunkan
distress psikologis dan menolong manusia untuk bangkit dari peristiwa tersebut.
Hal ini diperkuat dengan hasil analisis menunjukkan nilai koefisien determinasi R2
sebesar 0,526, hasil tersebut menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan
sumbangan efektif pada resiliensi ibu siswa sekolah dasar anak tunarungu di SLB
Negeri Semarang sebesar 27,67% dengan sisanya sebesar 72,33% berasal dari
faktor lain yang dapat mempengaruhi resiliensi pada ibu siswa anak tunarungu
sekolah dasar di SLB Negeri Semarang.