Langsung ke konten utama

TRANSKRIP WAWANCARA IBUNYA VIKA

 9 menit pertama


Pewawancara 1: "Bagaimana cara Anda menunjukkan empati terhadap pengalaman dan perasaan anak Anda sebagai seorang anak tunarungu?"

Narasumber: "Memberikan semangat, motivasi, terinspirasi dari anaknya artis yang tunarungu yang sekolah di Amerika itu. Memberi motivasi, harus semangat harus mau maju. Dari saya.. keluarga, itu tante-tante nya memberikan dukungan."

Pewawancara 1: "Apakah anak anda pernah merasakan kondisi emosi negatif seperti merasa frustasi/stress?" 

Narasumber: "Pernah. Pertama itu kan dia ndak bisa bicara, teman-temannya ngomong pakai bahasa Jawa dia nggak bisa bahasa Jawa, full pakai bahasa Indonesia. Itu dia dijauhi. Jadi kayak merasa dibully anaknya itu. Dari SMP keluhannya gitu.. dijauhi, dibully. Dari SMP sampai SMA. Stres."

Pewawancara 1: "Kalau SD pernah?"

Narasumber: "Kalau SD ndak separah pas SMP SMA. Pas SMP SMA itu agak lumayan. Sampai sekarang ini kuliah nggak ada temannya. Dia kalau cerita itu kayak merasa dijauhi teman-temannya, gini-gini, nggak papa semangat. Kamu harus maju, harus berkembang.  Gak papa meskipun gak punya teman, cari teman satu yang baik gitu." 

Pewawancara 1: "Kalau dia stres gitu.. pernah cerita ke ibu nggak?"

Narasumber: "Ya pernah, kadang curhat ke saya, kadang ke tante nya." 

Pewawancara 1: "Tante nya itu.. nyuwun sewu.. adik dari jenengan apa dari bapak?" 

Narasumber: "Dari bapak." 

Pewawancara 1: "Mau tanya bu, tentang kondisinya mbak Vika ini.. Ibu punya nggak kayak hambatan gitu.. kayak, pengen sesuatu tapi nggak bisa, kayak pengen maju tapi nggak bisa gitu. Pernah ndak ngalamin hambatan kayak gitu, misal karena biaya atau karena apa gitu. Bisa diceritakan. "

Narasumber: "Ya karena biaya." 

Pewawancara 1: "Biaya.. bisa diceritakan gitu, biaya kuliah apa biaya pengobatan mungkin." 

Narasumber: "Ya dicari-carikan.. kayak biaya pengobatan itu kan hanya untuk menservis alat-alatnya.. sampai beli alatnya sama baterainya, itu biaya, biaya sendiri.  Pakai ABD." 

Pewawancara 1: "Oh. Jadi sekarang ini pakai ABD? Mahal?" 

Narasumber: "Mahal. Macam-macam. Kalau yang lebih mahal itu ada yang 11 juta, 1 biji 11 juta.. ada yang 5 juta. Ada yang 7 juta. Lihat mereknya." 

Pewawancara 1: "Yang dipakai mbak Vika itu." 

Narasumber: "Merek nya supersonic sama  apa ya.." 

Pewawancara 1: "Sampai berapa itu." 

Narasumber: "Itu 11 juta.. tapi ada promo, diskon 25% itu satunya. Terus yang satunya itu 6 juta, itu biaya sendiri." 

Pewawancara 1: "Itu diskon dari tokonya ya?" 

Narasumber: "Iya." 

Pewawancara 2: "Ini mbak Vika ini tergolong hambatan pendengaran sedang atau berat?" 

Narasumber: "Sedang" 

Pewawancara 1: "Tadi kan Ibu sampaikan tentang hambatan biaya itu. Itu gimana, Ibu kerja atau gimana?" 

Narasumber: "Dirumah." 

Pewawancara 1: "Oh berarti kalau sama Ibu masih bisa ketemu, kalau hambatan lainnya?" 

Narasumber: "Kalau pas ngobrol itu sering berantem, saya ngomongnya A dia ngomongnya B. Salah paham jadi berantem. Itu hambatannya, komunikasi. Kalau saya suaranya keras, dia lebih keras lagi, marah-marah. Ya udah saya diam wes. 🙂🙂 kalau dipanggil nggak pakai alat nggak dengar. Sudah capek-capek, nggak dengar. 🙂🙂

Pewawancara 3: "Salah tangkap gitu ya." 

Pewawancara 1: "Oh. Berarti kalau nggak pakai alat bantu dengar mbak Vika ini masih bisa sedikit mendengar." 

Narasumber: "Kalau suara keras bisa kalau suara pelan nggak denger, kalau dipanggil nggak noleh blas." 

Pewawancara 1: "Oke,oke,oke. Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana cara anda membantu anak anda untuk merasa diakui dan diterima sebagai individu yang berada dalam hubungan keluarga maupun lingkungan sekitar?" 

Narasumber: "Hmm.. gimana yaa.. di masyarakat gitu ya maksudnya. Hmm.. dia itu saya suruh ikut IPM, tapi dia nggak mau." 

Pewawancara 1: "Oh.. dari sekolah muhammadiyah?" 

Narasumber: "Iya. Dulu itu saya suruh ikut IPM.. tapi dia nggak mau. Soalnya kan itu nggak pernah ikut arisan, itu kan harus bayar. Nah makanya itu dia nggak mau, terus dia saya suruh keluar ikut organisasi sana loh. Tapi dia nggak mau. Ya sudah terserah dia." 

Pewawancara 1: "Padahal setiap usaha ya, tapi dianya nggak mau. Nah itu kan kalau di masyarakat, kalau di keluarga gimana?" 

Narasumber: "Ya itu tadi.. komnunikasi." 

Pewawancara 1: "Kalau bapaknya masih ada?" 

Narasumber: "Ada" 


Keterangan: 

-Pewawancara 1: Kak Ilhaam Nazhir Akbar

-Pewawancara 2: (Nona) Rizky Amanda Febrianty

-Pewawancara 3: Kak Mohammad Hijriyansyah

-Narasumber: Ibunya Vika (Ibu Luluk Ma'rufah) 

-













Postingan populer dari blog ini

TUGAS BAHASA INDONESIA UT

Soal nomor 1:  Kedudukan Bahasa Indonesia: Bahasa Nasional dan Bahasa Negara Bahasa Indonesia memiliki dua kedudukan penting yang sering kali dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna dan fungsi yang berbeda satu sama lain. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional bersifat sosiologis dan emosional, yakni berkaitan erat dengan identitas dan semangat pemersatu bangsa. Kedudukan ini tidak lahir dari sebuah undang-undang, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif para pemuda Indonesia yang diikrarkan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 . Sejak saat itulah bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa persatuan seluruh rakyat Indonesia. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mengemban empat fungsi utama. Pertama, ia berperan sebagai lambang kebanggaan nasional yang mencerminkan nilai-nilai luhur dan jati diri bangsa. Kedua, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional yang menjadi ciri k...

DRAFT TUGAS ARTIKEL ILMIAH PPKN UT

Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab 📚 Pendahuluan Demokrasi di Indonesia adalah amanat konstitusional yang berlandaskan pada Pancasila. Namun, praktik demokrasi yang ideal tidak hanya diukur dari aspek prosedural, seperti pemilihan umum, melainkan dari kualitas keberadaban warganya dalam berinteraksi politik dan sosial. Demokrasi yang beradab (civilized democracy) menuntut adanya etika, moralitas, toleransi, dan tanggung jawab yang tinggi dari setiap individu (Al-khansa & Dewi, 2021). Sejak era reformasi, Indonesia menghadapi tantangan serius terhadap kualitas keberadaban ini. Reformasi, yang awalnya membawa euforia kebebasan, ironisnya turut menciptakan masalah baru seperti peningkatan korupsi, vandalisme, dan yang paling krusial, hilangnya karakter bangsa yang dulunya dikenal santun dan berbudaya (Rahardjo, 2010). Krisis karakter ini secara langsung mengancam fondasi demokrasi yang sehat. Fenomena ini menunjukkan adanya kelemahan dalam proses pembentukan karakt...

CHAT RANDOM PAK KETU

 [2/5 11:48 AM] +62 856-4843-2105: tadi ngga jadi maju soalnya kamu gaada [2/5 11:48 AM] +62 856-4843-2105: diundur minggu depan kelompok kita [8/5 6:40 PM] Elzandra Angelynora: Besok jadi online jam berapa kak.. aku barusan masuk grup info soalnya [8/5 6:56 PM] +62 856-4843-2105: kenapa kok keluar grup? [8/5 7:24 PM] Elzandra Angelynora: Yg grup informasi psi.a1 itu kan aku barusan masuk kak.. jadi nggak tau infonya. Kemarin semua grup kelas aku keluar soalnya kan kebanyakan grup dan kemarin nggak tau tiba-tiba jengkel sama anak-anak, nggak tau kenapa. [8/5 7:30 PM] +62 856-4843-2105: usia udah kepala 2, harusnya udah bisa ngontrol emosi lebih baik [8/5 7:31 PM] +62 856-4843-2105: besok online jam 1 siang [8/5 7:40 PM] Elzandra Angelynora: Iya kak.. pelan-pelan berusaha gitu, cuma kan karena efek PMS jadi tiba-tiba kayak gitu. Kalau bukan karena PMS nggak mungkin aku jengkel sama anak-anak secara tiba-tiba tanpa ada sebab yg jelas. [8/5 8:15 PM] +62 856-4843-2105: oalah [8/5 8:15 ...